Mejuah-juah Alexander
   
  Kai si tuliskendu enda sangat filosofis kuakap. 
   
  "LABO LIT DUA MANUK SABUGAN SADA LIPO"

  Perumpamaan Karo si postingken Alexander enda menarik kel. Sada perumpamaan 
tua kalak Karo. Enda pasti nge kesimpulan pengalaman kalak Karo nai-nai nari. 
Pengalaman kegeluhen ibas kenyataan hidup, iumpamaken atau isederhanakan arah 
kegeluhen manuk ibas lipo. Perumpamaan enda mendalam janah dialektis, ertina 
kesimpulen kegeluhen manusia janah itarik dari proses segi-segi bertentangan 
dalam kehidupan nyata. Ijenda nenek moyang kalak Karo make manuk jadi contoh, 
gelah filsafat si mbages adah ndai banci i mengerti kalak awam pe, la perlu 
penelitian mbages. Tungkir saja ku lipo. 
   
  Payo kin bagenda manuk bas lipo? Payo, janah mudah dimengerti, karena dapat 
dilihat langsung dengan mata. La lit sabugan bas lipo si la encidahken ukurna. 
Kerina encidahken ukurna, ertina kari apai se menang e me jadi sabugan i lipo. 
Je nari kari lit turah ’tata tertib’ janah kehidupan seluruh lipo banci erdalan 
lumayan. 
  Perlu kin ketertiban ibas kegeluhen manuk bas lipo atau bas kegeluhen manusia 
bas sada negara? 
   
  SBY ras Kalla menam bali ras dua sabugan bas lipo. Lit istana presiden, lit 
ka istana wk presiden. Duana nggurjahi lipo Indonesia. Enggo mbarenda sidah uga 
praktekna i tsunamai Aceh, bagepe uga ngasa gundari. Patutna menurut logika 
biasa adi presiden mate maka wakilna nggantiken sementara (darurat). Tapi la 
kap bage wk presiden atau wk jabatan kai pe i Indonesia. Wakil merasa dirinya 
’sama’ bahkan kadang lebih hebat. Ketertiban ndai lanai lit bas lipo, kerina 
manuk menderita. Sebaiknya semua jabatan wakil dihapuskan, diganti dengan 
’pejabat pengganti kalau berhalangan atau kalau mati’. 
   
  Mulihken kita ku liponta ndai. "LABO LIT DUA MANUK SABUGAN SADA LIPO"
Kai kin maksud nini-nininta nai maka i cidahkenna perumpamaan enda man kalak 
Karo? Uga adi lit dua atau melala sabugan bas sada lipo? Enda me kuakap ndai 
asal usul persoalan atau kebutuhan penyelesaian persoalan yang ada sangkut 
pautnya dengan banyak sabugan disatu tempat, satu "masalah kehidupan" yang 
tidak terhindari dan akan selalu muncul. "Masalah kehidupan" ijenda kubahan bas 
tanda kutip, sebab ibas tangkelenku nungkun. Masalah kin enda?
   
  Ibas liponta ndai enggo lit ketertiban. Manuk atau hewan pada umumnya bisa 
menyelesaikan persoalannya dengan filsafatnya sendiri, atau kalau manusia 
menamakan (juga menirukan dari dunia hewan ?) ’nihilism’, yang tidak 
menghiraukan moral, value, atau pengetahuan lainnya. Nini-nininta ningku ndai 
narik kesimpulan bas manuk nari erbahan perumpamaan. La kutteh pastina entah 
Nietzche (nihilist) niruken manuk sabugan kang nai. Masalah kin enda? Ningku 
ndai idatas. Nietzche la ngidah penyelesaianna, ia ngidah persoalenna ngenca, 
piah dungna ia mate adon. Ugakin ninta menyelesaikan persoalan kegeluhen 
manusia salu filsafat kegeluhen manuk (hewan, nihilism)? 
   
  "Caingi muat jilena", nina kalak Karo. Enda pe mendalam ras dialektis kang. 
Adi melala sabugan bas sada lipo, ma muat ersemangatna janah muat riahna siakap 
erbahan melala lipo. Janah kerina lipo saling mengakui, saling menghormati dan 
saling menghargai. Jenda kunci semangat adah ndai, janah semangat kapken kunci 
perkembangan/kemajuan. Ibas soal pemekaran enda pe cocok kang kuakap 
prinsip-prinsip enda, terutama ibas zaman gundari enda. Era ethnic revival ras 
era informasi, era saling menghormati. Globalisasi sebagai promise atau danger, 
kuncinya mutual respect dan keadilan. Pemekaran adalah bagian dari keadilan dan 
perjuangan untuk keadilan. 
   
  Bujur ras mejuah-juah
  MUG
   
   
  --- In [EMAIL PROTECTED], Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   
  Mengamati Pemberitaan seputar Rencana Pemekaran Pemko Berastagi bagekape 
Kabupaten Singalor Lau, Rikut ras Kabupaten Langkah Hulu si notebene ni ingani 
kalak Karo, maka mis kal aku teringat kuan-kuan siadi ija isi kuan-kuanna 
emekapken "LABO LIT DUA MANUK SABUGAN SADA LIPO"

Aku cuma sekedar nginget kuan-kuan enda ndai, tapi entah kuan-kuan enda berlaku 
ibas proses pemekaren i kutanta Tanah Karo Simalem berlaku nge kuan-kuan enda 
entah lang, elabo kal kuteh pastina, mudah-mudahan jangan lah ya.... :)

MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
  --- In [EMAIL PROTECTED], kontan tarigan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:   " Pemko 
Berastagi sudah menghitung untung ruginya? Saya kira hal ini perlu 
diperhitungkan sejelas-jelasnya."   Mejuah-juah permilis sirulo   Objektif 
kuakap kalimat Bang KT idatas enda. Kai gia sibahan gelah tetap rusur 
siperhitungken untung rugina man Karonta, termasuk pemekaran. Pemekaran Karo 
jadi piga-piga kabupaten ibas persiapan erbahan sada propinsi Karo. Enggo kang 
mekatep sibahas soal enda ibas kesempaten-kesempaten si enggo lewat, tapi lenga 
bo kapken lit sada pe pemekaran enda ndai. Emaka tetap nge aktual adi 
siterusken ka diskusi soal enda. Kuncina atau pedomanna tentu ’untung rugina’ 
adah ndai.   Penilaian sienggo mekatep kubahan ku milista emkap dari segi 
keadilan, ras hubungenna ka soal perjuangan keadilan sebagai kontradiksi pokok 
dunia, pembebasan etnis Karo dari dominasi/hegemoni etnis lain di Sumut. 
Propinsi adalah perpanjangan tangan Pusat kata ex presiden Megawati. Karo
 sangat jauh dari apa yang dinamakan propinsi Sumut, tangan itu tidak sampai di 
Karo, begitu juga pembagian keadilan atau dana apa saja dari pusat yang 
seharusnya jadi hak etnis Karo.   Lihat juga tetangga kita, Taput sudah jadi 4 
kab, Tapsel bakal 4 kabupaten + 1 pemko. Deli-serdang dimekarkan jadi + Sergai, 
kab Deli masih terhalang . . . pikirkan siapa yang menghalang atau yang 
berkepentingan menghalangi? Begitu juga Langkat Hulu. Bandingkan dengan semua 
kabupaten-kabupaten Sumut lainnya yang berjalan lancar pemekarannya. 
Singalorlau dan Berastagi siapa berkepentingan menghalangi? Bayangan propinsi 
Karo harus meliputi 4 + 1 kota: kab Karo, Singalorlau, Berastagi, Deli, Langkat 
Hulu atau kab Tigalingga.   Enggo ka mekatep kupostingken uga ketidakadilan man 
Karo dari pihak propinsi Sumut, misalnya soal Dana Pendidikan ku tiap kabupaten 
Sumut, soal DAU/DAK, diantaranya message dibawah ini,   Message tanahkaro no 
17250 Tue Apr 25, 2006 4:47 pm   Message tanahkaro no 21421 Sat
 Apr 21, 2007 11:41 pm   Soal pemekaran, mendagri Mardiayanto mengatakan di 
Surabaya:   "Menjelang pemilu 2009 kita tidak akan melakukan pemekaran wilayah 
dulu,"kata Mendagri Mardiayanto, detikcom Senin (22/10/2007)   Mendagri bikin 
pernyataan sepihak, dari dirinya sendiri atau atas perintah presiden SBY. 
Alasannya pemilu, untuk persiapan menang tentunya, kemenangan bagi elit 
politisi, bukan bagi rakyat. Masalah pemekaran adalah masalah kepentingan 
rakyat, semacam proses yang sangat komplikasi bagi tiap penduduk daerah, 
semacam pemberdayaan (empowerment) bagi rakyat setempat, dalam menangani 
pemerintahan, pembangunan, pendidikan, budaya, pembebasan dirinya dari dominasi 
daerah lain, atau etnis lain, pokoknya meneruskan perjuangan demi keadilan atas 
dirinya dan daerahnya. Perjuangan keadilan dunia harus dimulai secara lokal, 
tidak perlu ada keraguan.   " Dari sisi lain, Indra Samego (Pengamat Politik 
LIPI) melihat, penunjukan Mardianto juga merupakan suatu langkah politik
 mengantisipasi Pemilu 2009. . . . Lepas dari hal itu, Indria Samego memandang, 
tampilnya bekas Pangdam Diponegoro ini semakin mengukuhkan tradisi militer 
untuk posisi Mendagri. " (web BEM IT 10 nov surabaya)   Mendagri bukan hanya 
militer, tetapi militer Orba dan meneruskan tradisi ’sepihaknya’ alias 
diktatoris, jauh dari sikap demokratis atau separuh diktatoris atau mungkin 
lebih cocok ’the weak dictator’ seperti saya baca dari Wikipedia,   The weak 
dictator has, for any social goal he/she has in mind, and for any political 
scenario, a course of action that would bring about the desired goal. For the 
weak dictator, it is usually not enough to "give their orders", rather he/she 
has to manipulate the political scene appropriately. This means that the weak 
dictator might actually be lurking in the shadows, working within a political 
setup that seems to be non-dictatorial.   Pemekaran adalah proses pemberdayaan 
rakyat, proses perluasan demokrasi dan pemerataan keadilan,
 terutama yang diakibatkan oleh ethnicgroups selfassertion dan ethnicgroups 
struggling for territorial power or state power yang sudah berlangsung ratusan 
tahun diseluruh dunia (internal colonialism) dan di Sumut selama merdeka dengan 
kedok propinsi Sumut.   Salam keadilan   MUG   --
       
---------------------------------
Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkoppling.
Sök och jämför hos Yahoo! Shopping.

Kirim email ke