Semua terjadi karena kelemahan kalak karo. Semua menyepelekan kalak Karo dan 
berusaha merebut apapun dari kalak karo.
Kalak karo ingin disingkirkan dari panggung sejarah, seolah Kalak Karo tidak 
ada peranan dalam sejarah dan perpolitikan Indonesia.
Banyak teman-teman saya yg menyangkal bahwa pendiri Kota Medan adalah Guru 
Patimpus yg nota bene adalah kalak Karo.
Juga banyak yg menyangka saya membual ketika mempertahakan argumen baha 
kerajaan Haru adalah kerajaan Kalak Karo. Dalam setiap percakapan sering saya 
selipkan kata kata bahwa sebagian besar warga Melayu Deli ber nenek moyangkan 
orang karo dan sebagian besar orang Melayu Medan adalah orang karo. Buktinya 
bahwa warga Melayu yg sudah tua sekali kalau mereka masih hidup biasanya akan 
paham bahasa Karo. Sejalan dengan perubahan jaman waktu itu dimana banyak orang 
karo yg masuk Islam, akhirnya orang karo tsb tidak lagi memakai marga nya. Dan 
akhirnya mereka disebut orang Melayu, dimana sebenarnya melayu bukan lah 
termasuk suku, akan tetapi Melayu adalah sebagai gambaran bahwa mereka adalah 
muslim. Karena Melayu identik dengan Islam.
Bahkan kemarin ada info yg ingin mem'batak' kan Guru patimpus dimana dikatakan 
bahwa guru Patimpus adalah keturunan dari Sisinga Mangaraja.
Apakah kita akan berdiam diri?
 
Wassalam,
 
Rudy Surbakti
Medan 

--- On Sun, 7/6/08, Radio Karo Accees Global <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Radio Karo Accees Global <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [infokaro] Re: [tanahkaro] Menggugat Fakta Kota Medan
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [email protected], [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, July 6, 2008, 1:16 PM






Rapatkan barisan, siap grak........ ........


On Sun, Jul 6, 2008 at 12:13 PM, Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED] com> 
wrote:










sumber: http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ sumatera- 
utara/menggugat- fakta-kota- medan.html

Menggugat Fakta Kota Medan 



Saturday, 05 July 2008 


SEJAK1971,seluruh masyarakat sepakat 1 Juli 1590 dijadikan tonggak sejarah 
lahirnya Medan sebagai kota.Sejak itu tidak ada yang menggugat keabsahan 
penetapan hasil seminar yang digelar selama tiga hari tersebut. 
Letusan petasan dan pawai arak-arakan yang mewarnai hari jadi Kota Medan 
ke-418, Selasa (1/7), masih menyimpan permasalahan sejarah yang mulai 
terlupakan. Medan yang didengungdengungkan menuju kota metropolitan pun mulai 
meninggalkan sejarahnya. Bak angin segar yang berembus di Kota Medan dan 
berlalu begitu saja.
Pembangunan yang menjadi motor penggerak zaman tak lagi menghiraukan keaslian 
dan keasrian peninggalan sejarah kota ini. Masyarakat dan petinggi pemerintahan 
seakan tak ambil pusing dengan kesinambungan akar sejarah. Sejarawan dari 
Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari menyatakan, sejatinya, jika 
Medan ingin menjadi kota metropolitan, pola perkembangan pembangunannya harus 
berkesinambungan dengan masa lalu.
Pembangunan kekinian tidak begitu saja meratakan sisa-sisa peninggalan sejarah. 
Ichwan berpendapat Medan dapat melihat pola perkembangan kota seperti di 
negara-negara Eropa.Di sana masyarakat maupun pejabat pemerintahnya menjadikan 
bangunan bersejarahnya sebagai bagian pusat perkembangan kota, bukan 
menghilangkan seperti yang dilakukan terhadap sejumlah bangunan sejarah di 
Medan. 
Ketidakpedulian terhadap nilai sejarah yang dilakukan pemerintah kota terjadi 
karena masyarakat umumnya tidak mengetahui atau memang tidak mengerti akar 
sejarah Kota Medan. Sebab, ada kesalahan penafsiran ketika 1 Juli 1590 
dijadikan tonggak sejarah awal mula ditemukannya Medan. Begitu juga ketika Guru 
Patimpus dijadikan seorang tokoh pahlawan yang menemukan Kota Medan.
Padahal, berdasarkan Riwayat Hamparan Perakyang menjadi landasan penetapan hari 
jadi Kota Medan,jauh sebelum Guru Patimpus datang, Medan sudah menjadi sebuah 
perkampungan. Dalam naskah Hamparan Perak tersebut juga tidak disebutkan 
tanggal dan tahun kedatangan Guru Patimpus. Padahal, panitia penetapan hari 
jadi Kota Medan ketika itu memutuskan tanggal berdasarkan kedatangan Guru 
Patimpus. 
Pun begitu, bukan berarti Guru Patimpus tak punya andil dalam perkembangan kota 
ketika itu.Merujuk dari sejarah riwayat tersebut, Guru Patimpus lebih dikenal 
sebagai penyebar agama Islam bagi suku Karo ketimbang penemu Kota Medan. Ichwan 
menambahkan, akar sejarah penetapan hari jadi Kota Medan akan lebih tepat jika 
dihubungkan dengan perkembangan perkebunan yang sempat menggemparkan 
perdagangan dunia dengan kualitas tembakaunya ketika itu. Jadi, sisasisa 
peninggalan sejarah yang umumnya berupa bangunan lama peninggalan arsitektur 
Eropa dapat lebih dihargai dan dilestarikan keasriannya. 
Satu hal yang perlu diingat,sejarah perkembangan perkebunan di Medan bukan 
peninggalan Belanda. Bangsa Eropa datang ke Sumatera ketika itu murni untuk 
misi dagang. Jauhharisetelahperk ebunan semakin maju,pemerintah kolonial 
Belanda baru masuk ke Medan untuk mengutip retribusi pajak. 
''Jadi, perkembangan perkebunan bukan semata-mata warisan Belanda,"ungkap pria 
yang menjabat Ketua Pascasarjana Antropologi Sosial Unimed itu. Ichwan 
memaparkan, penetapan hari jadi Kota Medan yang selama ini diperingati 
merupakan dasar putusan yang bersifat emosional. Sejarawan ketika itu tidak 
menginginkan hari jadi Kota Medan dihitung berdasarkan warisan Belanda. 
Sebab,sebelum 1971,hari jadi tersebut ditetapkan berdasarkan pembentukan 
gemeente (Dewan Kota) pada 1 April 1909 oleh kolonial Belanda. 
Saat itulah Medan ditetapkan sebagai kota madya. Seharusnya, penetapan hari 
jadi Kota Medan berdasarkan perjalanan sejarah yang jelas dasarnya.Hal itu agar 
generasi penerus dapat memahami sejarah Kota Medan secara benar dan menghargai 
peninggalannya. Saksi sejarah penetapan hari jadi Kota Medan,Tengku Lucman 
Sinar mengakui bahwa landasan perubahan penetapan tanggal tersebut berangkat 
dari rasa nasionalisme. Sebab,mereka tidak ingin menjadikan landasan hari lahir 
Medan berdasarkan warisan sejarah Belanda. 
Pada 1971,Wali Kota Medan saat itu,Soerkani menunjuk Tengku dan beberapa 
rekannya, yakni Prof Mahadi, HM Said,dan Mariam Darius menjadi panitia sejarah 
dan hari jadi Kota Medan. Motivasinya ketika itu yakni mencari penemu Kota 
Medan yang merupakan penduduk pribumi asli.Sebab,sebelumn ya hari jadi 
didasarkan pada penemuan Kota Medan oleh orang Belanda. Dari situlah, dia 
beserta rekan-rekannya mencari penemu pertama Kota Medan. 
Setelah dilakukan riset serta studi pustaka, diketahuilah Guru Patimpus 
Sembiring Pelawi merupakan orang pertama yang membuka kawasan hutan antara 
Sungai Deli dan Babura yang kemudian menjadi Kampung Medan. Ketua Fraksi PKS 
DPRD Medan Ikhrimah Hamidy pun sepakat pengkajian ulang hari jadi Kota Medan . 
Namun, itu harus melalui pengkajian mendalam terkait sejarah kota sehingga 
dasar hukum dan sejarahnya kuat.Dengan demikian,tidak ada lagi gugat-menggugat 
asal mula kota Medan dari generasi berikutnya. (m rinaldi khair/ ulfa andriani) 
Komentar: Mengapa dari semenjak Tahun 1971 Sejarah keberadaaan kota medan yang 
sudah disepakati bahwa penemunya adalah Guru Patimpus Sembiring Pelawi Tidak 
pernah diganggu gugat?, namun mengapa akhir-akhir ini marak dipertayakan 
tentang keabsahan bahwa Patimpuslah Sososk Pendiri Kota Medan, apakah ini 
karena adanya kegiatan Mahasiswa Karo Yang Rutin Setiap Tahun (dalam 3 Tahun 
Terakhir) Melakukan Kegiatan Memperingati Hari Ulang Tahun Kota Medan Dengan 
Aksi Peduli Guru Patimpusnya?

Best Regarts

www.dausmedia. cjb.net


 














      

Kirim email ke