Wah.. artikel ini mengingatkan masa kecil saya yang sering makan Kidu
di Daerah Kabanjahe, air liur saya mulai turun nih..
Badan kidu yg gemuk dan berlemak cukup baik buat anak2 dan kepalanya
yg kecoklatan sangat rapuh dan manis rasanya. nyam..nyam...
begitu badan kidu yg gemuk digigit, isinya bisa muncrat kemana-mana
kalau tidak tutup mulut rapat2.
sebenarnya di sekitar daerah saya, juma lepar tambak ratah,
masih gampang mendapat kidu tersebut, karena masih banyak pohon enau.
Dulu makanan ini diperkenalkan Nini Bulang saya waktu saya kecil dan
suka disajikan dengan Goreng Telor Ayam Barukan ( Bukan Baru..kan?),
telur ayam yg sudah busuk dan ada anaknya... Hmm ingat2 rasanya cukup
lezatos juga, tapi sekarang... !!??
Harusnya Masakan Kidu ini bisa dikembangkan menjadi spesial masakan
karo yg bisa go internasional..., mungkin bukan semua orang karo
segmentasinya, tapi orang asing pasti mau dan berani mencicipi...
Salam,
FMB


--- In [email protected], Edy Gunawan Ginting <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Kidu, Si Ulat Enau
>               
>          BONDAN WINARNOBONDAN WINARNOBONDAN WINARNO BONDAN WINARNO
>    Kidu Hidup
>     
>          Artikel Terkait:  
>   
>       Kamis, 28 Februari 2008 | 07:36 WIB
>   Akhirnya, sesuatu yang saya idam-idamkan sejak lama telah menjadi
kenyataan. Sebelumnya, saya bahkan telah mulai bosan mengatakannya.
Begitu banyak orang bertanya kepada saya, makanan apa lagi yang masih
ingin saya cicipi? Selama beberapa tahun terakhir, jawaban saya
konsisten: ingin mencicipi ulat atau larva sagu â€" yaitu belatung
yang muncul dari batang sagu yang membusuk.
> 
> Keinginan ini pertama kali muncul ketika melihat film dokumenter
karya Alain Compost tentang suku Asmat di Papua Barat. Dalam rangkaian
upacara mendirikan mbits (totem) ukiran kayu yang tinggi dan
menggambarkan berbagai profil itu, orang-orang Asmat selalu
mengiringinya dengan pesta makan. Selain babi bakar batu (babi utuh
yang dimasak dalam tumpukan batu yang dibakar), harus juga disajikan
ulat sagu ini. Warnanya putih bersih, gembil, ginuk-ginuk. Menurut
Alain, rasanya enak sekali. 
> 
> Beberapa tahun kemudian saya juga mengetahui bahwa makanan serupa
ternyata juga dikenal di Sulawesi Utara â€" sekalipun sudah mulai
langka. William Wongso bahkan pernah mencicipinya. “Rasanya seperti
santan mentah,” kata William. Oi, saya jadi makin penasaran.
> 
> Belum lama ini, Irfan Manullang, seorang jurukamera TransTV
mengatakan kepada saya bahwa orang Karo di sekitar Kabanjahe juga
mengenal makanan sejenis itu. Bedanya, ulatnya bukan dari pohon sagu,
melainkan dari pohon enau.
> 
> Maka, semakin bulatlah tekad untuk memburu si ulat enau ini. Dua
minggu yang lalu, ketika melintas di Kabanjahe, saya singgah ke sebuah
lapo, dan memesan makanan itu. Ternyata, saya salah menyebut nama
makanan itu. Karena saya menyebutnya sebagai kidu-kidu, maka yang
hadir adalah semangkuk sup yang berisi semacam susis dari daging dan
jeroan babi.
> 
> “Mana ulatnya?” tanya saya.
> 
> Wah, pertanyaan itu ternyata membangkitkan kemarahan pemilik lapo.
“Zadi, kau pun percaya orang Batak suka makan ulat? Ya, begitu? Dang
hadong itu, bah! Inilah yang namanya kidu-kidu. Kau makan sazaâ€"lah
itu,” gertaknya.
> 
> Untungnya, saya tidak kenal kata menyerah. Di lapo “Mariras”,
Mamak Lia menjelaskan kepada saya bahwa yang saya maksud itu bernama
kidu, bukan kidu-kidu. Menurutnya, sulit sekarang mencari kidu karena
sudah sangat jarang orang yang menyajikan masakan yang dulunya
merupakan kesukaan para raja. “Begitulah agaknya dulu raja-raja
Batak itu semua orang pintar. Tidak seperti sekarang, banyak orang
bodoh karena tidak mau makan kidu,” katanya. Mamak Lia memang
tipikal perempuan Karo yang asertif dan bicaranya ceplas-ceplos. Salah
seorang anak perempuannya kuliah di fakultas kedokteran.
> 
> Maka, kami pun langsung membuat perjanjian. Dua minggu lagi Mamak
Lia akan masak kidu, dan saya akan datang bersama crew Wisata Kuliner
TransTV, sekaligus untuk meliput sajian langka itu.
> 
> Tetapi, ternyata ceritanya tidak semudah itu. Seminggu kemudian
Mamak Lia menelepon memberitahu bahwa ia tidak berhasil menemukan
kidu. “Tak ada lagi yang menjualnya di pasar,” katanya. Akhirnya,
kami bagi tugas. Kalau saya berhasil mendapatkan ulat enau, maka Mamak
Lia tinggal memasaknya.
> 
> Untunglah ada jaringan khusus di Medan. Ditemukanlah seorang pemuda
bernama Victor di Desa Namorambi yang bersedia “mengadakan” kidu
dan menyerahkannya kepada Mamak Lia. 
> 
> Demikianlah, pada hari yang ditentukan, kami datang ke “Lapo
Mariras” di Kabanjahe. Mamak Lia menunjukkan kidu yang masih hidup
dan belum dimasak. “Penampakannya” memang persis seperti yang saya
lihat di film dokumenter Alain Compost. Tetapi, ukurannya lebih besar.
Seekor kidu panjangnya sekitar empat sentimeter, dengan diameter
sekitar satu sentimeter pada titik paling gemuk di bagian perut.
Gendut, putih, dan sexy!
> 
> Setelah dibersihkan kidu ini digoreng agar bagian luarnya renyah,
tetapi tidak sampai pecah agar cairan di dalamnya masih utuh. Kidu
goreng ini kemudian dimasak sebentar dalam kuah arsik â€" kunyit,
kemiri, bawang merah, bawang putih, andaliman, kincung (kecombrang)
â€" yang sebelumnya sudah mendidih tanak.
> 
> Rasanya? Hmm, sungguh mak nyuss! Bagian luarnya renyah, bagian
dalamnya “pecah” ketika digigit dengan rasa yang mirip sumsum â€"
mulus dan “klenyer” di mulut. Mungkin karena ulatnya sudah
digoreng, maka saya tidak merasakan sensasi “santan mentah”
seperti yang dikatakan William. Bagian mata ulat bahkan menimbulkan
sensasi yang istimewa ketika dimakan. Ada sensasi “kres” yang
kemudian mengucurkan cairan kental yang gurih dan lembut. Mungkin
dapat disamakan dengan sumsum sapi. Tabo nai, bah!
> 
> Tetapi, Mamak Lia tidak hanya menyuguhkan arsik kidu yang lezat dan
tidak terlupakan. “Kam pesan atau tidak, kam cobalah ini. Ini khas
Karo zuga. Namanya ayam tasak telu,” katanya sambil membawa tiga
pinggan makanan. Orang Karo memang tidak menyebut “kau” seperti
layaknya orang Batak lain, melainkan memakai istilah “kam”,
singkatan dari “kamu”.
> 
> “Tasak telu” secara harafiah berarti “masak tiga” atau
“tiga masakan”. Masakan pertama adalah ayam rebus. Setelah direbus
dengan bumbu, air rebusannya disisihkan dan disajikan sebagai kuah
atau sup. Ayam rebusnya â€" termasuk jeroannya â€" dipotong-potong
untuk disajikan. Bila dikehendaki, ayam rebus ini dapat dimasak lagi
sebentar dengan darah ayam. Dalam bahasa setempat, darah disebut
“gota” yang sebenarnya berarti getah.  
> 
> Bagian tulang-tulangnya dimasak lagi dengan sebagian kuah dan
dicampur dengan cipera â€" bulir jagung tua yang ditumbuk halus.
Dengan tambahan bumbu-bumbu, campuran ini menjadi kuah kental yang
gurih. Kuah kental ini â€" sebagai elemen kedua dari sajian ayam tasak
telu â€" nanti diguyurkan pada ayam rebus ketika menyantapnya.
> 
> Elemen ketiganya adalah cincang sayur. Berbagai sayur rebus â€"
kacang panjang, batang pisang, jantung pisang, daun pepaya, daun
singkong, tauge â€" diurap dengan parutan kelapa berbumbu.
> 
> Harus saya akui, ayam tasak telu adalah juga sajian istimewa khas
Karo yang sungguh gurih rasanya. Top markotop-lah!
> Saya ingin menambahkan satu lagi cerita tentang sajian sekitar Danau
Toba yang makin langka, yaitu ikan pora-pora. Selain ikan mas dan
mujair, ini adalah jenis ikan kecil yang dapat dijumpai di Danau Toba.
Beberapa tahun sebelumnya, jenis ikan ini sempat menghilang. Tetapi,
sejak beberapa bulan ini ikan pora-pora muncul lagi dalam jumlah yang
cukup besar. Ikan ini dengan mudah pula dapat dipanen dengan
menggunakan jala.
> 
> Pada malam hari, penumpang perahu yang menyeberang dari Ajibata di
dekat Parapat ke Tomok di Pulau Samosir sering melihat ikan-ikan kecil
ini berloncatan mengikuti perahu, seolah ingin berlomba. Sisiknya
berkilat-kilat seperti cahaya lampu.
> 
> Dengan bumbu minimalis saja ikan pora-pora ini bila digoreng akan
menjadi sajian yang sungguh nikmat. Ukuran paling baik untuk dipanen
adalah yang panjangnya sekitar 8-10 sentimeter. Rasanya sangat gurih.
> 
> Saya menemukan sajian ikan pora-pora goreng ini di Hotel Sopo Toba
di Ambarita, Pulau Samosir. Letak hotel yang tepat di bibir Danau Toba
memungkinkannya untuk langsung membeli ikan pora-pora segar dari nelayan.
> 
> Hotel Sopo Toba juga punya sajian killer yang cukup unik, yaitu soto
ayam panggang. Ayam bumbu kuning dibakar sampai matang, kemudian
disuwir-suwir dan dimasukkan ke dalam kuah soto dengan santal pekat
berwarna kuning. Disajikan dengan soun di dalamnya. Smokiness dari
ayam panggang membuat soto itu menguarkan aroma yang sungguh harum.
Kuah sotonya yang kental semula membuat saya agak ragu-ragu
menyantapnya. Tetapi, dengan ayam panggang yang empuk berempah, santan
kental itu jadi padan sekali. Matching!
> 
> Horas ma jala gabe!
> 
> Bondan Winarno
> Terima kasih atas info. Saya juga sudah menemukannya di Kabanjahe.
>  
>  Memang sempat salah. Semula saya bilang kidu-kidu. Ternyata yang
saya dapat
>  adalah sop usus babi yang diisi mirip sosis.
>  
>  Salam,
>  BW
>  
>  
>  On 2/14/08, Edy Gunawan Gintings <eguntings@> wrote:
>  >
>  > Pak Bondan, saya pernah baca di Kompas bahwa bapak ingin mencicipi
>  > makanan khas Papua, yaitu ulat sagu yang telah diolah sedemikian
>  > rupa(CMIIW). Sebenarnya di Karo pun ada, ulat yang hidup di
batang sagu
>  > tersebut disebut "kidu," biasa dimakan karena diyakini dapat
menyembuhkan
>  > beberapa penyakit.Kamis pagi, saya tonton di Trans TV dalam Reportase
>  > Pagi, di Tapanuli Tengah, persisnya di Desa Tuka, tidak jauh dari
Sibolga,
>  > ada juga kebiasan memakan ulat yang biasa hidup di batang/pokok
sagu busuk.
>  > Bisa dimakan langsung hidup-hidup, dan juga ada yang dimasak.
Konon katanya
>  > bisa mengobati anak-anak yang menderita batuk. Demikian sekilas info.
>  >
>  > eg
>  >
>        
> ---------------------------------
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di
Yahoo! Answers
>


Kirim email ke