Sumber: 
http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=5&id=1323

Menjadi calon anggota DPR/DPRD atau legislatif dikejar dan dicerca. Ini
bisa kita lihat menjelang Pemilu 2009. Begitu banyak yang tertarik
untuk turut serta berkompetisi menjadi calon legislatif (caleg).
Terlepas, apakah mereka seorang pengangguran atau bukan. Yang jelas,
sebelum mencalonkan diri sebagai caleg, mestinya mereka memiliki visi
dan misi yang jelas yakni ingin berjuang untuk kesejateraan masyarakat,
bukan sebaliknya menjadi caleg agar memiliki pekerjaan. Kalau tujuannya
menjadi caleg seperti yang disebutan terakhir (cari pekerjaan-red), hal
itu tentunya sangat disayangkan. Pasalnya, rakyat banyak menaruh
harapan kepada para caleg kalau nantinya mereka terpilih bisa membawa
perubahan ke yang lebih baik. Demikian opini masyarakat yang mengemuka
dalam acar Warung Global yang disiarkan radiio Global FM, Kamis (15/1)
kemarin. Berikut rangkumannya.





Pande di Pandak Gede menjelaskan, sekarang musim pemilu sehingga banyak
yang menyoroti hal ini. Semua negara di dunia mengklaim diri sebagai
negara demokratis, tapi sistem pemerintahan yang mengamini aspirasi
rakyat tergantung kondisi para pelakunya.



Sedangkan Ketut Nasir di Denpasar mengatakan, kalau benar semua caleg
tidak mempunyai pekerjaan, berarti rakyat Indonesia dipakai objek oleh
beliau-beliau ini. Padahal penyandang cacad yang jumlahnya 29 ribu di
Bali semua punya pekerjaan. Maka lebih baik caleg yang tidak punya
pekerjaan tidak usah menjadi caleg. 'Sebenarnya DPR kita belum pernah
membela rakyat kecil,' ujarnya.



Jero ini berpendapat caleg 80 persen pengangguran, rupanya pernyataan
politis untuk kepentingan politik guna menyudutkan calegnya. Sementara
Guatama di Tampak Siring menyatakan hal itu sangat memprihatinkan, tapi
kalau tidak mengisi blangko perlu dipertanyakan, apakah karena malu
atau apa. 'Kalau saya lihat banyaknya caleg ini ingin mencari pekerjaan
yang lebih baik. Artinya penghasilannya lebih tinggi dari penghasilan
mereka sekarang. Diharapkan kepada para caleg jangan sampai kesan
seperti ini menjadi kenyataan karena memalukan,' pintanya.



Kalau caleg tidak punya pekerjaan nantinya akan berdampak buruk
terhadap parlemen atau lembaga yang sangat kita hormati dan kita
muliakan. Kepada yang terpilih nanti agar betul-betul bertugas sesuai
dengan fungsinya dan betul-betul menjadi mediator permasalahan yang
terjadi di masyarakat. Sehingga, masyarakat tidak apatis terhadap
partai yanga da. Dan, diharapkan agar partai jumlahnya lima saja,
sehingga pertarungannya semakin sehat.



Sedangkan Sangging di Kemenuh Gianyar melihat, memang banyak caleg yang
tidak memiliki pekerjaan. Jadi rakyat membuka lapangan kerja melalui
KPU. Melalui KPU istilahnya membuka lowongan kerja untuk mewakili kita
di sono-nya.



Arjun di Kaba-Kaba menjelaskan tidak benar kalau 80 persen caleg tidak
memiliki pekerjaan, karena dalam syarat caleg minimal harus memiliki
pekerjaan. Seandainya dia menjadi kepala desa, kaur harus berhenti
dulu. Kalau Kepala Desa harus cuti. Menjadi caleg tidak main-main,
karena mereka sebagian besar adalah pengusaha, syarat menjadi caleg
berapa menyetorkan dana caleg untuk administrasi. Di sisi lain, kalau
sudah terpilih mereka harus tahu fungsi legislatif. Misalnya membuat
Undang-Undang jadi harus memiliki pendidikan tinggi, cerdas dan
pengalaman.



Nang Cekov di Denpasar mengatakan, di Bali mungkin saja ada caleg yang
tidak punya pekerjaan. Sekarang sejauhmana mempersiapkan mental kita,
kalau seandainya menjadi calog dan konsep apa yang akan kita bangun.
Kalau memang ngayah tidah harus cadi caleg, bisa bergabung ke dalam LSM
atau yang lainnya. Inilah yang harus ditumbuhkembangkan. Kalau kita
sudah berbuat baik tidak perlu sosialisasi. 'Sejauhmana kita memiliki
kepekaan sosial. Kalau sudah duduk di dewan paling tidak ada prestise
dan prestasi, prestasi berupa gaji besar dan prestise di masyarakat
terpandang,' tambahnya.



Dan, kepada KPUD agar memberikan satu formulir yang jelas, pekerjaannya
apa, agar tidak menimbulkan image yang kurang bagus. Meski sah-sah saja
yang tidak punya pekerjaan mencari pekerjaan. Cuma masalahnya, setelah
mendapat pekerjaan apa yang mampu dilaksanakan.



Dengkek di Tabanan berpendapat tidak punya pekerjaan tidak masalah, dan
mencalonkan diri menjadi caleg. Setelah menjadi anggota dewan mau
bekerja untuk rakyat atau tidak? Kalau betul-betul mau bekerja untuk
rakyat, kenapa harus dipermasalahkan. 'Kalau mau betul-betul bekerja
untuk rakyat maka harus kita dukung,' pintanya.



Sedangkan Nan Tualen di Tabanan menjelaskan, mestinya caleg tidak harus
punya pekerjaan, tapi yang terpenting format pengalaman kerjanya yang
penting dan track record-nya harus diketahui. (panca)

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke