sumber: http://kompas.com/kompas-cetak/0512/10/Sosok/2271214.htm


 Murjiyo, Petani Organik 
 
Irma Tambunan
  Murjiyo (63) sungguh tak menyangka. Dari usaha sederhana memurnikan lima 
kilogram benih padi menthik wangi, kini ratusan hektar lahan di berbagai daerah 
telah ditanami padi organik. Akhirnya, bumi kita dapat bernapas sedikit lebih 
lega.
  Tahun 1980 merupakan tahun yang berat bagi Murjiyo, petani di Dusun Paten, 
Sumberagung, Jetis, Bantul, DIY. Didasari keinginan untuk menyelamatkan tanah, 
Murjiyo merombak kembali sistem olah tanam. Sistem baru ini ia namai ”kembali 
ke cara nenek moyang kita”.
  Selama dua minggu menjelang masa tanam, ia membawa kotoran sapi basah, 
setumpuk jerami, dan dedaunan ke sawah, campuran itu diaduk pada lahan basah 
dengan bajak. Ia membajak sawah hingga dua tahapan sehingga campuran 
bahan-bahan tersebut berproses membusuk selama 14 hari.
  Warga setempat sempat menyebut Murjiyo orang aneh karena memasukkan kotoran 
ternak dan jerami ke lahannya. Namun, ia hanya diam.
  Lima kilogram padi menthik wangi, yang dibeli dari seorang petani di Sleman, 
ditanamnya pada lahan itu.
  Hasil panen perdana memang tak sebanyak saat Murjiyo masih memanfaatkan pupuk 
urea. Pada keluasan satu hektar, hasilnya hanya empat ton gabah, atau 1,3 ton 
lebih sedikit dibanding hasil panen terdahulu.
  Namun, pada masa tanam berikutnya, Murjiyo menyaksikan perubahan pada alam. 
Tanah yang merah dan keras itu berangsur lebih hitam dan lembut. ”Ahh... ini 
berarti kandungan humus di tanah mulai bertambah. Struktur tanah yang semula 
telah kembali,” ujarnya antusias.
  Murjiyo makin semangat bertanam dengan bahan-bahan alami. Tak hanya kotoran 
sapi dan jerami, berbagai jenis tumbuhan lain pun dibawanya ke sawah sebagai 
racikan pupuk alami. ”Saya sampai dibilang gila karena membawa segala macam 
tumbuhan ke sawah, seperti orang yang putus asa karena hasil panennya hanya 
sedikit,” ujarnya.
  Menjelang tahun 1990 hasil panennya terus meningkat hingga 5,5 ton per hektar 
atau melampaui hasil panen anorganik saat itu yang rata-rata 5,3 ton per 
hektar. Bahkan, saat ini hasil panennya rata-rata 5,8 ton per hektar.
  Mandiri
  Hasil yang dicapai Murjiyo sedikit banyak menumbuhkan kesadaran di kalangan 
petani memperjuangkan hak kemandirian dan kemerdekaan petani, khususnya dalam 
menentukan nilai jual gabah. Menurut Murjiyo, petani organik berhasil 
melepaskan diri dari ketergantungan pada pasar. Kualitas gabah organik sangat 
baik sehingga petani memiliki posisi tawar yang tinggi terhadap pembeli.
  Meski saat ini harga beras organik semakin mahal, konsumen tidak berkurang. 
Harga beras rojolele sudah naik dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.500 per kilogram.
  Tak hanya pupuk, pembasmi hama dan penyakit dibuat dari tumbuhan dan kotoran 
hewan. Hingga kini, Murjiyo berhasil menciptakan 87 resep pembasmi hama dan 
penyakit, serta 16 resep pupuk kompos, pupuk cair, dan perangsang tumbuh. 
Semuanya berbahan alami dan dibantu proses pembusukan dengan biolahang, yaitu 
campuran air nira dan cacahan batang pisang.
  Sebanyak 13 varietas benih padi organik jenis lokal juga berhasil dikumpulkan 
Murjiyo lewat pencarian ke berbagai daerah, antara lain rojolele, rening, 
dusel, andelabang, andelrantai, sampangantal, sirendah, jago, superwin, dan 
mayangsari.
  Baru-baru ini wilayahnya ditanami 48 varietas benih padi organik lokal atas 
kerja sama dengan Retoe Boemi, beranggotakan para mahasiswa. Benih-benih ini 
lalu ditangkar dan sebagian hasilnya disebar ke petani lain untuk ditanami. 
Berbekal kerja sama dengan komunitas mahasiswa pertanian dan paguyuban petani 
pemandu, sebanyak 48 varietas padi lokal kini ditangkar di desanya.
  ”Januari nanti, koleksi padi lokal di sini akan bertambah 25 varietas lagi, 
didatangkan dari Kalimantan Barat,” tutur suami Legiyem (58), dan ayah dari Eko 
Purwadi (37), Rahmat Nurdianto (35), dan Didi Krismianto (33).
  Berbagi
  Di Bantul, setidaknya minimal 100 hektar lahan telah ditanami padi organik 
murni. Banyak petani, kalangan akademisi, maupun kalangan dinas pertanian dari 
luar daerah mendatanginya untuk studi banding.
  Murjiyo tanpa enggan membagi benih padi dan resep pupuk dan pembasmi hama 
organik bagi siapa saja yang mau bertanam organik.
  Sebagian lahan pertanian di Kalimantan Barat kini telah menerapkan pertanian 
organik. Begitu pula di wilayah Lampung, Sumatera Utara, Jombang, Trenggalek, 
Tulungagung, Kebumen, Lombok, Sragen, Sukoharjo, dan Karanganyar, mulai 
dikembangkan menjadi lahan yang dipulihkan. Mereka semua belajar dari Murjiyo 
dengan datang ke tempat petani itu atau mengundang dia ke tempat mereka.
  Melalui upayanya menyelamatkan alam, Murjiyo mendapat juara pertama Kalpataru 
Provinsi DIY Tahun 2003, dan Peringkat 10 Tingkat Nasional Tahun 2004. Ia 
sendiri masih mengetuai Paguyuban Petani Penangkar Benih Provinsi DIY.
  Katanya, jika kita bisa memulihkan kembali tanah yang subur seperti dahulu, 
kenapa tidak dilakukan. Dan, bumi pun akan bernapas sedikit lebih lega.


Rudy Surbakti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
Saya mohon informasi lebih lanjut ttg tulisan ini terutama untuk poin no. 3, 
saya sgt tertarik pertanian.
 Semoga Kam punya sumber informasinya.
  
 Wassalam,
  
 Rudy Surbakti


 ----- Original Message ----
From: Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, September 21, 2007 1:59:21 PM
Subject: [infokaro] 7 Keajaiban Indonesia Impian

  1. Ditengah krisis kedamaian, NAD menuju kedamaian.

2. Ditengah krisis pendidikan, Jonathan Pradana menjadi juara dunia olimpiade 
fisika tahun 2006.

3. Ditengah krisis pertanian, pak tani Murjiyo (63), petani di Jetis, Bantul, 
DIY menciptakan 87 resep pembasmi hama dan penyakit, serta 16 resep pupuk 
kompos, pupuk cair, dan perangsang tumbuh.

4. Ditengah krisis teknologi informasi, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo PhD (35) 
menciptakan antena satelit setebal 1,6 mm yang tembus pandang. 

5. Ditengah krisis energi listrik, Desa Bomomani, Distrik Mapia, Kabupaten 
Nabire, Papua cukupi energi listrik secara mandiri.

6. Ditengah krisis birokrasi, Kabupaten Jembrana yang tergolong miskin 
membebaskan anak-anaknya dari biaya pendidikan dan masyarakatnya dari biaya 
pelayanan kesehatan.

7. Ditengah krisis kejujuran, Waras (56), warga Siring, Porong Sidoarjo 
mengembalikan kelebihan pembayaran uang muka ganti  rugi sebesar Rp. 429 juta 
ke PT Minarak Lapindo Jaya. 

Sekarang, Giliran kamu ciptakan keajaibanmu! !!
berati gw harus juga yaaahh... hehe



Best Regarts

www.dausmedia. cjb.net
 
 

---------------------------------
 Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, 
news, photos more.  


 



       
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image.   Join our Network Research Panel today! 
     
                               


Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net

       
---------------------------------
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.

Kirim email ke