Status 'presiden' memang sudah disandang Tifatul Sembiring. Namun sebagai mitra 
koalisi yang turut andil mendulang suara untuk kemenangan SBY, PKS menyorongkan 
presidennya itu untuk menduduki kursi Menteri Komunikasi dan Informatika 
(Menkominfo) di kabinet mendatang.

Jika sebelumnya PKS malu-malu bahkan menyangkal segala pembicaraan tentang 
jatah kabinet, maka kini partai itu tak sungkan lagi mengungkap empat kursi 
kabinet yang diincarnya. Informasi yang beredar, empat pos menteri yang diminta 
PKS tersebut adalah Menteri Sosial, Menkominfo, Menteri Riset dan Teknologi, 
serta Menteri Pertanian. Di antara nama-nama yang disorongkan PKS, salah satu 
nama terkuat adalah sang presiden sendiri, Tifatul.

Nama Tifatul meroket seiring dengan riwayat PKS yang relatif lesat sebagai 
partai menengah di antara sekian parpol yang lahir pascareformasi. Kursi 
Presiden PKS diduduki Tifatul pada 11 Oktober 2004 diakuinya sebagai mandat 
yang cukup mendadak meski Tifatul adalah salah satu dari 50 pendiri Partai 
Keadilan (PK), partai yang menjadi cikal bakal PKS.

Pada Pemilu 1999, PK tidak dapat melampaui batas electoral threshold 2 persen 
untuk berlaga kembali pada Pemilu 2004. Walhasil, PK berganti nama sebagai 
Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tifatul yang sebelumnya menjabat humas PK 
kemudian didapuk sebagai Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah I Sumatera. Tak butuh 
waktu lama, Tifatul ditunjuk sebagai pejabat sementara Presiden PKS 
menggantikan Hidayat Nur Wahid yang terpilih menjadi Ketua MPR periode 
2004-2009.

Kemunculan Tifatul pun mengejutkan publik yang tidak terlalu banyak mengenal 
namanya. Namun di internal PKS, Tifatul adalah kader yang punya jasa 
signifikan. Pada Pemilu legislatif 2004, Tifatul yang berperan dalam lolosnya 
380 caleg PKS ke kursi parlemen se-Sumatera. Dalam Pilpres 2004, Tifatul tampil 
sebagai pelobi partai yang mula-mula mendukung Amien Rais-Siswono Yudohusodo, 
lalu mendukung SBY-JK pada putaran kedua.

Sebelum menyemplung ke kancah politik, pria lulusan Sekolah Tinggi Ilmu 
Manajemen Informatika dan Komputer Jakarta ini bekerja PT PLN Pusat Pengaturan 
Beban Jawa, Bali, dan Madura sejak tahun 1982. Pada tahun 1989, ayah tujuh anak 
ini mundur dari pekerjaannya yang sudah mapan, demi aktivitas berdakwah.

Tifatul yang juga aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) ini kemudian bergabung 
dengan Yayasan Pendidikan Nurul Fikri dan Korps Mubaligh Khairu Ummah. Tifatul 
pun sempat tinggal selama 6 bulan di Pakistan untuk belajar di International 
Politics Center for Asian Studies Strategic Islamabad.

Bagi pria keturunan Batak Karo yang lahir di Bukittinggi pada 28 September 1961 
ini, kursi menteri untuk PKS wajib hukumnya diberikan SBY. Meski masih tutup 
mulut tentang nama-nama bakal pengisi kabinet yang disiapkan PKS, namun dalam 
suatu kesempatan berbincang dengan INILAH.COM pada Juli 2009, secara tersirat 
Tifatul mengingatkan jasa partainya dalam kemenangan SBY yang harus diganjar 
balas budi.

"Harus masuk dong! Enak saja, ibaratnya habis kita bantu mendorong mobilnya, 
masak langsung good bye," tandas Tifatul.

Lancarkah keinginan PKS mengantarkan Tifatul ke kursi menteri? Jawabannya ada 
di bulan Oktober nanti. 

Sumber: 
http://inilah.com/berita/politik/2009/08/31/149251/tifatul-presiden-kepincut-menteri/

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke