Jarang se-seorang orang karo yang dipanggil menjadi narasumber di sebuah acara 
realty show yang ditayangkan oleh siaran televisi nasional Metro TV yang 
menurut saya paling eksclusive di negeri ini, namun saya merasa berbangga hati 
ketika menyaksikan kak Tiofanta pernah hadir di acara Back To Beck yang 
disiarkan oleh Metro TV beberapa bulan yang lalu dengan predikat sebagai artis 
pada acara tersebut.



Joey Bangun <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
SEKAPUR SIRIH
 Sambutan Joey Bangun menjelang konser Tio Fanta Pinem "Dua dekade menguntai 
nada" tanggal 23 November 2007 pukul 19.00-22.00 WIB di Gedung BPPT Jakarta.
  
 Check : 
 //joebangun.blogspot.com & www.tanahkaro.com kolom Joey Bangun
  
  
 20 Tahun Eksistensi Tio Fanta Pinem
  
  
 Mejuah-juah,
  
 Ketika saya melihat proses pembuatan video clip "Ngarep Gestung Api bas Lau" 
di studio milik Viky Sianipar di jalan Minangkabau Manggarai Jakarta tahun 
lalu, tersirat sesuatu yang berbekas dalam benak saya. Bukan karena lagu yang 
di aransemen ulang Viky Sianipar itu membuat saya kagum. Bukan juga proses 
pembuatan video clipnya yang bersetting ala hutan belantara. Walau saya kagum 
pada seorang Viky Sianipar, seseorang di muka bumi ini yang bisa membawa dua 
lagu Karo (Piso Surit dan Ngarep Gestung Api bas Lau) ditayangkan di MTV. Namun 
saya kemudian menyadari, Tio Fanta Pinem yang mengidungkan Ngarep Gestung Api 
bas Lau versi Viky Sianipar itu telah menjadi seorang maestro. Salah satu 
maestro penyanyi Karo terbesar yang pernah lahir.
  
 Di tulisan saya berjudul "Eksistensi Kesenimanan Karo" (baca di 
www.tanahkaro.com kolom Joey Bangun) yang pernah dimuat di sebuah media, saya 
menyebutkan Tio Fanta adalah Seniman Karo berkultur pop. Dia lahir bukan dari 
seni tradisi. Melainkan berawal dari pop kemudian merambah ke seni tradisi. 
Sebuah gaya yang biasa dilakukan oleh Seniman bertaraf Nasional untuk mendapat 
pengakuan dari daerahnya sendiri. Namun terkadang seorang Seniman Pop yang 
merambah ke seni tradisi sudah tidak bisa lepas lagi dari seni tradisi. 
Akhirnya dia tidak bisa mengangkat lagi namanya ke seni bertaraf Nasional.
  
 Secara pribadi, saya mengenal namanya sewaktu saya masih sekolah dasar. Ketika 
seni lukis masih menjadi salah bakat saya. Saya pernah menonton dia menyanyi di 
Aneka Ria Safari di TVRI. Pada masa itu acara Aneka Ria Safari merupakan sebuah 
acara untuk menunjukkan eksistensi penyanyi Indonesia. Dan seorang Tio Fanta 
menyanyi di acara itu!
  
 20 tahun kemudian saya baru bisa berkenalan dengan seorang Tio. Itupun karena 
saya diundang oleh PESIKAPI (Persatuan Seniman Karo dan Pemerhati) untuk 
menghadiri pesta ulang tahunnya Tio Fanta. Pertama saya mengenalnya saya yakin 
seorang Tio Fanta tidaklah sombong. Apalagi dia pernah mengatakan pada saya dia 
kagum pada sepak terjang saya, dan sering membaca tulisan-tulisan saya. 
Bagaimana perasaan anda jika dipuji seorang maestro?
  
 Di saat saya pertama kali mengenal Tio Fanta, yang membuat menarik adalah, Tio 
Fanta lahir dari keluarga Seniman. Besar di Sidikalang tanah suku Pakpak lalu 
hijrah ke Yogya dan menekuni bakatnya menyanyi disana. Seluruh keluarganya 
mendukung karirnya.
  
 Awal karirnya, Tio Fanta tidak menyebutkan beru Pinem dibelakang namanya. Hal 
ini membuat protes beberapa kalangan masyarakat Karo walau beberapa waktu 
terakhir dia sudah menambalkan berunya di belakang namanya. Tio Fanta tidak 
hanya dikenal di kalangan masyarakat Karo, namun juga masyarakat Pakpak bahkan 
Toba. Tio Fanta pernah menyebutkan undangan menyanyi beberapa waktu terakhir 
justru lebih banyak di kalangan masyarakat Batak dibanding Karo. Mungkin itu 
sebabnya musisi Viky Sianipar merekrutnya menjadi salah satu penyanyinya. 
Selain dengan Viky, Tio Fanta pernah berkolaborasi dengan musisi Batak lainnya 
seperti Charles Simbolon. Bahkan dia pernah menyanyi lagu dari daerah Nusa 
Tenggara Timur.
  
 Karir Tio Fanta tidak lepas dari suami tercinta Isfridus Sinulingga. Isfrid 
bukan orang biasa. Dia berdarah biru. Cucu dari Sibayak Lingga terakhir Raja 
Kelelong Sinulingga pewaris Pisau Bawar lambang supremasi kerajaan Lingga. 
Isfrid memberikan kepercayaan diri penuh pada Tio Fanta dalam menapaki 
karirnya. Hal ini sangat diperlukan pengertian dan perhatian jika kita 
mempunyai pasangan seorang Seniman. 
  
 Salah satu sifat sosialnya yang tinggi, ketika dia mendengar ayah saya 
tercinta meninggal dunia tahun lalu. Bentuk perhatiannya diberikannya sebuah 
karangan bunga besar untuk menghormati kepergian ayah saya itu. Walau saat itu 
saya sedang berduka, namun saya cukup bangga ketika orang-orang di Jambur 
Namaken bertanya apa hubungan saya dengan seorang Tio Fanta.
  
 Seluruh masyarakat Karo tahu siapa Tio Fanta, dan juga eksistensinya. Itulah 
sebabnya kita tidak perlu terkejut jika konser menyambut dua dekade ini 
digelar. Paling tidak inilah bentuk penghargaan yang pernah dibuatnnya. 
Terlebih untuk perkembangan musik masyarakat Karo. Musisi Karo dan di luar Karo 
akan ambil bagian. Buku biografi perjalanan karirnya akan diluncurkan. Tentu 
saja ini akan menambah khazanah kesusasteraan Karo.
  
 Mari kita sambut dan dukung penuh konser Tio Fanta "Dua Dekade Menguntai 
Nada!" Dan membarikan apalaus bagi sang maestro ketika mengakhiri semua dengan 
suara emasnya.
  
  
 Joey Bangun
 Seniman Karo
  
  
 Jakarta, 221107 07.24
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  


        
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.  
     
                               


Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net

       
---------------------------------
Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now.

Kirim email ke