DARI ribuan calon anggota legislatif (caleg) yang kini sedang berjuang 
mengampanyekan diri agar terpilih menjadi salah seorang wakil rakyat, 
barangkali tak semuanya bobrok. Yang baik mungkin juga banyak. Namun, 
masalahnya, tak banyak warga yang tahu.Padahal, seperti yang kita tahu,  dalam 
politik, persepsi adalah realita.

Tak heran, setelah Mahkamah Konstitusi (MK) mengeliminasi aturan nomor jadi 
berdasar nomor urut terkecil, beberapa waktu lalu, sejumlah baliho, spanduk, 
dan poster aneka ukuran kembali marak bertebaran di sejumlah sudut kota. Mulai 
di pagar- pagar bangunan di pinggir jalan, tiang-tiang lampu penerang, kios 
rokok, kaca angkutan kota, hingga di pohon-pohon pelindung kota. Semua isinya 
tentu hanya yang baik-baik. Semua pesan mengusung kemuliaan dan harapan 
perubahan.

Tentu saja, ada beragam alasan kenapa para caleg memilih model kampanye yang 
seperti ini. Selain murah, cara ini sangat mudah. Tapi, dibanding yang lain, 
justru inilah cara yang paling efektif untuk sekadar bisa dikenal.

Terbukti, hanya dalam kurun sebulan, sejumlah wajah yang awalnya asing mendadak 
terasa akrab karena selalu saja terlihat ke mana pun kita pergi. Dalam kacamata 
demokrasi, ini sangat positif. Paling tidak, kita menjadi tahu siapa yang harus 
kita pilih.

Masalah kemudian muncul karena kenal wajah dan nama saja ternyata tak selamanya 
berkorelasi positif dengan pilihan. Bahkan di beberapa kasus, kenal justru 
menghambat lantaran apa yang dikenal warga bukan hal yang baik-baik, melainkan 
sebaliknya.

Terkait hal ini, sejumlah caleg pun lantas memilih cara berbeda dalam 
mengampanyekan diri. Beberapa memilih mengampanyekan diri melalui media massa 
dengan alasan lebih elegan. Ada juga yang meniru Barrack Obama, memanfaatkan 
internet dan memajang diri di sejumlah situs, tak terkecuali facebook.

Tapi, sama dengan model "kampanye pohon", "kampanye tiang listrik", dan model 
"kampanye angkot" yang murah, meriah, tapi efektif, model kampanye di media 
massa termasuk internet adalah juga tak berarti apa pun selama kiprah nyata 
dari mereka yang mengampanyekan diri tak terpublikasikan dengan baik. 
Bagaimanapun, menjual harapan saja kini sudah tak cukup. Terlebih setelah 
sejumlah anggota dewan justru merusak sendiri citra mereka dengan terlibat 
masalah hukum, ramai-ramai studi banding di penghujung tahun, atau meributkan 
dana aspirasi seperti terjadi di salah satu kabupaten di Jawa Barat beberapa 
tahun lalu.

Pemulihan kepercayaan memang menjadi jauh lebih sulit jika persepsi sudah 
telanjur negatif. Perlu amunisi kampanye yang lebih kreatif dari sekadar 
memajang poster di pohon atau wajah manis di situs facebook. Sebab, tanpa 
amunisi kampanye yang lebih kreatif, memajang poster di pohon dan di facebook 
hanya akan membuat mereka dikenal tak lebih  sebagai "caleg pohon" dan "caleg 
facebook" yang pasti tak positif bagi pendongkrakan suara. Padahal, sekali 
lagi, dalam politik persepsi adalah realita.

Karena itu tak peduli setulus apa pun niat para caleg terkait cita-citanya, 
mereka akan terlempar jika cara kampanyenya masih begitu-begitu saja. Bukankah 
setiap caleg nantinya akan mewakili beragam kepentingan massa yang 
pendukungnya? Tapi, bagaimana bisa jika untuk kampanye saja tak cukup cerdas 
hingga menempel poster di pohon masih dijadikan pilihan.

Sumber: http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/4819/caleg-pohon

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke