Mari kita baca artikel ini ber-ulang2 sampai meresap ke dalam hati.
Baca.. baca dan baca lagi.. renungkan. Bisa membuat kita tambah sehat.. :D



________________________________
From: Alexander Firdaust <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Sent: Wednesday, June 24, 2009 9:48:06 AM
Subject: [infokaro] Jika Anda Mudah Tersinggung - BELAJARLAH Meredam Rasa 
Tersinggung





Salah satu hal yang sering membuat energi kita terkuras adalah timbulnya rasa 
ketersinggungan diri. Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh 
ketidaktahanan kita terhadap sikap orang lain.

Ketika tersinggung, minimal kita akan sibuk membela diri dan selanjutnya akan 
memikirkan kejelekan orang lain. Hal yang paling membahayakan dari 
ketersinggungan adalah habisnya waktu kita menjadi buah roh.

Efek yang biasa ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita 
marah, kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan lainnya. Karena 
itu, kegigihan kita untuk tidak tersinggung menjadi suatu keharusan.

Apa yang menyebabkan orang tersinggung? Ketersinggungan seseorang timbul karena 
menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, baik, tampan, dan 
merasa sukses.

Setiap kali kita menilai diri lebih dari kenyataan bila ada yang menilai kita 
kurang sedikit saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung akan terbuka 
jika kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada sesuatu yang harus 
kita perbaiki, yaitu proporsional menilai diri.

Teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih 
kepada diri kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah 
berjasa, saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang yang sudah 
berbuat. Semakin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan membuat kita 
makin tersinggung.

Ada beberapa cara yang cukup efektif untuk meredam ketersinggungan

Pertama, belajar melupakan.

Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita. Jika kita seorang 
direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita pemuka agama lupakan kepemuka 
agamaan kita. Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan seterusnya. 
Anggap semuanya ini berkat dari Allah agar kita tidak tamak terhadap 
penghargaan. Kita harus melatih diri untuk merasa sekadar hamba Allah yang 
tidak memiliki apa-apa kecuali berkat ilmu yang dipercikkan oleh Allah sedikit. 
Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta sedikit pun kecuali 
sepercik titipan berkat dari Allah. Kita tidak mempunyai jabatan ataupun 
kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah telah berikan dan 
dipertanggung jawabkan. Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. 
Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, akan kian sering kita sakit 
hati.

Kedua, kita harus melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan 
bermanfaat jika kita dapat menyikapinya dengan tepat.

Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita, jika bisa 
menyikapinya dengan tepat. Kita akan merugi apabila salah menyikapi kejadian 
dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan 
keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memaksa diri sendiri menyikapi 
orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang lain kepada kita, 
tentu itu terjadi dengan izin Allah. Anggap saja ini episode atau ujian yang 
harus kita alami untuk menguji keimanan kita.

Ketiga, kita harus berempati.

Yaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah seseorang 
yang tengah menu ntun gajah dari depan dan seorang lagi mengikutinya di 
belakang Gajah tersebut.

Yang di depan berkata, "Oh indah nian pemandangan sepanjang hari". Kontan ia 
didorong dan dilempar dari belakang karena dianggap menyindir. Sebab, sepanjang 
perjalanan, orang yang di belakang hanya melihat pantat gajah.

Karena itu, kita harus belajar berempati. Jika tidak ingin mudah tersinggung 
cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain. Namun yang harus 
diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi, bukan 
untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri.

Keempat, jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai ladang peningkatan 
kwalitas diri dan kesempatan untuk mempraktekkan buah - buah roh Yaitu, dengan 
memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya dengan kebaikan 

source: dudung.net

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community
 

   


      

Kirim email ke