Assalaamualaikum Wr Wb

Berikut tulisan (surat) Emha untuk JIL

Bagi yg sdh baca maaf ya, yg belum baca silakan di baca..... 


Date: 2011/3/9
Subject: <JIL> Saya Anti Demokrasi, Tulisan Emha ini menarik
To: [email protected]





 Saya "Anti" Demokrasi

 oleh : Emha Ainun Nadjib.

 Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan
 Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya
 diktator mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang
 mayoritas bukan yang selain Islam – harus mengalah dan wajib kalah.
 Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan
 mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya
 Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar
 namaya.

 Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina
 banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak,
 yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350
 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan
 adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen.
 Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika
 Serikat lah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti
 adalah Islam.

 “Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan
 setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang
 kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan
 Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus
 menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.

 Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh
 peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang
 membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas
 kesunyatan Islam.

 Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan
 previlese dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca
 Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan
 dengan menilai dari sudut pandang mereka. Maka kalau penghuni peradaban
 global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap
 Qur’an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi
 karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di
 berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai,
 sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

 Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang
 karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki
 wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai
 Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa
 lagi. Seorang teman menyapa: “Banyak nuansa Arabnya ya ? Mbok lain kali
 bikin yang etnis ‘gitu…”

 Lho kok Arab bukan etnis?

 Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak
 diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama
 kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi
 bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.

 Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil
 nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer
 kasidah “Yarim Wadi-sakib…”, itu universal namanya. Bahasa jelasnya
 begini: apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak
 universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik
 dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.

 Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang
 ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam,
 telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas
 Islam telah mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat
 Islam. Kecurangn atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan
 diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat
 menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan
 dan tak ada kompetitornya. “Al-Islamu mahjubun bil-muslimin”.

 Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri.
 Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam itu, kalau pada suatu
 momentum menemukan titik bocor – maka akan meledak. Pemerintah
 Indonesia kayaknya harus segera merevisi metoda dan strategi penanganan
 antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan ‘sidang pleno’ yang
 transparan, berhati jernih dan berfikiran adil. Sebab kalau tidak,
 berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di
 masa depan.

 On twitter: @mukhlisyusuf

 Looking for more credible news? click the Indonesian News Portal,
 antaranews.com

 [Non-text portions of this message have been removed]


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kirim email ke