Sumber: http://www.liputan6.com/sosbud/?id=163733
Liputan6.com, Berastagi: Setelah peristiwa agresi
militer Belanda kedua ke Indonesia pada 19 Desember 1948, Presiden
Soekarno ditangkap di Yogyakarta. Selanjutnya, Bung Karno bersama Sutan
Syahrir serta Haji Agus Salim diasingkan ke Berastagi, Sumatra Utara,
selama 12 hari sejak 22 Desember 1948.
Rumah pengasingan Bung Karno terletak dua kilometer dari kota wisata
Berastagi, Tanah Karo. Rumah pengasingan berukuran 10 kali 20 meter ini
dikelilingi halaman seluas dua hektare. Rumah yang dibangun pada 1719
itu dulu ditempati seorang perwira militer Belanda yang sering disebut landshup
huis.
Kini, di rumah tersebut berdiri sebuah monumen replika Bung Karno yang
sedang duduk bersila. Ciri khas bangunan Belanda ini masih tetap
dipertahankan. meski pernah direnovasi pada 1957 lalu. Perabotan dan
kamar tidur yang pernah dipakai Bung Karno juga masih tetap utuh.
Pada dinding ruang, terpampang dua lukisan hasil goresan tangan pelukis
Jan Suluters yang melukiskan kehidupan petani di Eropa, selain lukisan
bunga karya seniman Belanda lainnya, Ivan Vrialand. Di luar rumah,
sebuah taman bunga mengelilingi.
Dari Berastagi, Bung Karno, Agus Salim, dan Sutan Syahrir kembali
diasingkan di sebuah rumah tua di Parapat, persis di tepian Danau Toba.
Suasana alam yang sejuk serta menawan menemani hari-hari Bung Karno
setiap hari. "Kurang lebih Bung Karno di sini dua bulan," kata Suparto,
penjaga rumah. Kini, lokasi ini dijadikan sebagai wisma Provinsi Sumut
untuk menerima tamu gubernur yang datang dari dalam maupun luar negeri.
Sayang, di rumah pengasingan baik di Berastagi maupun Parapat tak
banyak ditemukan koleksi buku-buku karya Bung Karno yang dapat menjadi
pelajaran sejarah bagi generasi muda.(BOG/Chaerul Dharma dan Cuk
Arbianto)
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net