--- In [EMAIL PROTECTED], Ginting Christina <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
"... Kepengurusan terbentuk lewat komunikasi jarak jauh itu tadi, ya
memang begitu dari dulu, tapi kan nggak bisa dianggap kepengurusan itu
ecek-ecek ..."


Dari dulu, Perkoeah eksis dan bahkan sempat dikagumi karena
kegiatan-kegiatan dan pemberitaan-pemberitaan atas kegiatan-kegiatannya.
Setelah Christina br Ginting masuk ke dalam kepengurusan Perkoeah,
persoalan yang dihadapi setiap harinya adalah soal perubaten antar
pribadi-pribadi.


"... Masa Hartawati br Gurusinga jadi ketua Perkoeah (itu masa
keemasan perkumpulan ini) ada rencana membuat akte notaris tapi tdk
jadi karena Hartawati (Nd Budi) pulang ke Indonesia ..."


Apakah itu masa keemasan? Saat itu saya tahu Sdr. Christina br Ginting
sangat anti terhadap ketua Perkoeah. Entah mengapa, saya tidak tahu.
Saya sebagai wakil ketua Perkoeah mencoba menjembataninya.

Soalnya begini, saya adalah tim sukses yang mengupayakan sdr. Hartawati
Gurusinga terpilih menjadi ketua Perkoeah dengan menempatkan diri saya
sendiri  sebagai wakil ketua. Karena Hartawati Gurusinga terpilih
sebagai ketua,  beberapa orang mengambil jarak dari Perkoeah. Salah satu
diantaranya adalah Christina br Ginting. Selanjutnya saya mencoba
menjembatani masalah ini dengan melakukan pendekatan terhadap Christina
br Ginting. Ketika Christina br Ginting terpilih sebagai wakil ketua,
beberapa orang lainnya lalu mengambil jarak pula dari Perkoeah.


" ... ada rencana membuat akte notaris tapi tdk jadi karena Hartawati
(Nd Budi) pulang ke Indonesia ..."



Perkoeah sudah punya akte notaris dengan status sebagai yayasan
(stichting).  Hartawati Gurusinga termasuk salah seorang pendirinya. 
Akte itu telah dibuat jauh sebelum Hartawati pulang ke Indonesia.  Ini
artinya kam memang sok tahu tentang Perkoeah,  makanya kam membencinya,
tapi mau menerima ketika saya menawarkan agar kam menjadi wakil ketua
(untuk diusulkan kepada teman-teman, bukan mengangkat kam. Kalau
akhirnya lobiku berhasil membuat kam jadi wakil ketua, itu lain lagi
soalnya; seperti lobiku agar kam diterima sebagai wakil pemimpin umum
Sora Mido waktu itu).



".. Sejak itulah perkumpulan ini merosot terus karena beberapa
orang-orang Karo di Eropa yg dulu merasa bagian dari perkumpulan ini
tidak lagi merasa tertarik. Buktinya  kerja tahun III tdk banyak lagi
org yg muncul, enggo teremen beligan panitia asangken kalak si reh ..."


Setahu saya, Perkoeah hanya pernah mengadakan kegiatan kerja tahun.
Kegiatan-kegiatan masyarakat Karo di Belanda biasanya dilakukan oleh
Tartar Bintang. Dalam pemberitaannya, terutama di milis ini, saya selalu
menmpatkan kegiatan-kegiatan Tartar Bintang sebagai bagian Perkoeah
(karena saya ingin Perkoeah kelihatan aktif dan kreatif)

Kalau itu yang dimaksud dengan Jaman Keemasan Perkoeah,
berterimakasihlah kepada Tartar Bintang yang saya bentuk. Sampai saat
ini, Tartar Bintang masih mendapat pesanan menari atau bermain musik.
Hanya karena kesibukan saya dan keberadaan saya di Indonesia yang
membuat saya menolak banyak pesanan.

Memang, Perkoeah berhasil menerbitkan kembali Sora Mido. Herannya,
karena saya selalu menekankan peran Perkoeah dalam penerbitan kembali
Sora Mido, orang-orang seperti tidak melihat peran saya dalam menggalang
kekuatan sehingga orang-orang Karo di Eropah berkeinginan membantu
penerbitan kembali Sora Mido. Bahkan saya yang ikut menyumbang uang
untuk penerbitan Sora Mido (100 euro) sepertinya hilang ditelan bumi
(dan saya tidak bilang apa-apa. )  Dalam catatan saya,  Christina br
Ginting tidak terlibat apa-apa dalam penerbitan kembali Sora Mido. 
Nantinya, agar dia juga bisa terlibat, saya ajak bergabung dengan Sora
Mido dan, bahkan, menempatkan dia sebagai wakil pemimpin umum (atas lobi
saya ke teman-teman yang lain).

Bayangkan, saya bersedia menempatkan perempuan menjadi ketua Perkoeah
dan saya sendiri sebagai wakilnya. Bayangkan lagi, saya bersedia
menempatkan Christina br Ginting sebaga wakil pemimpin umum Sora mido
dan saya sendiri hanya seorang anggota redaksi. Keduanya bisa begitu
karena lobi-lobi saya.

Sampai saat ini saya masih tetap positip terhadap perempuan. Perjuangan
saya mengemansipasi perempuan tidak akan pernah berhenti hanya karena
orang-orang menuduh saya "labo man acak-acakken ritik nggawang".

Sekarang, tercatat di dalam sejarah Karo, pemimpin redaksi perempuan
Karo yang pertama adalah Ita Apulina Tarigan. Ini pula yang membuat
beberapa perempuan, termasuk Christina, membenci saya.

Apakah perempuan selalu tidak suka bila perempuan lain dipersilahkan
untuk maju? Itulah analisis saya dalam persoalan Perkoeah yang
diributkan oleh Christina br Ginting. Masalah kecemburuan dan iri
(sedikit ditambah dengki). Dia punya pandangan, saya juga punya
pandangan.

Soal mengundurkan diri, di milis ini juga Christina br Ginting pernah
menghujat Perkoeah. Mengapa tidak saat itu dia mengundurkan diri dari
kepengurusan?

Dikatakannya, siapa yang ingin tahu alasan pengunduran dirinya silahkan
mengirim email ke dia. Beberapa tahun lalu dia sudah mengirim email2
yang menjelek-jelekkan saya ke seluruh dunia. Dan saya tetap melakukan
perjuangan untuk Karo, tak terpengaruh atas cekuraknya. Mengapa sekarang
ingin mengulangi kembali apa yang sudah dilakukannya dua tahun lalu
terhadap saya?

Saya jadi tertarik pada judul sebuah tulisan di milis ini: BEGU (sebuah
renungan).

Juara R. Ginting

Kirim email ke