Penyakit memang sengaja diciptakan oleh kaum-kaum kapitalis untuk mengeruk 
keuntungan. Sekarang jika kita hati-hati sudah barang tentunya akan terkena 
dampak oleh ulah para kaum kapitalis dunia yang serakah. 

Seperti yang pernah dikatakan oleh Dr. Supredo Kembaren beberapa tahun yang 
lalu ketika berdiskusi, "Orang sakit asam urat disarankan oleh dokter untuk 
tidak memakan kacang-kacangan, jika dilihat kandungan yang terdapat didalam 
kacang adalah untuk menambah darah. Jika orang/penderita tidak makan kacang 
tentunya akan kekurangan darah dan harus memakan suplemen penambah darah". Nah 
dari hasil percakapan ini kita dapat menilai memang kesehatan sudah 
dibisniskan, dan penyakit memang sengaja diciptakan untuk menghasilkan profit 
yang lebih besar.

Tinggal bagaimana kita cerdas menilainya, oleh karena itu bagi generasi muda 
karo rajin-rajinlah belajar agar dapat menangkis segala uji coba kaum kapitalis 
yang sadis. Cintai produk dalam negeri, terus berinovasi kembangkan daerah 
sendiri khususnya. Bujur

Terima Kasih,
            Steven Amor Tarigan     " Isi dunia ini cukup untuk memenuhi 
kebutuhan manusia namun,  Tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan satu 
orang yang serakah ! "     " Janganlah Engkau berjalan didepanku karena aku 
tidak akan mengikutimu,   Dan janganlah Engkau berjalan dibelakangku karena aku 
tidak akan memimpinmu,   Tetapi berjalanlah disampingku karena Engkau akan 
menjadi temanku"

--- On Thu, 2/26/09, ucok <[email protected]> wrote:
From: ucok <[email protected]>
Subject: [komunitaskaro] Flu Burung Ternyata Rekayasa Senjata Biologi AS & WHO
To: [email protected]
Date: Thursday, February 26, 2009, 5:39 AM











    
            Flu Burung Ternyata Rekayasa Senjata Biologi AS & WHO 

Tags: Flu_Burung,  AS,  WHO,  Siti_Fadilah_ Supari  

Cukup Saja

Total penilai: 0

Nilai: Belum Ada Penilai

23 views  

 Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health 

Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Fadilah 

berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam 

mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza 

(H5N1). Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-

perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke 

pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia.



Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! 

Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa 

Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa 

Inggris dengan judul It's Time for the World to Change. Konspirasi 

tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara mencari 

kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.



"Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung 

dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada Persda 

Network di Jakarta , Kamis (21/2). Situs berita Australia , The Age, 

mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO 

berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus 

avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.



Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes 

dari petinggi WHO. "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka 

gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan 

saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-

negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport , dan lain-lain. 

Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya.



Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 

1.000eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. 

Total sebanyak 2.000 buku. "Saat ini banyak yang meminta jadi dalam 

waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. 

Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana 

ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar," katanya.



Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 

1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua. "Saya sedang 

menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua 

bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, 

tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk 

kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah 

Pemerintahan George Bush," ujar menteri kesehatan pertama Indonesia 

dari kalangan perempuan ini.



Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang 

Yudhoyonoyang memintanya menarik buku dari peredaran. "Bukunya sudah 

habis. Yang versi bahasa Indonesia , sebagian, sekitar 500 buku saya 

bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa 

Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi 

menarik buku dari peredaran.



Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa 

senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku 

setebal 182 halaman itu.



Mengubah Kebijakan



Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah 

dunia. Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu 

burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya 

yang sudah dipakai selama 50 tahun. Perlawanan Fadilah dimulai sejak 

korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005.



Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh 

pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak 

flu burung.

"Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti 

lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam 

menanggulangi encaman virus flu burung, yaitu transparansi, " tulis 

The Economist.



The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi 

pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga 

terkena endemik flu burung 2005 silam. Ia kelabakan. Obat tamiflu 

harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara 

kaya yang tak terkena kasus flu burung. Di tengah upayanya mencari 

obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO 

Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk 

menyerahkan sampel spesimen.



Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta 

laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. 

Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong? Fadilah 

merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di 

Vietnam . Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil 

dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan 

kemudian dibuat bibit virus.



Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan 

fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari 

negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka 

mengambilnya dari Vietnam , negara korban, kemudian menjualnya ke 

seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi. Fadilah marah. Ia merasa 

kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu 

telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network 

(GISN) WHO. 



Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 

tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk 

mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu 

menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin. 

Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para 

ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan 

WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty 

di New Mexico , AS.



Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, 

selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah 

Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom 

Hiroshima . Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia? 

Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. 

Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok 

tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO 

mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak 

ketertutupan Los Alamos, memujinya.



Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi 

transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO 

CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia , yang konon telah 

ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata 

biologi Pentagon. Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga 

tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara.



Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen 

virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang 

imperialistik dan membahayakan dunia. Dan, perlawanan itu tidak sia-

sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, 

namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di 

Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di 

akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus 

disetujui dan GISN dihapuskan.



Sumber: berpolitik.com

Ini Bukunya Menkes Fadilah Bikin Gerah AS-WHO  

 




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke