John Swinton, the former Chief of Staff for the New York Times,
was one of New York's best loved newspapermen. Called by his peers "The
Dean of his Profession", John was asked in 1953 to give a toast before
the New York Press Club, and in so doing, made a monumentally important
and revealing statement. He is quoted as follows: 
 “.......The
business of the journalists is to destroy the truth; to lie outright;
to pervert; to vilify; to fawn at the feet of mammon, and to sell his
country and his race for his daily bread. You know it and I know it,
and what folly is this toasting an independent press? We are the tools
and vassals of rich men behind the scenes. We are the jumping jacks,
they pull the strings and we dance. Our talents, our possibilities, and
our lives are all the property of other men. We are intellectual prostitutes." 

source: http://www.aim.org/wls/author/john-swinton/

Dan Berikut adalah opini salah satu penulis situs politikana.com tentang 
stasiun TV Metro TV dan TV One tentang pemberitaanya seputar pemilihan ketua 
umum Golkar yang sebentar lagi akan dilaksanakan

Golkar 1 yang sudah kakek peot pun masih direbutin demi
ngincar bagi-bagi kursi kabinet SBY jilid 2. Benar kata khatib shalat
Ied, jangan-jangan Indonesia bubar justru setelah puasa selama satu
bulan! Pindahin  saja channel TV One dan Metro TV bila terus-terusan
 dijadikan alat kepentingan pribadi pemiliknya. Dan wartawan yang tak
berkarakter pun jatuh menjadi “pelacur intelektual”.
 
Kalau jadi pemilik toko televisi, kita asyik bisa nonton secara
paralel tayangan “Kick Andy” di Metro TV dan “Republik Mimpi” di TV
One. Metro TV adalah milik Surya Paloh dan TV One milik Aburizal
Bakrie. Kedua pengusaha ini tengah bersaing memperebutkan kursi Golkar
1, partai yang semakin peot karena perolehan suaranya semakin melorot.
Tetapi tokh masih menjadi rebutan mereka berdua. Karena mereka masih
berasumsi kalau menjadi Golkar 1, masih punya “bargaining position”
dengan SBY, yang nyaris akan semakin mendekati kekuasaan seniornya
Soeharto dalam mengangkangi kekuatan parlemen.  Oleh karenanya, Surya
Paloh dan Aburizal Bakrie secara maksimal memanfaatkan media
elektronika yang dimilikinya tersebut secara optimal untuk saling
“membunuh”.
Hanya kita sebagai penonton televisi menjadi sangat sebel. Andy F. Noya
yang dibangga-banggakan sebagai sangat humanis, pembela rakyat dan tak
mau disetir oleh siapapun pengusaha kelas kakap termasuk oleh bos Surya
Paloh, ternyata “wartawan kelas ecek-ecek” juga. Saya menyesal banget
menghadiri dies Emas ITB awal Maret 2009 dengan satu  alasan mau
terbang dari Kalimantan Tengah untuk datang ke ITB karena ingin melihat
Andy F. Noya (orang luar ITB) menerima penghargaan ITB yang sangat
terkenal di dunia sangat pelit itu; mengapa ITB sampai memberi
penghargaan begitu tinggi pada seorang Andy F. Noya? Apakah pasca
insiden ini Andy F. Noya akan mundur dari Metro TV kita tunggu saja.
Dan di channel lain, TV One, seorang Emha Aenun Najib,
yang bangga disebut budayawan papan atas Indonesia, yang dulu juga
sangat bangga “direken” oleh Soeharto karena diundang sangat eksklusif
satu dua hari sebelum Reformasi, begitu gagahnya membela keluarga
Bakrie dalam kasus lumpur Lapindo. Apa urusannya budayawan Emha lebih
membela pengusaha kelas atas Indonesia dibanding membela korban lumpur
Lapindo?
Kolega saya di media cetak terpandang begitu gundahnya dengan
insiden dagelan di dua media elektronika ini, forward ke saya jawaban
sms-smsnya dari tokoh Dewan Pers dan KPI. Jawabannya memang seperti
orang yang sudah sangat ngantuk habis menonton kedua dagelan itu.
Media, baik itu media cetak maupun media elektronika memang semakin
kasat mata telah menjadi alat para pemiliknya memainkan kepentingannya.
Bisa kepentingan bisnis, bisa kepentingan politis atau sekedar menjadi
alat mendongkrak popularitas pribadi menjadi selebritas alias pesohor.
Bagaimana penonton yang sangat sebel akan segera pencet “remote
control” manakala Surya Paloh, pemilik Metro TV begitu seringnya
berbuih-buih di depan Metro TV seolah sangat heroik dengan durasi 4
sampai 5 menit tanpa editing sama sekali dari Pemimpin Redaksi Metro TV
yang tentu sangat takut sama “big boss”. Masih agak mending Aburizal
Bakrie tak turun gunung, dan menganggap lebih pantas diwakili oleh sang
putra mahkota Anindya Bakrie untuk sering muncul di TV One.
Source: 
http://politikana.com/baca/2009/09/26/sampai-wartawan-dua-tv-pun-terpaksa-jadi-pelacur-demi-golkar-1-yang-peot.html


Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke