Sopir Angkot Minta Naik Tarif Penumpang Jika Harga BBM Naik
AIDIL YURSAL
WASPADA ONLINE
(MEDAN) - Kalangan sopir angkutan kota (angkot) di Kota Medan menyatakan
setuju dengan subsidi BBM. Namun masalah tarif ongkos, mereka meminta agar
perlu dikaji ulang, jika harga BBM naik sampai 30 persen.
Hal itu disampaikan sopir angkot dari perusahaan angkutan PT. Mitra, KPUM dan
sopir Taksi Delta, Jumat (16/5), menanggapi hasil rapat gabungan Organisasi
Angkutan Darat (Organda) dan para pengusaha angkutan kota beberapa hari lalu,
yang meminta pemerintah memberikan subsidi BBM kepada perusahaan angkutan.
"Sebernarnya kami berada dalam posisi sulit untuk menyetujui atau menolak
sepenuhnya hasil keputusan rapat gabungan itu," kata Dachi, sopir angkot PT
Mitra, yang mengaku kalangan sopir hampir tidak pernah dilibatkan dalam rapat
membahas masalah-masalah dampak kenaikan BBM.
"Kalau pun ada hanya dari sopir tertentu sebagai mewakili yang terkadang
aspirasi para sopir secara keseluruhan tidak terwakili," katanya.
Sebagai pengemudi tua yang cukup berpengalaman, Dachi menyebutkan BBM yang
dihabiskan setiap hari sekitar 50 liter untuk trayek Terminal Amplas-Belawan
dengan setoran Rp105 ribu.
Sedangkan alasan Dachi untuk cenderung lebih menghendaki adanya penyesuaian
ongkos pasca kenaikan BBM dikarenakan, bahan kebutuhan pokok dan kebutuhan lain
bakalan naik semua, sementara ongkos tetap seperti biasa.
Memang para pengemudi tidak terbebani dengan kenaikan biaya BBM yang mungkin
saja tetap memberlakukan harga lama Rp4500/liter. Namun biaya kebutuhan lain
jelas sudah tidak sebanding lagi dengan penghasilan yang diterima sebagai sopir
angkot.
Selama ini, lanjutnya, selain uang setoran sekitar Rp100 ribu/hari, ditambah
uang iuran wajib Rp14 ribu yang mesti dibayar pada empat titik, termasuk pada
dua pangkalan, tetapi mereka para supir perlu gaji untuk membiayai keluarga.
"Besar gaji selama ini yang kami dapati dari jasa sopir setiap hari sangat
bervariasi," kata Dachi yang mengaku terkadang harus nombok setoran kepada toke
karena lagi sepi sewa.
Lain lagi kisahnya dengan Basir dari sopir angkot KPUM untuk trayek Sambu-Deli
Tua. Kendati sampai sekarang masih mengoperasikan angkot tua buatan 1980-an,
Basyir mengaku setuju kalau kenaikan BBM bersubsidi untuk Angkot, namun
sependapat dengan rekannya Dachi dari angkot Mitra yang meminta perlu
pengkajian ulang untuk menaikan ongkos bila kenaikan bahan bakar minyak
benar-benar terjadi.
Apa yang dialami sopir Mitra itu, kata Basyir, juga tidak jauh berbeda dengan
kami di KPUM. Hanya setoran yang berbeda, sekitar Rp40 ribu/hari dengan iuran
wajib Rp13 ribu dibayar pada satu pangkalan di Sambu.
"Itu karena jenis angkot saya keluaran tahun rendah yang masih pintu belakang,
kalau jenis jumbo, iurannya sudah Rp16 ribu/hari, kata Basyir ketika angkotnya
distop di kawasan Jalan Sutomo oleh petugas pengutipan dari KPUM, Jumat sore.
Dia juga mengakui bahan bakar bensin yang digunakan setiap hari hanya sekitar
30 liter atau sekitar Rp135 ribu.
"Yang menyenangkan hati kami sekarang adalah kutipan-kutipan liar yang sering
disebut 'uang kelewang' sudah tidak ada lagi," ujarnya.
(zul)
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net