Sdr Nayan dan yang lainnya.
Saya sependapat bahwa dari sekian orang Karo pasti beragam  pilihannya diantara 
capres yang ada. Yang jelas saudara-saudara kita  tsb  akan menjagokan 
msng-msng pilihannya dan sebaliknya  ada rasa kurang berkenan pada yang bukan 
pilihannya.
Saya hanya ingin menyarankan kpd moderator (sekali lagi hanya menyarankan) agar 
milis "infokaro" ini tidak untuk tempat kampanye hitam, karena kampanye hitam 
saya kira bukan watak dari  "Infokaro" secara grup. (kampanye hitam tentunya 
ttidak hanya masalah Pilpres saja tapi juga : suku, kepercayaan dsb).. 

Saya yakin bahwa dalam grup "infokaro" ini sajapun  kita pasti heterogen dalam 
pemilihan nanti. Saya harap agar jangan berlindung dibawah "adanya izin 
penyebaran lewat milis" kita ini menjadi kurang selektif. Hal ini bisa menjadi 
hal yang tidak menguntungkan bagi kebersamaan kita apalagi jika membahas 
hal-hal yang lebih sensitif.
Saran : jika diantara kita ada ahlinya yang ingin berkampanye tentang ekonomi 
kerakyatan atau  pembahasan  ttg Neolib  akan lebih pas jika  menggunakan media 
lain  seperti media cetak, atau bicara dimedia elektronik .
Mohon maaf kepada yang tidak berkenan.
Terima kasih,  salam.
   Lingga.


--- On Sun, 6/7/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [infokaro] (Sok suci), Contoh PRAKTIK Neolib era SBY & JK
To: [email protected]
Date: Sunday, June 7, 2009, 1:33 PM











    
            
            


      
      
Sedikit curhat melihat isi milis dalam rangka PILPRES..
curhat yg sama untuk email jenis yg sama sebelumnya ( candidat yg berbeda )
 
Terakhir, perlu diingat kebijakan seperti sudah dilaksanakan puluhan tahun. 
Bisa dibayangkan berapa banyak korban dan berapa besar lost opportunities yang 
harus kita tanggung sebagai bangsa.

Kalau kita baca dari High ligh ini...apa hubungannya dengan Subject diatas??????
Toch berarti tidak satu pun dari pemimpin negeri ini yg sudah pernah ada dan yg 
sedang ada ( Sukarno,Soharto, Habibi, Gusdur,Megawati, SBY ) di luar dari high 
ligh tersebut.
 
Lalu kalau begitu.....Kenapa Subject di tujukan kepada hanya pada 1 orang ?????
 
Subject yang fair adalah : Tidak pernah ada satu pun pemimpin dari negeri ini 
yg tidak menjalankan praktek Neolib.....<<<<< ini yg Fair subject nya dan saya 
setuju bila berdasarkan info tersebut.... namun belum tentu setuju dengan 
kebenarannya.
 
Saya melihat...milis ini di coba-coba untuk menjadi fasilitas "gratis" dari  
"kampanye hitam" oleh sekelompok kepentingan.
 
Usulan ke pada moderator untuk bisa melakukan filter "positif" tentang segala 
sesuatu diskusi pada milis ini.
Mempergunakan sebagai ajang kampanye gratis sesungguhnya tidak di "tabukan" 
namun perlu di filter untuk pembelajaran bagi anggota milis.
Lagi pula, sejauh yg saya ketahui "kharakter kalak karo" adalah kesatria.... 
..dan tidak bersembunyi dibalik tameng...... ....oleh kerna itu bila di luar 
dari sikap2/kharakter kalak karo yg kesatria itu muncul di dalam milis 
ini.......wajar di pertanyakan ?????? 
 
Milis ini juga di percaya di baca oleh senina/turang kita yg ada di kuta 
kemulihen kita di tanah karo.....sadar atau tidak sadar sedikit banyaknya bisa 
mempengaruhi suasana tanah karo kuta kemulihen kita......apakah kita membiarkan 
email2 yg bukan membangun kuta kita di biarkan lintas di forum kita ???? dan 
kemungkinan email tersebut membawa dampak ketenangan di kuta kita  "berubah???" 
saya rasa walaupun kita jauh dari kuta kemulihen kita, kita ingin kuta 
kemulihennta aman, nyaman seperti yg kita rasakan di perlajangen.
 
Saya percaya keberagaman kita kalak karo dalam memilih presiden tidak ter usik 
dengan cara2 kampanye yg tidak fair (kampanye hitam).
 
Mohon maaf bila kurang berkenan.
Bujur ras mejuah - juah
Nayan-Batam


--- On Sun, 6/7/09, La Mindo <la_mi...@yahoo. com> wrote:


From: La Mindo <la_mi...@yahoo. com>
Subject: [infokaro] (Sok suci), Contoh PRAKTIK Neolib era SBY & JK
To: 
Date: Sunday, June 7, 2009, 10:40 PM








FW: [jurnalisme] : jurnali...@yahoogro ups.com
Posted by: "Haniwar Syarif" hani...@syarif. com  

saya sudah dpt ijin dr Drajad Wibowo utk neruskan info ini ke milis :
silahkan simak info ini

ijinkan saya berbagi sedikit tentang bahaya kebijakan yang pro-pasar yang 
berlebihan. Saya sering menyebut sebagai pro Konsensus Washington (KW), tapi 
secara politik orang lebih suka menyebut neolib. Saya sengaja memilih contoh 
paling baru.
Awal tahun ini, kalau tidak salah akhir Februari 2009, Depkeu menerbitkan 
Global Medium Term Notes (GMTN) dalam US$ dengan masa jatuh tempo 10 tahun dan 
yield 11,75%. Jumlahnya US$ 3 milyar, diterbitkan di New York.
Yang jadi konsultan adalah beberapa lembaga keuangan asing, underwriters- nya 
mereka2 juga, investor asing pun beli melalui mereka. Jadi konflik 
kepentingannya sangat kental.
Dalam bahasa awam, ini berarti negara berutang
 kepada investor asing. Utangnya dalam US$ dan negara membayar "bunga" sebesar 
11.75% dalam US$ !!! Belum lagi fee bagi para konsultan dan underwriters asing 
tersebut. Sebagai pembanding, deposito
dollar di perbankan dalam negeri hanya memberi bunga sekitar 2-3%. Di AS 
sendiri, bunga deposito dollar jauh lebih rendah.
Jadi selama 10 tahun ke depan, negara harus membayar bunga yang kemahalan 
sekitar US$ 240 juta atau Rp 2,5 triliun per tahun, kalau kita anggap 
kemahalannya hanya sekitar 8%.
Ikhwan dan akhwat bisa dengan mudah melihat mengapa Depkeu, menteri2 dan tim 
ekonomi yang dicap "neolib" itu sangat disukai investor asing. Ya karena 
investor asing itu dimanjakan dengan keuntungan yang luar biasa, mulai dari 
consulting fee, underwriting fee, other fees sampai dengan selisih suku bunga 
yang naudzubillah tingginya.
Tapi kalau uang Rp 2,5 triliun per tahun itu dimintakan untuk membeli suku 
cadang Hercules, Fokker, Corvet dll milik TNI, masya
 Allah bapak-bapak Jenderal yang mengurusi hal ini sampai harus 
mengemis-ngemis. Itupun ditolak. Padahal nyawa ratusan prajurit yang jadi 
taruhannya. Jadi kecelakaan demi kecelakaan yang menimpa TNI kita itu adalah 
"disasters waiting to happen". Apalagi kalau dana tersebut dimintakan utk 
memperkuat BUMN strategis spt Boma Bisma, Krakatau Steel, Dirgantara Indonesia, 
PAL, Inka dll. Di DPR saya harus stay alert setiap saat kalau2 ada rencana mau 
memotong2 dan menjual BUMN2 tsb. Dengan negara memberikan "bunga" sedemikian 
tinggi, bagaimana perbankan dalam negeri berani menurunkan suku bunga? Dana 
simpanan pihak ketiga (baca: tabungan, deposito dll) di bank mereka bisa lari 
ke luar.
Jadi nasabah2 KPR yang harus membayar bunga kemahalan, debitor2 UKM, para 
pelaku usaha riil juga menjadi korban dari kebijakan di atas.
Ikhwan dan akhwat sekalian, itu baru satu contoh dari satu penerbitan Surat 
Utang Negara (SUN). Padahal setiap tahun negara menerbitkan
 puluhan SUN. Modusnya kira2 sama. Anehnya, KPK tidak pernah menyelidiki 
kerugian negara ini.
Contoh lain masih banyak, dengan korban yang semakin meluas.
Contoh di atas baru dari SUN saja. Belum lagi dari kebijakan
perbankan, pasar modal secara umum, asuransi dsb. Belum lagi dari kebijakan dan 
sistem perdagangan, rejim investasi, rejim migas, rejim pertambangan umum, dst 
dsb.
Terakhir, perlu diingat kebijakan seperti sudah dilaksanakan puluhan tahun. 
Bisa dibayangkan berapa banyak korban dan berapa besar lost opportunities yang 
harus kita tanggung sebagai bangsa.
Sebagai penutup, sebagai pembicara seminar, selama beberapa tahun ini saya 
selalu menutup presentasi saya dengan kalimat berikut.
"Allah menciptakan kita sebagai bangsa rajawali. Tapi elit-elit kita yang 
menjadikan kita sebagai bangsa bebek. Karena itu mari kita semua terbang bebas 
lepas sebagai rajawali"

Semoga bermanfaat, mohon maaf atas semua kesalahan.
wass.wr.wbt.
saya yang dhoif, dradjad

La Mindo 
demi Indonesia... ..



      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke