Semua orang pasti mau mengeruk keuntungan dari berbagai kebijakan yang
dikeluarkan pemerintah. Banyak jenis barang yang kadang langka jika terjadi
perubahan kebijakan menyangkut barang tersebut.
Saya pikir saatnya kita kembali ke alam. Bumi sudah semakin banyak dirusak
sehingga berbagai bencana terjadi di sekitar kita, langsung ataupun tidak. Mari
kita kembangkan pengunaan pupuk kompos atau bokashi atau EM 4 yang akan semakin
mengubah textur tanah labih untuk jangka panjang.
Jika diantara kita tahu Parpem GBKP, silahkan kontak teman-teman di
Sukamakmur. Rekan kita tersebut sudah punya tekad dengan perjuma untuk
melestarikan alam sengan semboyan "Pertanian Selaras Alam" Ada beberapa butir
kesepakatan untuk melestarikan alam walau tetap berorientasi kepada usaha
profit. Bagaimana caranya, silahkan kontak langsung.
Bujur
Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
T Karo (SIB)
Tidak diketahui penyebab pasti, distribusi pupuk bersubsidi jenis urea ke Karo
berkurang dari 16.942 ton (tahun 2007) menjadi 16.710 ton (2008). Ketetapan ini
sesuai surat Gubernur Sumut Nomor No.521.33/662/k/2008, tanggal 1 Pebruari 2008
ditandatangani Gubsu, Drs Rudolf M Pardede.
Hal ini dikatakan Kabag Perekonomian (yang menangani pupuk-red) Pemkab Karo,
Drs Sabar Peranginangin dan Kepala pemasaran pupuk PT Sriwijaya, Amsimin Gea
secara terpisah kepada SIB, Senin (18/2) di kantornya Kabanjahe.
Gea dan Peranginangin tidak dapat merinci apa penyebab turunnya distribusi
pupuk bersubsidi urea ke Karo tahun 2008. Mayoritas warga petani, prihatin
menurunnya distribusi pupuk bersubsidi ke Karo. Apakah karena subsidi secara
nasional terbatas atau tidak, tidak diketahui pasti, ujar Gea singkat.
Berkurangnya distribusi pupuk bersubsidi dan melambungnya harga di luar pupuk
bersubsidi dan pestisida akhir-akhir ini di Karo dan di Sumut pada umumnya
membuat musim tanam (mt) 2008 di Karo rawan dan terancam gagal. Petani akan
cenderung memburu jenis pupuk bersubsidi yang harganya jauh lebih murah dari
pupuk non bersubsidi. Sedangkan kuantitas pupuk bersubsidi turun.
Tiga jenis kebutuhan utama pertanian digunakan petani, diantaranya NPK, Amaphos
dan TSP naik lebih dari 100 persen. NPK naik dari Rp145.000,-per/zak menjadi Rp
390.000/zak, (50/kg-red). Amaphos dari Rp125.000,-perzak naik menjadi
Rp240.000,-per/zak dan TSP naik dari Rp125.000,-per/zak menjadi
Rp320.000,-per/zak. Akibat kenaikan ini, petani cenderung tidak mampu membeli
dibandingkan dengan harga jual produksi pertanian yang semakin menurun dan
belum memiliki pasar yang pasti, ujar Peranginangin.
Akibatnya, pelaksanaan musim tanam tahun 2008 rawan dan terancam gagal. Pupuk
bersubsidi terbatas dan petani mayoritas tidak mampu membeli pupuk-pupuk non
bersubsidi karena mahal. Sedangkan setelah gebrakan pengusaha Karo jambi
beberapa tahun terakhir ini penjualan jagung melonjak dari rata-rata Rp1000
per/kg (biji kering-red) naik menjadi rata-rata Rp1850 per/kg (saat ini
berkisar Rp2100 per/kg-red) banyak areal lahan-lahan tidur dibuka petani
menjadi areal pertanian jagung.
Bertambahnya areal pertanian dari semula lahan tidur ini membuat kebutuhan
pupuk semakin bertambah. Kondisi ini juga akan mempengaruhi kondisi pupuk saat
ini. Kemungkinan areal pertanian yang semula dibuka akan kembali terlantar,
ujar Peranginangin menduga. (M37/g)
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.