Percakapan Sora Sirulo kemarin dengan Kepala Museum Sumut sungguh mengejutkan.
Dia mengakui aksi-aksi yang dilakukan para mahasiswa antropologi USU yang
tergabung dalam SGC (Study Group of Culture) adalah pendobrak dari semua
kebuntuan yang mereka alami selama ini dalam upaya penyelamatan Benten Putri
Hijau.
Dengan aksi-aksi mahasiswa antropologi itu (yang disemangati oleh Pemimpin Umum
dan Pemimpin Redaksi SORA SIRULO), pihak developer mulai melembekkan hatinya.
Setidaknya, Balai Arkeologi telah diijinkan melakukan penggalian di sana. Dari
penggalian itu pula, ditemukan 4 kapak batu dari jaman pra sejarah di lokasi
benteng.
Apa artinya 4 kapak batu itu? Masih sangat misterius. Kerajaan Haru muncul di
abad 11 M, kapak batu biasanya dari abad SM. Kok bisa, ya?
Entahlah, yang jelas para mahasiswa antropologi USU belum mau berhenti
melakukan aksinya. "Itu urusan mereka melakukan penggalian, urusan kita adalah
menyelamatkan lokasi sebisa mungkin," kata Remaja Barus, koordinator aksi yang
juga berada di depan saat rombongan moria GBKP mendobrak gerbang kantor Gubsu
dalam unjuk rasa anti RUU Pornografi beberapa waktu lalu.
Sejak 2 bulan ini, para mahasiswa antropologi USU tampaknya kembali "beringas"
seperti di masa-masa kami mahasiswa dulu, khususnya yang orang Karo.
Mudah-mudahan mahasiswa Karo ke depannya tidak hanya jago mengulas si la lit.
Juara R. Ginting