Tanggal :
18 Feb 2009
Sumber :
Harian
Terbit
Oleh Tety Polmasari
SUMBER daya kelautan kita, terutama ikan,
begitu besar. Sayangnya, masyarakat kita kurang gemar makan ikan. Orang yang
gemar makan ikan, mungkin hanya mereka yang tinggal di pesisir laut, atau yang
berprofesi sebagai nelayan. Tentunya, jumlahnya tidak sebanyak populasi negeri
yang tengah bersiap-siap menghadapi pesta pemilu 2009 ini. Padahal, kandungan
nilai gizi ikan sangat luar biasa: bisa mencerdaskan anak-anak sebagai generasi
penerus bangsa!
Karena itu tak salah jika Menteri Kelautan dan
Perikanan, Fredy Numberi, punya mimpi. "Mimpi saya, kalau kita makan, sayurnya
dibuat dari rumput laut, minumnya dari air laut yang sudah ditawarkan, dan
lauk pauknya semua berasal dari ikan," ujar menteri asal Papua ini,
suatu ketika.
Sang menteri ini pun berharap pada 2009 ini
masyarakat Indonesia sudah terbiasa makan setiap harinya bersumber pada
penghasilan laut. Karena itu, pak menteri kita yang satu ini kerap
menyosialisasikan Gemar Makan Ikan (Gemarikan). Setidaknya konsumsi ikan
masyarakat Indonesia dapat melebihi angka 26 kg/kapita/tahun.
Ada apa dengan ikan, sumberdaya laut yang satu ini?
Ternyata, sebagai salah satu sumber protein hewani, ikan yang terdiri dari
aneka species ini mengandung asam lemak tak jenuh omega 3 tertinggi - dikenal
sebagai komponen penting dalam struktur otak, dan gizi yang sangat lengkap
Berbagai penelitian juga membutkikan bahwa ikan yang berkualitas akan
meningkatkan kecerdasan, meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh, serta
mengandung energi positif yang tinggi untuk mencegah stress dan
depresi.
Pakar kesehatan pun kerap menyerukan agar
membiasakan anak setiap harinya makan ikan karena makan ikan itu menunjang
kecerdasan otak seorang anak. Sebisa mungkin kurangi dan bahkan cegah anak
untuk
mengonsumsi makanan berpengawet. Bagi ibu hamil, sering-seringlah mengonsumsi
ikan. Ikan akan membuat kemampuan berpikir dan motorik anak yang dilahirkan
menjadi lebih baik Maka, jadikanlah konsumsi ikan sebagai bagian dari diet
selama masa kehamilan.
Berbagai riset juga menunjukkan, wanita yang
mengonsumsi ikan semasa hamil melahirkan bayi, ketika anak berusia 3
tahun, kemampuan motorik dan kognitifnya lebih baik dibanding bayi yang lahir
dari ibu yang enggan mengonsumsi ikan saat hamil. Anak usia tiga tahun yang
lahir dari ibu pemakan dua porsi ikan setiap minggu menunjukkan skor lebih baik
di atas rata-rata dibanding dalam tes-tes yang menguji kemampuan mengingat
kosa-kata, visual-spasial, visual-motor, dan skil motorik. Makanya, ikan
sering juga disebut sebagai makanan untuk kecerdasan.
Menurut David Neubauer MD peneliti dari John
Hopkins, hasil penelitiannya menunjukkan manfaat ikan yang signifikan karena
masa-masa paling penting dalam perkembangan otak bayi adalah sebelum mereka
dilahirkan. Sebagian besar dari sel syaraf manusia dibentuk ketika ibu hamil
memasuki masa trimester kedua kehamilan, ketika proses penting dari pembentukan
hubungan antar sel-sel syaraf terjadi. Tentunya, ikan yang dikonsumsi itu, ikan
yang bebas dari zat kimia berbahaya, seperti merkuri, yang dapat merusak
pembentukan otak.
Lantas, bagaimana upaya meningkatkan konsumsi
pangan dari sumber pangan laut ini? Tampaknya tidak dapat dilakukan secara
parsial dan sporadik. Tapi memerlukan suatu langkah gerakan nasional yang
berkesinambungan, seperti yang sering dikumandangkan Menteri Kelautan dan
Perikanan kita. Rutin menggelar lomba memasak serba ikan mulai tingkat desa
hingga tingkat nasional, bisa juga dijadikan cara lain.
Jika dilakukan secara terus menerus, selain dapat
mendorong peningkatan konsumsi ikan nasional, sekaligus meningkatkan
kecerdasan,
kekuatan dan kesehatan anak bangsa. Tentunya, dari kegiatan ini semakin banyak
menu serba ikan baru dan lebih inovatif, yang dapat menggugah selera makan
anak-anak, keluarga, dan masyarakat. Apalagi ikan yang mengandung 18 persen
protein terdiri dari asam-asam amino esensial ini tidak rusak pada waktu
pemasakan.
Karenanya, ibu yang amat erat dengan anak-anaknya
alangkah bijaknya jika mengenalkan ikan sejak anak masih bayi lewat nasi tim.
Selain karena nilai gizinya yang tinggi untuk pertumbuhannya juga supaya saat
besar nanti anak jadi gemar makan ikan. Selain ikan, kerang-kerangan juga
mengandung protein dan mikro mineral yang sangat dibutuhkan tubuh. Biar tidak
membosankan, hidangkanlah menu ikan dalam menu sehari-hari secara bervariasi.
Nusantara kita ini kaya dengan variasi masakan dan aroma bumbu tradisional,
yang
dipercaya dapat meningkatkan stamina tubuh.
Adanya makanan serba ikan ini juga dapat membuka
peluang usaha, bermunculan restoran dan catering yang menyediakan menu serba
ikan, misalnya. Atau juga, membuka usaha-usaha baru kelas 'home industries'
yang
dikelola ibu rumah tangga. Dan, ini berarti, peluang pangsa pasar ikan dan
produk ikan dalam negeri bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya nelayan,
pembudidaya dan pengolah hasil perikanan, semakin meningkat.Ayo, makan ikan.
Tunggu apa lagi! (Penulis adalah wartawan Harian
Terb
simon bangun SP,MMA
untuk Indonesia...