Mejuah-juah, Wah menarik juga ceritanya, langka bisa mendapatkan kisah cerita seperti ini. Salut....
Salam, Edison S Maha Kuwait --- leif ria <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > MJJ.. > Ersentabi kel aq man bandu kerina. > go ndekah kel aq la ercakap-cakep i bas jambur enda. > bas sekalenda, ijin ken kena aq ngerana. sebab > tertarik kel aq mbahas masalah pawang ternalem. > Sitik saja kel ateku bere masuken. gelah si nggeduk > banci silurusken. > Sekedar informasi. yang menuliskan cerita di cafe > gaul itu, sepertinya sangat keliru. Karena cerita > pawang ternalem itu di daerah langkat, > bahorok.Seperti yang di teliti seninaku Joy Bangun, > itu ada benarnya. > Sementara cerita, rakyat tentang dukun sakti yang > memperpeltep ketangkan kendi-kendinya di lokasi > deleng pertektekken itu bukan cerita pawang ternalem > dan beru patimar. Tetapi itu cerita guru sakti, yang > namanya guru pertawar remai. > kuburannya sampai sekarang masih ada, yaitu di desa > kandibata. Lokasinya persis lewat titi l.au biang > desa kandibata. lit kari tekongan jalan ke kiri, ada > suatu bukit kecil. di bukit kecil itu ada kuburan > tua. Pusarannya bersih, dan tidak pernah ditumbuhi > rerumputan.Daerahnya angker, itulah kuburan guru > pertawar remai, yang konon karena saktinya guru > mbelin itu bisa menghidupkan dua putrinya yakni > tandang suasa dan tandang kumerlap, walau pun nanti > tulang belulangnya hanya tersisa sebesar sisir. > Mendengar keangkuhan dan kesombongan guru petawar > remai ini, keramat lau biang bernama Rahmat, > melaporkan hal tersebut ke keramat deleng sibayak. e > me i kataken nini kertah.ernala Lalu dicurilah > tulang belulang dua puteri ini. > singkat cerita, saat pulang guru petawar remai tadi > dari kuta kalak, tulang belulang dua putrinya itu > hilang dari kuburan. saat ayahnya mau > menghidupkan kedua putrinya itu kembali. Sampai > akhirnya guru mbelin itu melakukan upacara raleng > tendi (memanggil roh).Disitulah nini kertah memberi > kesempatan terakhir kepada guru petawar remai itu, > untuk bicara dengan dua putrinya melalui kain > dagangen (kain kapan). > Dengan percakapan terakhir anaknya berkata: "regan > akapndu emas perak asangkan suasa bapa. Regan > akapndu herta asangken anakndu bapa," > begitulah penggalan katanya lalu guru pertawar remai > itu, merigep alias menerkam kain dagangen ah ndai, i > je me lausna tendi anaknya. > merasa sia-sia semua kesaktiannya. yang konon > jimatnya itu disimpan di dalam kendi-kendi, maka > dengan sumpahnya di sebuah bukit dekat kaki gunung > sibayak, mengatakan, " gundari kuperpeltep > ketangkan nge kandi enda ras aq i jenda. adi kune > pepagi ersada ketang enda enca kutektek, e maka > ersada mulihi aq ras anakku. > Dengan kecewa dan emosi, i tektekna me ketang ndai i > je ras kendina. Ketang ndai pe retap, kendi-kendi si > isina jimat entah pe adi isitlah guru mbelin > pupuk ndai, pe pecah merap marpar la terpumahi. Ban > i je ingan perpadanan entah pe sumpah guru > mbelin pertawar remai, jenari me ikatakan gelarna > deleng pertektekken. > Je nari berangkat kita, ku gelar kuta kandi bata > ingan guru pertawar remai ndai i kuburken. Kandi > bata berasal dari kata kandi-kandi dibata. Yang > artinya, karena begitu hebatnya jimat guru pertawar > remai yang disimpannya di kendinya dan bisa > menghidupkan orang mati, maka disebut kandi-kandi > dibata. dan akhirnya desa itu pun bernama Kandibata > sampai sekarang. > sementara cerita pawang ternalem, memang benar sudah > pernah dibuat dan direkam bapak di kaset drama era > tahun 80-an. Adi orang tuanta, pasti nge > ingetna kaset drama tersebut. sibar em lebe. > Bujur > Sastroy Bangun > ----- Original Message ---- > From: S.Jawak <[EMAIL PROTECTED]> > To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Wednesday, June 18, 2008 6:49:10 AM > Subject: Re: [tanahkaro] Fwd: Re: Pawang Ternalem > versi Kafe Gaul > > > Kalau ku tidak salah , Bapak Hendri Bangun pernah > mengangkat cerita ini ke layar Casette,( tahun 80-an > bad yang lalu dan di putar bersambung di Radio > Penerangan Kabanjahe. saya yakin di juga telah > menelusuri ceritanya terlebih dahulu sebelum > mengangkatnya menjadi cerita drama. > > Cuba sungkun ia kade-kade. > > > 2008/6/17 tariganw <[EMAIL PROTECTED] co.id>: > > Kadang-kadang kita bingung mau ngikutin cerita yang > mana yang bener > tentang Pawang Ternalem. > > Tiba - tiba banyak sekali temen-temen berpartisipasi > dan angkat > bicara tentang cikal bakal Pawang Ternalem, dan > semuanya merasa > paling bener dan tau tengtang cerita tsb...Tapi pada > perakteknya > sampai saat ini tidak satu orangpun yang bisa > mengangkat kisah > tersebut kepermukaan masya, hanya banyak omong > doang,Terlepas bener > atau tidaknya cerita itu. > > Seharusnya kalaulah kita sadar bahwa kita ini hidup > bukan dizaman > Pawang Ternalem..yach sangatlah wajar apabila kisah > yang kita angkat > sedikit banyaknya pasti ada distorsi..apalagi untuk > saat ini tidak > ada orang yang menjadi saksi hidup, namun > kesempurnaan kebenaran > cerita ini tetap diupayakan.Kita seharusnya sangat > berterima kasih > kepada temen kita JOEY BANGUN karena niatnya untuk > mengangkat > kembali cerita/kisah Pawang Ternalem ketengah > masyarakat melalui > media Teatherical. > > Untuk itu sebagai rasa keingin tau masyarakat, > kiranya event ini > segera diwujudkan dan jangan ditunda-tunda > lagi...yakinlah bahwa > masih banyak orang akan mendukung dan > menunggu-nunggu kapan saatnya > akan dipentaskan kisah Pawang Ternalem ini.Show must > go on..Bujur > > --- In senimankaro@ yahoogroups. com, Aron on Arts > <arontainment@> > wrote: > > > > > Banyak versi tentang cerita Pawang Ternalem. Salah > satunya seperti > dikutip dari website Kafe Gaul : > > http://forum. kafegaul. com/showthread. > php?t=74737&page=14 > > Itulah sebabnya Tim Kreatif Teater Aron melakukan > penelitian dan > riset untuk mencari kebenaran fakta dan cerita > beberapa waktu lalu. > > Pertektekken, daerah bau kematian > > > > Daerah Pertektekken dikenal sangat angker. Apapun > yang melintas di > atasnya akan jatuh dan mati. Kabarnya, tempat ini > adalah tempat > pembuangan ilmu sakti dari seorang dukun. Konon, > jatuhnya pesawat > Foker di sekitar pegunungan Sibayak disebabkan pula > oleh 'keberanian' pesawat tersebut melintasi daerah > keramat ini. > > > > Jangankan pesawat, kupu-kupu atau burung yang > berani terbang di > atas Pertektekken akan mati secara mengenaskan. > Memang, daerah yang > terletak di kaki bukit Pertektekken di bagian > Selatan dan berdekatan > dengan gunung Sibayak memiliki kisah mistik yang > menyeramkan. Kisah > itu berawal dari sebuah desa, Daulu yang hanya > berjarak beberapa > kilometer dari tempat ini. Daulu terletak di bagian > Selatan kota > Medan, kira-kira 55 kilometer. > > > > Konon di desa Daulu ada sepasang dukun sakti yang > bernama Pawang > Ternalem dan Berru Pattimar. Dikisahkan sepasang > dukun tersebut > sering mengembara ke berbagai daerah untuk melakukan > pengobatan > dengan meninggalkan kedua anakanya. > > > > Kabarnya ketika mereka mengembara, kedua anaknya > jatuh sakit. > Seorang tetangga mengabarkan berita menyedihkan ini > kepada sepasang > dukun tersebut. Namun Pawang Ternalem dan istrinya > menolak pulang. > Mereka berpikir, kalaupun anaknya sakit atau sampai > meninggal dunia > mereka toh bisa menghidupkan lagi. > > > > Benar, selang beberapa saat tetangganya datang > lagi dan > mengabarkan bahwa anaknya telah meninggal dunia. > Sepasang dukun > sakti ini enggan untuk pulang. Pasalnya, hanya > dengan satu > centimeter tulang yang masih tersisa mereka mampu > menghidupkan === message truncated ===
