Note: forwarded message attached.
 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
--- Begin Message ---
  Cinta Kasih di Hati Manusia - Wonderful story
     
    
    Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan
    Matrena. Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun 
hidupnya
    tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang
    pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon.
    Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya. Kebanyakan berhutang
    ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga 
kepemilikan
    sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.
     
    
    Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka
  sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel  
(rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah  harganya 5 
rubel.
    Maka  Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang
    telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang.
    Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli
    mantel.
     
    
    Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat
    sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang 
itu
    tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan.
     
    
    Simon ketakutan, "Siapakah dia?  Setankah? Ah, daripada
    terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja". Simon bergegas
    mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau
    orang itu tiba-tiba mengejarnya.
     
    
    Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata, "HAI SIMON, TAK
    MALUKAH KAU? KAU PUNYA MANTEL MESKIPUN SUDAH BERLUBANG-LUBANG, SEDANGKAN 
ORANG
    ITU TELANJANG. PANTASKAH ORANG MENINGGALKAN SESAMANYA BEGITU SAJA?"
     
    
    Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar.
    Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh
    tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan
    tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat
    sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan 
memapahnya
    berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanya an
    Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.
     
    
    Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel
    baru dan membawa seorang pria asing. "Simon, siapa ini? Mana mantel 
barunya?"
     
    
    Simon mencoba menyabarkan Matrena, "Sabar, Matrena.... dengar dulu
    penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak
    sekalian pulang".
     
    
    "Bohong!!  Aku tak percaya....sudahlah , pokoknya aku tak mau
    dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong 
orang segala!!
    Usir saja dia!!" "Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya
    kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan 
orang
    ini telanjang dan
     
    
    kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih? "Matrena
    menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya 
makan
    malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat. "Silakan makan, hanya
    sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu?  Bagaimana
    ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?"
     
    
    Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia
    tersenyum untuk pertama kalinya. "Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang
    sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh 
menceritakan
    semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih
    kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini."
     
    
    "Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan
    sanggup menggajimu", demikian Simon menjawab.
     
    
    Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan
    kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur."
     
    
    "Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai
    bekerja".
     
    
    Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka
    bertanya-tanya.
     
    
    "Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu?  Bagaimana
    jika Mikhail itu ternyata buronan?" Matrena bertanya dengan gelisah pada
    Simon.
     
    
    Simon menjawab, "Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan
    Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau 
ternyata ia
    berperilaku tidak baik, segera kuusir dia".
     
    
    Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu.
    Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola 
serta
    menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail 
sudah
    bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.
     
    
    Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan 
Mikhail
    yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. 
Simon
    tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa
    bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini.
     
    
    Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya
    Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali 
saja
    ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski 
tanpa senyum,
    muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.
     
    
    Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi 
besar,
    galak dan terlihat kejam. "Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang
    harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum
    setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan! ! Ini, kubawakan 
kulit
    terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!"
     
    
    Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba
    tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya
    tersenyum.
     
    
    Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak
    menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan 
itu.
     
    
    Simon berkata, "Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu.
    Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu 
semahal
    ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk 
penjara."
     
    
    Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon.
    "Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan
    itu orangnya tinggi besar?  Celaka, kita bisa masuk penjara karena...."
     
    
    Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya.
    "Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit,
    istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja".
     
    
    "Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya
    pada Simon", Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu.
    Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu
    tentang pesanan sepatu anak-anak itu.
     
    
    Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali
    pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak 
pernah berani
    menyinggung- nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan 
meninggalkan
    mereka.
     
    
    Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang
    salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu.
    Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal
    biasanya tidak pernah begitu.
     
    
    Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu, "Mengapa
    salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?"
     
    
    Ibu itu menjelaskan, "Sebenarnya mereka bukan anak kandungku.
    Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal
    belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang 
sudah
    meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya 
ia
    pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku 
sendiri."
     
    
    "Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi
    tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya", kata Matrena.
     
    
    Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga 
kalinya.
    Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya. Sesudah
    tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil
    berkata, "Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah
    membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum 
Tuhan,
    tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit."
     
    
    Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut, "Nanti dulu
    Mikhail, tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?"
     
    
    Mikhail menjawab sambil terus tersenyum, "Sebenarnya aku adalah
    adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku
    menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu 
tapi
    kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka
    ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam
    perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa
    ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, 'MIKHAIL, TURUNLAH 
KE
    BUMI DAN PELAJARI KETIGA KEBENARAN INI HINGGA KAU MENGERTI:
     
    
    PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA?
     
    
    KEDUA, APA YANG TAK DIIJINKAN PADA MANUSIA?
     
    
    KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN MANUSIA?'
     
    
    "Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon
    menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak 
mengusir
    aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti 
mati malam
    itu. Tapi Simon berkata, "Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?"
    Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran
    pertama: "YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH"
     
    
    "Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun
    sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya
    sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu 
kebenaran kedua:
    "MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA 
DI TANGAN TUHAN"
     
    
    "Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu
    kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. 
Dan
    aku melihat si kembar  dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum
    untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran 
yang ketiga:
    "MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT 
HIDUP TANPA TUHANNYA."
     
    
    Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah 
mengetahui
    ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan 
senantiasa
    menyertai kalian sepanjang hidup." Mikhail kembali ke surga. (Kristamedia)
  
  
  fwd by sanz
    
 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--- End Message ---


Kirim email ke