KEPERGIAN YANG MEMBAWA DUKA MENDALAM
Kemarin (31/8) warga RW 14 berduka cita mendalam dengan kepergian untuk selama-lamanya ibu kita, Ibu Hj. Juliati, ibu RW yang pertama, isteri Bapak Nirwan Hakim, RW pertama bagi warga RW 14, . Rasa duka yang mendalam itu begitu terasa manakala ingatan kita berkhidmat pada sosok yang belum begitu kelihatan sepuh namun memberikan kesejukan di setiap pembicaraan pada setiap kesempatan pertemuan dan pergaulan dengannya. Ibu bagi tiga putera yang masih lajang ini berpulang ke hadirat Illahi dalam sebuah kecelakaan di "jalan rusak" Gaperi. Kronologis Kejadian Sebagaimana biasanya, setiap pagi Ibu Nirwan ini diantar oleh sang suami ke Stasiun Bojonggede untuk berangkat ke kantor dengan kereta api. Pagi itu, jalanan yang memang sudah parah rusaknya tambah kian semrawut dengan mulai didatangkannya batu split sebagai material perbaikan jalan. Kesemrawutan itu terlihat khususnya untuk lokasi jalan selepas jembatan Kali Ciliwung di Gaperi I. Tidak ada firasat apapun yang dirasakan keluarga Pak Nirwan di malam-malam sebelumnya maupun di pagi hari itu. "Bulan-bulan terakhir sejak sebelum Ramadhan almarhumah melakukan shalat tahajud, shalat subuh, dan baca Al-Qur'an. Yang demikian itu dilakukannya secara rutin sampai Ramadhan ini", kenang Pak Nirwan di pembaringan di RSUD Cibinong yang sore itu rencananya diadakan tindakan operasi atas kakinya yang kemungkinan mengalami retak / patah. Berboncengan motor berdua dengan sang suami, sampailah di jalan menanjak selepas melewati Jembatan Ciliwung. Di depan terlihat truk pengangkut material jalan terseok-seok. Dari arah belakang terlihat Kijang Innova yang ternyata adalah kawan dari sang ibu. "Pak, biarkan mobil kijang itu mendahului kita, ambillah ke kiri jalan", kata Pak Nirwan menirukan ucapan sang isteri saat sebelum kejadian. Pemberian jalan itu dimaksudkan agar mobil kijang tersebut dapat mendahului truk yang ada di depannya yang kelihatan berjalan merayap. Dan suami isteri yang berboncengan itu mengalah mengambil jalan sebelah kiri dan berada persis di belakang truk. Kijang berhasil melewati truk itu dan kendaraan-kendaraan serta motor berjalan merayap beriringan karena kondisi jalan yang rusak sudah cukup parah itu. Sampailah di tikungan pertigaan. Dengan beberapa tumpukan batu split yang sudah dibongkar sebelumnya jadilah jalan itu menjadi sangat sempit sehingga praktis badan jalan menjadi sebagian jalur saja yang bisa dilewati. Truk mulai "ngos-ngosan" saat menanjak setelah jalan menikung sebelumnya. Dan, tak disangka oleh Bapak-Ibu Nirwan itu, truk tidak kuat lagi berjalan, sementara di belakang sudah mendekat angkot 31 jurusan Stasiun Bojonggede. "Braaak, kreeeesss ...". Pak Nirwan yang tetap memegangi motornya rubuh dengan kaki terimpit motor yang terlindas truk. Sementara sang ibu yang masih terkaget-kaget dengan truk yang "merosot" itu tidak mampu bereaksi saat bak truk menimpa kepalanya. Beliau tersungkur dengan bersimbah darah. Tidak banyak warga yang ada di sekitar itu selain sopir angkot dan beberapa penumpangnya. Kijang yang masih belum beranjak jauh masih melihat kejadian itu dan oleh warga yang menolong diminta untuk membawa korban ke rumah sakit terdekat. Kejadian berlangsung sekitar jam 8:15. Keduanya dibawa ke UGD RSUD Cibinong. Pak Nirwan yang terluka di kakinya telah lebih dulu ditangani di Ruang Bougenville sementara Ibu Nirwan masih dalam penanganan UGD. Selang beberapa saat kemudian suster memberitahukan Pak Nirwan di ruangan rawat itu bahwa Ibu telah tiada, "inna lillaahi wa inna ilaihi roji'uun". Bahwa, sesungguhnya dari Allah segala sesuatu berasal dan kepada Allahlah segala sesuatu kembali. Selamat jalan isteri tercinta, selamat jalan ibunda tercinta!" Jalan yang Memakan Korban? Sebagaimana bentuk musibah yang lain, apapun itu, setiap musibah tidak bisa dengan serta merta dilogikakan dengan kalimat bersyarat, "seandainya ........". Seandainya Pemda dan developer tidak lempar-lemparan tanggung jawab, seandainya proses pengerjaannya dilakukan sedini mungkin sebelum kondisi parah, seandainya warga tidak perlu memasang spanduk protes, seandainya ....... seandainya ......... Dan pengandaian yang lainnya lagi. Namun demikian, masih ada aspek lain yang patut dipertanyakan ada apa dengan kinerja Pemda, posisi developer, dan juga kontraktor yang akan memperbaiki nanti. Yang terakhir ini, apakah dia telah bekerja profesional? Pertanyaan ini patut disampaikan oleh kita meskipun keluarga korban telah mengikhlaskan kejadian kecelakaan itu. Dari sisi lain, masih saja dijumpai faktor keselamatan dikesampingkan semisal mengedrop material di siang hari. Dan pada kejadian itu : di saat jalanan lalu-lalang dipenuhi baik para komuter yang memanfaatkan jasa kereta api di Bojonggede maupun para pekerja yang berasal dari Bojonggede, Kedung Waringin dan sebagainya yang bekerja di sekitar Cibinong - Citeureup maupun Bogor dan sekitarnya yang melalui Gaperi. Selamat jalan Bunda! Kita semua berduka, terlebih setiap warga di lingkungan RW 14 BDB-2. Tak ada kata yang paling pantas untuk dikatakan selain ucapan Selamat Jalan. Semoga Allah berkenan atas amal ibadahnya termasuk ibadah dalam menuju karunia Allah (bekerja). Semoga Allah memasukkannya ke dalam golongan mujahiddin. Kepergiannya di hari baik pagi Senin legi, semoga membawa kebaikan pula di sisi Allah SWT. Ya Allah, ampunilah khilaf-salahnya. Berilah ketabahan dan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkannya. Sesungguhnya kita ini kepunyaan Allah dan kepadaNyalah kita akan kembali. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kita akan menghadap. Ya Allah, ya Tuhanku! Catatkanlah dia di sisi Engkau antara orang-orang yang baik, dan jadikanlah catatan amalannya dalam golongan orang-orang yang di tingkat tinggi, dan gantikanlah apa yang baik bagi kaum keluarganya yang ditinggalkan, dan janganlah Engkau haramkan kami dari pahalanya dan jangan Engkau memfitnahi kami sesudah kepergiannya! Amin, amin, ya Robbal 'Aalamin. Jaeroni Setyadhi Warga RW 14, BDB-2, Blok DK-06
<<clip_image001.jpg>>
