Saya pernah diajak oleh seorang kawan untuk menemani ybs buka puasa,
dan saya dibawa ke C’TU di Tebet Utara,Jakarta..
Karena saya tidak puasa maka saya ingin memilih makanan ringan saja.
Untuk memilih-milih tsb saya mulai jalan melihat dari stan ke stan. Dipojok ada
saya lihat stan bernama “KARBOE”. Namanya cukup asing bagi telinga saya dan
sewaktu saya tanya
kepada pelayannya dia mengatakan bahwa
itu adalah singkatan dari “Karo Burger” karena pemiliknya katanya orang Karo.
Beberapa saat saya berbicara maka pemiliknya datang dan sayapun mulai
ngobrol dengan ybs. Ybs adalah anak muda yang
baru setahun lulus dari Teknik Industri di sebuah perguruan tinggi di Bandung.
Sebaik lulus ybs bekerja di sebuah perusahaan swasta milik asing yang
bergerak dibidang teknik.
Sebagai anak muda maka ybs
pernah berkunjung ke C’TU dengan
teman-temannya untuk makan malam
sekalian menikmati musik yang diselenggarakan pada malam Sabtu
dan malam minggu (kecuali selama bulan puasa ).
Karena dilihatnya ada satu buah stan yang masih kosong maka naluri
wiraswastanya pun timbul dan menanyakan kepada managemen CTU apakah bisa
disewa. Kemudian gayungpun bersambut dengan catatan bahwa ybs hanya boleh
jualan burger dan minuman khusus karena
makanan/minuman setiap stan tidak boleh
duplikasi.
Demikianlah sehingga ybs mencari tenaga kerja yang dianggap bisa dan mulailah
ybs bikin usaha burger dan beberapa jenis
minuman ringan.
Katanya suatu waktu ybs juga mau memodifikasi masakan Karo yang bisa
dibuat go nasional tentunya dengan penyajian yang disesuaikan. Sebagai contoh
katanya cipera bisa dimodifikasi dengan
menambah potongan sosis dan jamur dan disajikan sebagaimana sajian pendahulu
seperti sop yang biasa disajikan direstoran diluar sana.
Demikian……, PF untuk “Karboe”