Terima kasih teman Haryanto dan teman Alex, sekali lagi kam sudah meluruskan. Kalau di kampung saya maka kam disebut "anak raja" ini sebenarnya hanya istilah bagi mereka yang mengutamakan kesantunan. Saya mengerti bahwa teman Haryanto tidak berani berbahasa Karo karena takut salah yang dapat merusak kesantunan.Saya punya pengalaman mengenai bahasa, sewaktu saya pernah ditunjuk sebagai perwira piket di Hilton karena banyak tamu negara.Ada satu orang petugas dari unit lain (bukan orang Karo) , mungkin membaca papan nama didada saya ada marganya, dia ngomong dengan akrab mencoba berbahasa Karo: "Akupun kuatteh me cakap Karo,ersikap me aku bercakap, lang bo janggal, ko banci bercakap ras aku" (maksudnya: akupe kuetteh nge cakap Karo, sikap nge aku ngerana, labo janggal, kam bancinge ngerana ras aku). Lucu, katanya tau dan lancar tapi nyatanya berantakan. Tapi saya tetap acungkan jempol karena dia berani mencoba dengan kemampuan yang minim. Makanya benar itu teori Johari Window, type manusia yang terbagi dalam empat kotak. Kita berada disalah satu kotak tsb. Mengenai cerita pengalaman teman Haryanto, saya kira tidak ada kesan untuk menyombongkan diri. Menurut saya tujuannya adalah "sharing" untuk memperluas wawasan sesuai describsi InfoKaro. Banyak hal-hal positip diluar sana yang bisa kita ambil.Mungkin masalah industri wisata, masalah tata tertib dsb.Seperti di Taiwan tempatnya teman Haryanto, yang saya lihat disana (di Taipe) bagaimana mereka menjaga kebersihan sehingga bus-bus yang mau masuk kekota harus dibersihkan/ disemprot semua bannya ditempat yang telah disiapkan. Ini kan contoh yang positip.
Sekian dan salam kemajuan berpikir.
