Medan(SIB)
Bekerja tanpa pamrih adalah hal yang selalu dilakukannya karena dia meyakini,
apa yang ditanam itu yang akan dituai. Drs Jarto Tarigan MS, pria kelahiran
Desa Sukanalu, Karo ini yakin bila bekerja dengan niat baik hasilnya juga akan
baik. Dengan falsah tersebut ia menekuni pekerjaannya hingga kini ia dipercaya
menjadi pejabat eselon II sebagai Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota
Bengkulu.
Karirnya dimulai sebagai dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Bengkulu pada tahun 1984 dan dosen di berbagai universitas swasta.
Bukti keseriusan dalam upaya peningkatan kwalitas sumber daya manusia bangsa
ini, berbagai jabatan dia emban antara lain pernah menjadi penatar P4 tingkat
nasional, koordinator dosen kewiraan universitas Bengkulu, tenaga ahli DPRD
Kota Bengkulu (2002-2004), tenaga ahli Pemda Kota Bengkulu 2003-2008. Ia juga
dikenal sebagai konsultan kandidat legislatif dan kepala daerah baik propinsi
maupun kabupaten/kota serta Pada tahun 1986, ia terpilih sebagai dosen teladan
tingkat nasional mewakili Universitas Bengkulu.
Selain sebagai dosen, ia juga sering menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan
dan menjadi pengamat politik. Di Bengkulu, namanya tidak asing bagi masyarakat
setempat karena pandangan dan pendapatnya dalam kehidupan pemerintahan dan
masyarakat.Perhatiannya sangat mendalam terhadap fenomena politik dan
pemerintahan, seseuai dengan pendidikan yang dikecapnya yakni lulusan
Administrasi Negara.
Sejak Juni 2008, ia beralih menjadi seorang birokrat karena diangkat menjadi
kepala BKD. Walaupun demikian, ia tidak sepenuhnya meninggalkan dunia
pendidikan karena memang sudah mendarah daging baginya.
Walau cukup populer di Bengkulu, Jarto memastikan, dirinya kurang dikenal di
daerah kelahirannya, karena sebagian hidupnya dihabiskan di daerah perantauan
dan juga kurang suka menonjolkan diri. Walaupun demikian, dia tidak pernah lupa
akan daerah asalnya. Hal itu dibuktikannya dengan menjadi Ketua Merga Silima
Provinsi Bengkulu pada tahun 1994-1994 dan sekarang menjadi penasehat, ketua
dewan pakar “Himpunan Masyarakat Sumatera Utara” Provinsi Bengkulu dan tetap
memantau perkembangan dan dinamika kehidupan masyarakat Karo.
Ayah dari Wiranata Tarigan, Agung Wibawa Tarigan dan Listia Septa Kefasia
Nararya br Tarigan serta suami Dra Loesida Roeliana Br Sitepu MSi (Ketua
Program Eksistensi Administrasi Negara FISIP Universitas Bengkulu) ini juga
memperhatikan munculnya kandidat-kandidat Balon Bupati Karo dalam pilkada yang
bakal digelar.
Ia berpesan kepada para kandidat agar bertarung dengan fair dan siap menang dan
siap kalah. Kepada bupati terpilih nantinya, ia berharap Karo dibangun dengan
basis budaya Karo dan mengutamakan peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Tanah
Karo tanpa budaya Karo bukan lagi Karo,” katanya.
Ketika ditanya apa tidak berkeinginan untuk mencalonkan diri, dengan diplomatis
ia menjawab, “kita harus mengukur baju di badan.” (R11/m)
sumber: http://hariansib.com/?p=95111
Salam Mejuah Juah
Karo Cyber Community