Mejuah juah kila.

Gelah ula latihsa siakap rukur kerina. mari kita dengarkan kembali Acara HUT 
Moria yang tadi sudah berlangsung, siaran ulang i radiota 

Klik i www.jambur.com/radiokaro

Eddy Surbakti


MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                 
"Sejarahnya para siswa menjadi korban pendidikan sejarah formal yang 
berbeda-beda..." (Shodan Purba)
   
  Siswa jadi korban pendidikan sejarah formal, tuhu-tuhu tuhukel sikataken 
Purba mergana enda. Janah melala ngenda enggo jadi korban, jadi korban masa 
Orba, bagepe jadi korban denga ngayak gundari, sope lenga lit penyusun 
sejarahta si berwibawa janah banci iterima kerina pihak. Kerina pihak ningku 
sebab terpaksa nge siakui ngayak gundari ’kebenaran sejarah’ atau kebenaran 
kaipe umumna tergantung golongan terkuat ibas masyarakat Indonesia, ertina mau 
tak mau terpaksa dipandang dari segi politis atau secara politis, atau dengan 
perkataan lain - siapa yang berkuasa dengan dukungannya yang paling kuat secara 
nasional maupun internasional. "Sebagai contoh, ada sejarawan yg menulis buku 
sejarah dgn tujuan "meluruskan" sejarah Indonesia, termasuk mengenai Gerakan 30 
September.  Pemerintahan Orde Baru dibawah Soeharto dianggap telah memonopoli 
kebenaran. Pada masa itu, tidak ditolerir adanya versi lain mengenai sejarah yg 
sudah digariskan oleh pemerintah." (Simson Gintings). Atau
 bagi situlis BH Tarigan, "Undang-undang telah membuat PKI tersisihkan"
  
 
  Undang-undang dibuat untuk menindas, mengintimidasi atau melenyapkan untuk 
selama-lamanya satu aliran tertentu dalam masyarakat dan masih menamakan pula 
masyarakatnya dengan masyarakat demokratis-pancasilais. "Mereka harus ditumpas 
sampai ke akar-akarnya", salah satu semboyan ’linier’ yang dipakai Orba ketika 
itu. 
   
  Apa yang dibutuhkan siswa-siswa Indonesia sekarang ini ialah adanya semacam 
kebersamaan secara nasional dalam penulisan sejarah Indonesia selama setengah 
abad terakhir terutama masa kegelapan 30 sept penggulingan kekuasaan orla 
Soekarno oleh  orde baru Suharto dibawah lindungan dan bantuan penuh kekuasaan 
asing dalam masa perang dingin. Bahwa nasion Indonesia dengan hasil alamnya 
yang berlimpah dan letaknya yang sangat strategis dalam percaturan politik 
dunia (perang dingin) ketika itu telah menjadi salah satu korbannya, dan 
sekiranya politisi dan sejarawan kita menilai kembali sejarah kita atas dasar 
ini, saya rasa akan sangat membantu untuk lebih objektif menuliskan kembali 
sejarah Indonesia sehingga tidak lagi membingungkan bagi generasi muda kita. 
   
  Bahwa 3 juta rakyat dibantai (menurut jenderal Sarwo Edhie) dalam peristiwa 
30 sept telah menjadi patokan permusuhan utama dan dasar pertentangan utama 
termasuk dalam penyusunan sejarah untuk dapat dihidangkan kepada generasi muda 
bangsa kita. Tetapi apakah kita akan menyusun dua macam sejarah, yang satu 
menurut Orba (yang dipakai selama era Orba, dan anti-komunis, anti aliran 
tertentu dalam  sebuah negara demokratis) dan yang satunya menurut 
tulisan-tulisan baru yang kebanyakan datang dari luar atau dari para korban 
kebengisan Orba. Tentu dengan dua macam buku sejarah ini akan lebih 
membingungkan lagi bagi generasi muda kita. 
   
  Saya katakan bangsa kita telah menjadi korban ketamakan dua penguasa dunia 
ketika itu, perang dingin antara blok barat dan blok timur, atau dpl telah jadi 
korban perkembangan sejarah dunia yang tak terelakkan, perkembangan sejarah 
kemanusiaan seperti halnya korban perbudakan di zaman perbudakan atau korban 
perang dalam perang kemerdekaan. Tiga juta yang dibantai, dan para 
pembantainya, yang pasti juga lebih dari 3 juta, dan semua famili dan sanak 
saudara mereka yang masih ada sampai sekarang, merekalah yang menderita sampai 
sekarang. Merekalah korban langsung secara fisik, secara psikologi atau untuk 
tidak mengatakan sakit jiwa sampai detik ini. Saya katakan bukan  hanya dari 
pihak yang dibantai, tetapi juga mereka dari pihak yang membantai. Tanyakanlah 
kepada mereka ini (pembantai) bagaimana mereka mengingat masa lalu dan 
keinginannya yang sangat berlebihan untuk melupakan tetapi tidak bisa. 
Ketakutan mereka bukan hanya dari balasan Tuhan, tetapi bayangan pembalasan
 dendam yang lebih mengerikan dari ’musuh lama’ yang pasti tidak akan melupakan 
dan menuggu kesempatan kapan saja datang. Manusia Indonesia menyaksikan perang 
etnis di Kalbar, Kalteng, Maluku dsb, seperti tindakan balas dendam suku Dayak 
atas perlakuan tak adil selama puluhan tahun dari pihak pemerintah dan 
pendatang. 
   
  Pihak yang dibantai dan para pembantai di masa Orba adalah korban 
sesungguhnya perang dingin, perang tak terelakkan yang menjadi bagian dari 
sejarah perkembangan kemanusiaan di dunia. Jalan ke pelurusan sejarah kita 
hanya bisa dan hanya mungkin jika kita meninjau dari  segi ini. Dan dari sini 
jugalah kita mungkin memulai rekonsiliasi yang sudah sering didengungkan selama 
ini dan sejak reformasi, tetapi yang sampai sekarang masih diambang pintu, 
karena dasar pemikiran yang dipakai untuk rekonsiliasi tadi masih tidak 
memenuhi, masih sepihak dan tidak dibenarkan pihak lain. 
   
  Manusia zaman informasi (IT) sangat berlainan dengan manusia lama sebelum 
zaman IT. Pengetahuan yang lebih luas ’tak terbatas’ dan kemungkinan pendalaman 
setiap soal, dan setiap orang bisa melakukannya. Suasana ini telah meringankan 
teramat sangat peninjauan kembali soal dan semua soal, dan bagi kita yang 
terutama sejarah tadi dan rekonsiliasi. Kedua soal ini satu sama lain sangat 
erat hubungannya, karena penilaian sejarah yang benar akan mendekatkan kita ke 
rekonsiliasi dan perdamaian. 
   
  Dulu manusia menilai ketidaksamaan,  perbedaan atau kontradiksi dengan jalan 
model "tumpas sampai ke akar-akarnya", atau dengan naluri hewan semata-mata. 
Tetapi sekarang saya rasa sudah tidak perlu terlalu ’linier dan tidak ada 
pilihan’ salin kata BH Tarigan, cocok kuakap, misalnya dalam memandang 
’terrorisme’, bukankah akarnya adalah ketidakadilan yang ditimpakan kepada 
rakyat miskin tertindas? Bagaimana menumpas sampai ke akar-akarnya? 
   
  Kita sudah mungkin keluar dari model lama dalam menganalisa atau 
menyelesaikan soal-soal, karena pengetahuan sudah tidak kurang dan aliran info 
dalam semua soal juga tidak ada kurangnya. 
  Bujur ras mejuah-juah
  MUG
  Swedia, 20 okt 2007.
   
   
  --- In [EMAIL PROTECTED], shodan purba  <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Sejarahnya para siswa menjadi korban pendidikan sejarah formal yang 
berbeda-beda...

   
  ----- Original Message ----
From: simson gintings <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, October 18, 2007 9:45:48 PM
Subject: [tanahkaro] Perihal Sejarah

  Konon sejarah dibagi 2, yaitu sejarah sebagai peristiwa yg dialami, dan 
sejarah sebagaimana diceritakan. Seorang pakar mengatakan sejarah merupakan 
dialektika antara masa lampau dengan masa sekarang, dialog yg tidak 
berkesudahan antara sejarawan dengan sumber yg dimilikinya. Implikasinya, 
sejarah bisa direvisi.

Sebagai contoh, ada sejarawan yg menulis buku sejarah dgn tujuan "meluruskan" 
sejarah Indonesia, termasuk mengenai Gerakan 30 September. Pemerintahan  Orde 
Baru dibawah Soeharto dianggap telah memonopoli kebenaran. Pada masa itu, tidak 
ditolerir adanya versi lain mengenai sejarah yg sudah digariskan oleh 
pemerintah. 
  Disitulah kesalahan Soeharto. Ketika dia membuat film ttg pemberontakan G 30 
S PKI, dia tidak mengijinkan pihak lain membuat film dengan topik yg sama dgn 
penafsiran yg berbeda. 
  Adakah yg mutlak dlm sejarah? Tentu tidak. 
  sg
  --
           

---------------------------------
Ta semester! - sök efter resor hos Yahoo! Shopping. 
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum: 
http://shopping.yahoo.se/c-169901-resor-biljetter.html
     
                               

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke