Kegagalan panen jagung petani Desa Kutaraja Kecamatan Tigabinanga, Karo
dengan varietas “Pasifik” musim panen Januari-Pebruari 2009 atau musim
tanam Nopember 2008 silam (SIB 5/2) disebabkan jamur putih dan busuk
tongkol (Fusarium moniliforme/Gibberella moniliforme). 


Hasil identifikasi laboratorium ini berdasarkan surat hasil penelitian
Dinas Pertanian Sumut, Nomor : VI.PT.110/BPTPH/2009, Hal : Hasil
Diagnosa Sampel Tongkol Jagung, tanggal 19 Pebruari 2009.

Penjelasan
ini dikatakan Pl Dinas Pertanian dan Perkebunan Karo, Ir Noumi Sinuhaji
kepada SIB, Rabu (25/2) di kantornya, Kabanjahe.

Hasil
laboratorium tersebut berdasarkan surat Dinas Pertanian dan Perkebunan
Karo nomor 0486/521/11/2009 tanggal 12 Pebruari 2009 dengan sampel
tongkol jagung dari Desa Kutaraja ditemukan kuat indikasi infeksi
cendawan diplodia maydis dengan biji jagung berwarna kecoklatan, lisut
dan busuk. 

Buah jagung yang terindikasi terserang penyakit
tersebut, tongkol tegak karena semakin ringan sebagaimana hasil
laboratorium Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTP)
Dinas Pertanian Sumatera Utara.

Setiap petani yang menggunakan
bibit jagung atau bibit lainnya dengan varietas baru atau varietas yang
belum ada demplotnya di Tanah Karo agar lebih dahulu berkoordinasi
dengan penyuluh setempat. Petani jangan hanya percaya setiap bibit yang
tanaman tumbuh subur, tapi tidak melihat sampai bagaimana produksinya.
Kendalanya bagi Dinas Pertanian Karo, setiap produsen bibit varietas
baru tertentu tidak melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian.
Produsen baru tersebut cukup mengandalkan izin sebagaimana dikeluarkan
pihak sertifikasi benih dari pusat. 

Sementara bila ada masalah
di lapangan, atau petani gagal panen, yang disalahkan pihak Dinas
Pertanian. Jadi kami menghimbau agar petani atau kios-kios yang
memasarkan suatu bibit baru berkoordinasi dengan pihak Dinas Pertanian.
Memang, sampai saat ini belum ada pestisida yang efektif untuk
mengendalikan penyakit busuk tongkol fusarium dan penyakit busuk
tongkol diplodia, ujar Noumi Sinuhaji.

Namun demikian, ada
beberapa hal yang harus dilakukan untuk meminimalkan serangan penyakit
tersebut pada musim tanam mendatang, ujar Noumi mengutip hasil
laboratorium yang ditandatangani Kepala Seksi Pengembangan Teknologi
dan Penentapan Rekomendasi Pengendalian OPT Dinas Pertanian Sumut Ir
Sri Aswita MM.

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke