Untuk baca2 :


Igan Brecca ®

-----Original Message-----
From: AHRC <[email protected]>
Date: Fri, 11 Dec 2009 16:39:50 
To: <[email protected]>
Subject: [AHRC Statement Indonesian] INDONESIA: Laporan Tahunan AHRC menyoroti 
kekerasan yang masih terus berlangsung oleh aparat keamanan

Untuk dipublikasikan segera 

AHRC-STM-246-2009-ID 

10 Desember 2009 

Pernyataan oleh Asian Human Rights Commission dalam peringatan hari
HAM tahun 2009 

Versi Bahasa Inggris
<http://www.ahrchk.net/statements/mainfile.php/2009statements/2339/>

INDONESIA: Laporan Tahunan AHRC menyoroti kekerasan yang masih terus
berlangsung oleh aparat keamanan 

 <http://material.ahrchk.net/hrreport/2009/>

Dalam rangka memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) internasional
pada tahun 2009, AHRC telah mempublikasikan laporan tahunan tentang
situasi HAM di Indonesia. Laporan ini menyoroti penyiksaan dan
pembunuhan – pembunuhan yang masih terus terjadi yang dilakukan oleh
polisi dan juga militer. Kebutuhan untuk melakukan reformasi institusi
telah diabaikan, sementara itu Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA)
mencoba untuk menerbitkan peraturan yang akan mempraktekan penyiksaan
dalam proses peradilan. 

Laporan dalam versi yang lengkap, dapat di unduh disini
<http://material.ahrchk.net/hrreport/2009/AHRC-SPR-004-2009-Indonesia-HRReport2009.pdf>
. 

Ringkasan Laporan 

Pemilihan umum (pemilu) tahun 2009 membawa banyak harapan dan keraguan
dari kelompok Hak Asasi Manusia. Pemilu didominasi oleh orang –
orang yang memiliki latar belakang militer dan beberapa calon presiden
dan wakil presiden yang sedang menghadapi tuntutan pelanggaran HAM
yang dilakukan oleh militer. Selain itu, Indonesia juga menghadapi
peningkatan tuntutan Islamisasi negara dan kehidupan masyarakat
sebagaimana diperkenalkan oleh syariat Islam di Aceh yang bertujuan
untuk melegalisasi hukuman yang secara internasional dianggap sebagai
penyiksaan. Saat ini, presiden terpilih, Presiden Soesilo Bambang
Yudhoyono sebagai kandidat yang dianggap lebih moderat, juga
menghadapi tuntutan untuk memenuhi janji – janjinya yang belum
dipenuhi dalam masa jabatan sebelumnya, seperti menghukum pelaku
pembunuh Munir. Tersangka utama dalam kasus ini yaitu Mayjen Purn TNI
Muchdi PR telah dibebaskan dari segala tuntutan hukum, dimana putusan
ini tidak lepas dari kritik atas lemahnya standar dari peradilan yang
fair. 

Masih adanya peran elit militer dalam pemerintahan sejalan dengan
aktivitas militer di propinsi Papua yang sedang krisis. Pada tahun
2009 terlihat peningkatan penangkapan dan penghukuman terhadap aktivis
perdamaian dan politik. Sementara penambangan dan transmigrasi di
Papua terus berlanjut, tidak ada perbaikan yang signifikan dari
kondisi hidup untuk masyarakat pribumi Papua. Penangkapan, penyiksaan
dan pembunuhan dilaporkan terus berlanjut dan akses terhadap kesehatan
dan pendidikan untuk masyarakat pribumi di Papua masih tetap
terbelakang. Undang – undang otonomi khusus di Papua telah
dideklarasikan oleh banyak kelompok masyarakat telah gagal. 

Sementara itu, polisi telah mengalami reformasi internal dengan
pedoman dan peraturan yang substantif terhadap unsur Hak Asasi Manusia
ke dalam praktek kepolisian. Namun demikian, kasus – kasus yang
diterima oleh AHRC menunjukkan bahwa penyiksaan, bahkan hingga
mengakibatkan korban meninggal dunia masih terus teradi dan digunakan
sebagai metode untuk mendapatkan informasi bahkan disisi lain, kasus
– kasus penyalahgunaan kekuasaan oleh polisi juga terus terjadi.
Upaya dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan
investigasi dugaan korupsi didalam lembaga kepolisian dan Kejaksaan
dihalangi oleh kepolisian. KPK dan Kepolisian Republik Indonesia
(POLRI) dikenal dengan sebutan “cicak vs buaya” yaitu dalam kasus
komisioner KPK pernah menghadapi dakwaan atas dugaan penyalahgunaan
kekuasaan, namun masyarkat luas mendukung perjuangan yang dilakukan
oleh KPK. 

Tuduhan kejahatan pencemaran nama baik yang ditujukan terhadap aktivis
Hak Asasi Manusia, kemudian kekerasan polisi terhadap para pengunjuk
rasa dan tuduhan kejahatan “melawan petugas” adalah contoh –
contoh peningkatan ancaman terhadap kebebasan berekspresi dan beropini
pada tahun 2009. Kondisi terakhir adalah pelarangan pemutaran film
oleh lembaga sensor film yang menampilkan operasi militer di masa lalu
di Timor – Timur dan impunitas yang terus terjadi terkait dengan
pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh militer, hal ini adalah
bukti bahwa militer masih memiliki kepentingan meskipun telah terjadi
reformasi dan Indonesia lebih terbuka. 

Silahkan membaca laporan
<http://material.ahrchk.net/hrreport/2009/AHRC-SPR-004-2009-Indonesia-HRReport2009.pdf>
 dalam versi bahasa Inggris 

# # # 

Tentang AHRC: Asian Human Rights Commission adalah sebuah organisasi
non pemerintah yang melakukan pemantauan dan lobi-lobi terhadap
isu-isu HAM di Asia. Organisasi yang bermarkas di Hong Kong ini
didirikan pada tahun 1984. 



<b>AHRC New Weekly Digest - an easy way to receive all your Human Rights
news in just one weekly email - subscribe <a
href="http://internal.ahrchk.net/phplist/?p=subscribe&id=31";>here</a> or
submit the form below.</b><br><form method="post"
action="http://internal.ahrchk.net/phplist/?p=subscribe";
name="subscribeform">
    <input type="hidden" name="id" value="16" /> <input type="hidden"
name="htmlemail" value="1" /> <input type="hidden" name="list[105]"
value="signup" /> <input name="email" value="[email protected]"
type="text" /> <input type="submit" name="subscribe" value="Subscribe to
Digest" />
</form>
-----------------------------
Asian Human Rights Commission
19/F, Go-Up Commercial Building,
998 Canton Road, Kowloon, Hongkong S.A.R.
Tel: +(852) - 2698-6339 Fax: +(852) - 2698-6367


<font color="4ca546"><i>Please consider the environment before printing
this email.</i></font>






--
Powered by PHPlist, www.phplist.com --


Kirim email ke