Sumber: 
http://hariansib.com/2008/08/17/berastagi-kota-pariwisata-nyaris-terlupakan/

Kabupaten Karo merupakan daerah yang memiliki keindahan alam yang cukup eksotik 
serta kebudayaan dan adat istiadat yang unik. Sebagai daerah wisata, Karo 
memiliki nilai tersendiri di hati para pengunjungnya.

Salah satu daerah tujuan wisata (DTW) yang sudah cukup dikenal di Indonesia, 
bahkan ke luar negeri adalah Kota Berastagi. Selain udaranya yang sejuk, juga 
didukung pemandangan alam yang menarik. Kelebihan lainnya, Berastagi dan daerah 
sekitarnya merupakan sentra produk buah dan sayur-sayuran serta tersedianya 
pemandian air panas alami. Para pengunjung bisa langsung turun ke ladang petani 
untuk memetik sayur dan buah yang diinginkannya. Kita juga bisa menatap 
keindahan alam kota Berastagi dan desa sekitarnya dan puncak Gunung Sibayak 
dari Bukit Gundaling. Gunung Merapi Sibayak juga menjadi salah satu objek 
wisata bagi mereka yang hobi mendaki gunung.

Kota Berastagi pernah mengalami masa jayanya. Pemerintah cukup aktif menggelar 
berbagai kegiatan, untuk menarik wisatawan di antaranya Pesta Buah dan Bunga 
dan Mejuah-juah yang rutin dilakukan setiap tahun. Ketika itu, hampir setiap 
hari, ratusan pengunjung berlalu-lalang di kota itu yang secara tak langsung 
mendongkrak perekonomian masyarakat setempat. Bukan hal yang sulit untuk 
menjumpai wisatawan manca negara. Tingkat hunian hotel dan penginapan cukup 
tinggi.

Namun seiring dengan perjalanan waktu, semangat untuk menyemarakkan Berastagi 
sebagai DTW perlahan redup. Masyarakat juga seakan kehilangan gairah. 
Lingkungannya juga terlihat kurang terawat, seakan kehilangan marwah, 
lalulintas semrawut. Pajak tradisional kurang dikelola dengan baik, sehingga 
wisatawan tidak merasa nyaman berbelanja. Bule-bule berkeliaran juga semakin 
langka terlihat. Dan tidak sedikit penginapan yang gulung tikar. 
Pendaki-pendaki gunung hanya wisatawan lokal, itu pun akan ramai ketika akhir 
pekan atau musim libur tiba.

Sekarang ini, kita akan sulit melihat atraksi budaya setempat, Pesta Bunga dan 
Buah juga tidak lagi rutin dilaksanakan. Kalaupun dilakukan, pengunjung tidak 
seperti yang diharapkan. Itu merupakan akibat kurangnya promosi pariwisata dan 
budaya Karo ke dunia luar.

Fasilitas yang dulu dibangun pemerintah untuk mendukung Berastagi sebagai kota 
wisata, kini banyak yang terlantar. Salah satu contoh adalah open stage. Dulu, 
hampir setiap akhir pekan, bahkan hari-hari biasa, tempat tersebut selalu ramai 
dikunjungi masyarakat karena ada pagelaran atraksi budaya Karo atau hiburan 
lainnya. Sekarang, open stage terlihat kumuh tidak terawat dan jarang 
dipergunakan. Atraksi budaya Karo sangat sulit didapatkan.

Bukit Gundaling yang memiliki kekhasan tersendiri juga mulai terlupakan 
pengunjung dan terlihat semakin kumuh dan gersang. Infrastruktur jalan yang 
tidak memadai serta kebersihan lingkungan yang terabaikan, mungkin salah satu 
penyebab Gundaling dilupakan.

Sedangkan untuk agrowisata, juga terkesan semakin sulit dikembangkan karena 
lahan pertanian semakin sempit akibat pengalihan fungsi menjadi perumahan. Di 
sisi lain, jalur alternatif tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Penulis berpendapat, sekarang ini sepertinya pemerintah dan masyarakat 
Berastagi hanya pasrah kepada keadaan alam saja. Keadaan masyarakat saat ini 
semakin sulit oleh himpitan ekonomi.

Padahal, diyakini, bila potensi alam Berastagi terus dikembangkan, bukan tidak 
mungkin Berastagi akan menjadi daerah tujuan wisata utama di Indonesia, yang 
selalu akan dikenang pengunjungnya dan secara tak langsung mereka juga akan 
mempromosikannya kepada keluarga dan teman-temannya. Bukit-bukit yang ada 
dikelola dengan apik, hutannya dijaga hingga wisatawan yang berkunjung bisa 
betah dengan kesejukan dan keindahan alamnya.

Untuk itu, sangat wajar bila pemerintah dan masyarakat kembali bersama-sama 
menggali potensi wisata dan budaya kota Berastagi. Atau bila memungkinkan 
dibentuk suatu lembaga yang khusus mengelola dunia wisata Karo. Warga Karo 
harus tingkatkan kepeduliannya, ramah kepada pengunjung dan menjaga lingkungan 
sekitar, agar Karo khususnya Kota Berastagi sebagai daerah wisata kembali 
berjaya.

Dalam hal ini, marilah kita turut serta dalam mengembalikan citra Berastagi 
yang nyaris terlupakan sebagai DTW dan sebagai kota budaya di Sumut. Kabupaten 
Karo bukan hanya terkenal karena pertaniannya saja, tetapi juga wisata, adat 
dan budayanya.

Pariwisata Berastagi jaya, pasti akan berpengaruh langsung terhadap kehidupan 
masyarakatnya. Kesempatan kerja akan semakin terbuka luas. Mari kita perduli!!!

Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net



      

Kirim email ke