Sumber lengkap:
http://pemudaindonesiabaru.blogspot.com/2009/06/hutang-indonesia-pintu-masuk.html
Pesta demokrasi tanpa isu, Ibarat Pesta pernikahan tanpa musik, sepi, tidak
menarik dan kurang meriah. Demikian halnya dengan Pilpres yang akan
dilaksanakan oleh bangsa indonesia. Ibarat musik pada sebuah pesta yang selalu
berubah sesuai dengan permintaan para tamu maka Pesta demokrasi juga seperti
itu, isu yang dikembangkan pun selalu berubah sesuai dengan kepentingan politik
para mempelai yaitu para Capres dan cawapres yang memperebutkan Kursi Pelaminan
dan Istana yang megah, Kursi Presdien yang ada di Istana negara.
Pada Pesta demokrasi pilpres 2009 juga tidak terlepas dari berbagai macam isu.
Isu yang paling menarik adalah isu ekonomi yaitu antara sistem ekonomi
Neoliberal dan ekonmi kerakyatan. Dimana salah satu dari psangan capres
tersebut diisukan penganut sistem ekonomi neoliberalime, sedang kan pasangan
capres lain dengan gencar membuat rasionalisasi bawa Neoliberalisme tidak cocok
diterapkan di Indonesia karena bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
Menurut Capres lain bahwa yang cocok diterapkan di Indonesia saat ini adalah
Ekonomi Kerakyatan.
Pertarungan Isu Neoliberalisme dan Ekonomi kerakyatan terbenam begitu saja
tanpa ada sebuah konklusi. Yang jelas, bahwa pasangan Capres yang diisukan
Neoliberalisme tersebut membantah habis-habisan bahwa dia bukan Penganut
Neoliberalisme. Walaupun banyak kalangan menyatkan bahwa pasangan Capres terbut
benar-benar penganut paham Neoliberalisme tentunya, dengan bukti-bukti dan data.
Isu Neoliberalisme digantikan dengan Isu hasil survey yang Kontroversial,
dimana hasil Survey sebuah lembaga ini menurut beberapa pengamat tidak logis
dan menguntungkan salah satu pasangan Capres.
Isu Hasil Survey Kontroversial tersebutpun hanya sebentar digantikan dengan isu
utang yang dibuat oleh salah seorang Capres yang juga merupakan Presiden saat
ini . Dimana Utang yang dibuat oleh Capres sangat besar. Ironisnya utang
tersebut diperuntukan untuk Masyarakat berupa BLT. Pada Hal dikeluarkanya
kebijakan itu sebagai bentuk konpensasi atas Naiknya BBM kepada rakyat
miskin.Persoalan kemana Uang dari pinjaman tersebut kita batasi saja pada
artikel ini. Yang jelas Utang negara indonesia saat ini besar.
Utang yang besar yang dimiliki indonesia ada pada Bank Dunia, Bank Asia dan
beberapa lembaga batuan lainnya yang bila di total ada sekitar 1600 Triliun.
dan untuk pada tahun 2009 ini Indonesia harus membayar 100 Triliun berupa
cicilan dan bunga.
Untuk membayar utang sebesar itu tentunya membutuhkan kebijakan yang besar
pula, salah satunya dari Pajak Investor dan Eksport. Untuk mendapatkan Pajak
Investor yang besar tentunya pemerintah harus banyak mengundang Investor dan
memberikan kemudahan-kemudahan bagi mereka supaya mereka dapat menanamkan
modalnya di indonesia. Sehinggga apabila Investor tumbuh maka nilai eksport
juga akan meningkat.
Sadar atau tidak sadar pemerintah yang membuat utang yang besar ini akan
dihadapkan pada sebuah konskuensi dari utang tersebut. Sehinggga mau tidak mau,
suka tidak suka harus menerima intervensi baik politik maupun ekonomi dari
Dunia maju sebagai negara peminjam karena negara negara peminjam itu tentunya
punya kepentingan baik politik maupun ekonomi.
Dari uraian yang tidak lugas dan mungkin menurut pembca kurang nyambung diatas
maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Utang Indonesia yang begitu besar
telah membuka pintu masuknya Neoliberalisme Ke Indonesia. Suka Tidak Suka, Mau
tidak Mau, kita tidak bisa lagi menutupnya. karena bila kita menutupnya mak
pintu itu akan pecah dengan sendirinya. Sekarang yang terpenting adalah
bagaimana kita bisa menyeleksi siapa yang masuk dan memonitornya. Supaya tidak
menjadi epedemi ekonomi yang bisa mengahancurkan sistem ekonomi pancasila yang
telah dengan susah payah dipikirkan oleh Founding Fathers kita.
Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka
browser. Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer