Sumber: http://posmetro-medan.com/index.php?open=view&newsid=2823

SOROTAN masyarakat terhadap kasus meninggalnya Ketua DPRD Sumut Abdul Aziz 
Angkat lebih dibidikkan kepada persoalan lemahnya pengamanan dari aparat 
kepolisian.

Padahal yang lebih mengerucut lagi bisa diarahkan ke kinerja intelijen. 
Bagaimana pandangan DR.AC Manullang? Berikut wawancara Soetomo Samsu, kru 
POSMETRO MEDAN, dengan pengamat intelijen ternama di Jakarta itu.

POSMETRO MEDAN (PM) : Bagaimana Anda melihat kasus tragedi tewasnya Ketua DPRD 
Sumut?

AC Manullang (AC) : Masalah pembentukan Provinsi Tapanuli itu kan sebenarnya 
sudah ramai sejak dua tahun lalu. Nah, masyarakat yang menghendaki provinsi itu 
tampaknya menggunakan kesempatan setelah adanya pergantian gubernur, dan 
kemudian pergantian Ketua DPRD yang sebelumnya dijabat (Abdul Wahab) 
Dalimunthe. Gubernur yang baru sudah memberi persetujuan, mereka tekan juga 
Ketua DPRD yang baru.

PM : Dari aspek pengamanan?

AC : Saya juga heran, mengapa aparat kepolisian atau pun jaksa yang juga punya 
aparat intelijen tidak memiliki data sehingga peristiwa itu terjadi. Ini 
sungguh disayangkan. Terjadi pemukulan terhadap pejabat negara loh. Ini luar 
biasa. Boleh saja disebut karena jantung, tapi kambuhnya jantung kan karena 
dipukuli.

PM : Maksud Anda, kinerja aparat intelijen buruk?

AC : Saya melihatnya begini. Di sini juga ada orang dalam DPRD yang terlibat, 
sehingga massa bisa tahu pintu masuk dan timingnya tepat yakni saat ada 
paripurna. Lantas, kalau polisi merasa kerepotan, mestinya minta back up dari 
tentara. Mestinya, sejak dini intelijen tahu karena dia bisa melakukan 
penyadapan, untuk bisa mengetahui siapa sponsor mereka dan apa yang akan 
menjadi sasaran aksi. Kalau sudah tahu aktor intelektualnya dan sasaran aksi, 
intelijen bisa mencegah secara dini dengan mendekati aktornya itu, untuk 
mengingatkan jangan bertindak anarkhis. Nah, saya juga melihat ada kesalahan 
fatal dari aparat yang mencoba mengamankan Abdul Aziz dengan membawanya ke 
ruang kerjanya. Seharusnya, dalam situasi seperti itu Abdul Aziz diselundupkan 
dan disamarkan sebagai orang yang ikut demonstrasi. Intelijen juga harus tahu 
orang-orang yang dikerahkan itu dari Ormas mana. Saya juga mempertanyakan peran 
Gubernur. Mestinya dia juga punya data intelijen karena
 punya staf di bagian Kesbang.

PM : Siapa sih dalangnya?

AC : Selain ada di Medan, bukan tidak mungkin aktor intelektualnya ada di 
Jakarta. Sebab Jakarta punya perhatian yang serius mengenai Provinsi Tapanuli. 
Juga perlu diingat, selalu ada keterkaitan politik di Sumut dengan politik di 
Jakarta. Sebaliknya, politik di Jakarta punya keterkaitan dengan Sumut, 
terlebih pro kontra Provinsi Tapanuli itu cukup tajam.

PM : Konkritnya seperti apa?

AC : Saya kasih contoh. Siapa tahu ada orang Jakarta yang ternyata lebih 
menghendaki terbentuknya Provinsi Nias, Provinsi Batak Karo, Batak Simalungun, 
atau yang lain. Yang perlu diingat lagi, ini mendekati Pemilu. Saya melihatnya 
ini bagian integral Pemilu 2009. Titik-titik rawan Pemilu 2009 menjadi 
bertambah, tak hanya Aceh, Maluku, atau pun Papua.

PM : Lantas siapa yang harus disalahkan?

AC : Saya sebagai pengamat intelijen tidak pernah menyalahkan siapa pun.***

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke