--- In [EMAIL PROTECTED], jhonny sitorus <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

DESA KUNO, KAMPUNG LINGGA
Selasa, 01 April 2008
http://www.mediaindonesia.com/smart_traveling/content.asp?catid=1&id=8

Jalur utama Medan - parapat melalui Berastagi, pasti melewati monumen
berbentuk setengah bambu runcing, saat memasuki kota kabanjahe. Segera
belok kanan dan susuri jalan sekitar 3 km, maka anda akan menemui desa
Budaya Lingga atau Kampung Lingga. Di sini, budaya karo masih dapat
dinikmati melalui keunikan rumah adatnya.

Rumah Karo adalah rumah panggung tanpa sekat, yang bisa ditempati 4, 6
sampai 8 keluarga, ditandai dengan sebuah tungku sebagai dapur untuk
masing-masing keluarga. Tiap tungku terdiri dari lima batu berukuran
sedang yang disusun sebagai dudukan panci dan tempat meletakkan kayu
bakar. Kelima batu itu sendiri merepresentasikan lima marga, yaitu
Karo-karo, Ginting, Paranginangin, Sembiring dan Tarigan.

Berbagai perkakas digantung diatas 'dapur' tadi, misalnya kuran
(tabung bambu), tabu-tabu (kendi) dan sebagainya. Bagian loteng
digunakan untuk menyimpan hasil pertanian. Sedangkan bagian bawahnya
untuk ternak. Anak tangga di depan rumah harus berjumlah tiga, yang
berati tiga Tuhan menurut kepercayaan animisme Karo masa lalu.
Sedangkan di belakang rumah, anak tangga berjumlah lima, yang kembali
melambangkan kelima marga. Sebuah kepala kerbau menghiasi atap rumah
ini sebagai gambaran kondisi spritual tertinggi.

MENYATU DENGAN SEMESTA

Uniknya, papan-papan kayu yang membentuk dinding rumah ini, serta
semua tiang, atap dan bagian lainnya, tidak ada yang dipaku, melainkan
diikat dengan tali ijuk yang sangat kuat. Hal ini melambangkan
keterikatan yang amay dekat dan tidak mudah putus. Tiang-tiang
penyangganya terhubung dengan alas besi yang dilapisi dengan sejumlah
ijuk dan kain. Dalam budaya Karo, ini adalah lambang kerukuan.
Hebatnya, tehnik ini telah menyelamatkan rumah Karo dari gunjangan
gempa, membuktikan teori kerukunan dan kehidupan yang bersatu harmonis
dengan alam.

Rumah tertua yang berusia tak kurang dari 400 tahun, masih ditinggali
hingga kini oleh keluarga Dilik Ginting yang mengaku sebagai keturunan
Raja urung, yaitu raja Karo yang terakhir menempati rumah itu. Bapak
Ginting meyakini bahwa tehnik pembangunan rumah Karo lebih tahan
bencana sehingga betul-betul menjadi sanctuary atau tempat berlindung
yang paling Aman. Untuk mengunjungi tempat ini, GARUDA INDONESIA
menyediakan jadwal penerbangan sebanyak 49 kali dalam
seminggu(dni/mi/m.tmsy/01/05)




     
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now. 
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

--- End forwarded message ---


Kirim email ke