Wisata yang Bergelombang ; Oleh-oleh dari Kabupaten Karo
Oleh: Dicky Sembiring Akhir
tahun 2009 merupakan salah satu saat yang sangat dinantikan orang di
seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Kita persempit lagi cakupan
perbincangan wilayah Indonesia tersebut menjadi Provinsi Sumatera Utara.
Berbagai
kegiatan dilakukan masyarakat di provinsi tercinta ini dalam mengisi
liburan yang lumayan panjang menjelang akhir tahun 2009. Entah itu
mudik, entah itu berwisata dengan menginap di hotel-hotel yang berada
di sentra-sentra wisata seperti Brastagi, Danau Toba, Sibolangit, dan
lain sebagainya. Tercatat mulai pagi hari
tanggal 31 Desember 2009 hingga tanggal 3 Januari 2010, kemacetan
terjadi di sepanjang jalan Medan – Brastagi. Kemacetan juga terjadi di
ruas jalan Medan – Pematang Siantar – Prapat dan Medan – Brastagi –
Prapat. Dibalik kemacetan tersebut terselip gairah dari masyarakat
dalam menyambut tahun baru sekaligus melepas penat kerja setahun,
mungkin. Yang Tak Habis Pikir Kalau
tidak salah, Provinsi Sumatera Utara adalah salah satu DTW (Daerah
Tujuan Wisata) nasional. Dan untuk masuk dalam daftar DTW Departemen
Pariwisata itu ternyata provinsi ini harus berjuang terlebih dahulu. Di
mana-mana, jika suatu daerah masuk dalam Daerah Tujuan Wisata, maka
semua faktor yang menunjang keberhasilan ke arah tersebut harus
dibenahi dan ditata dengan baik termasuk infrastruktur terutama sarana
jalan. Barangkali bagi sebagian pelancong
atau pemudik, melewati rute Medan – Brastagi sudah cukup. Karena memang
di sepanjang rute tersebut banyak dijumpai tempat wisata seperti:
Permandian Sembahe, Sibolangit dan sekitarnya (Green Hill dan Hill
Park), Penatapan Doulu, Hot Sulfuring Water Sidebuk-debuk, Gunung
Sibayak, Danau dua warna, Hotel dan Villa yang bertebaran di sekitar
Brastagi, serta Danau Lau Kawar. Akses jalan pada rute ini terbilang
cukup bagus kecuali jalan ke dalam lokasi wisata Sidebuk-debuk
terhitung dari jalan provinsi, tidak layak kalau tidak mau dibilang
buruk. Sebagian pelancong atau pemudik
justru tidak sampai di sana saja. Perjalanan pun dilanjutkan melewati
ibukota Kabupaten Karo, Kabanjahe, maka akan mengalami keadaan yang tak
terlupakan ketika melintas. Bukan karena perjalanan yang menyenangkan
atau bukan karena bisa melihat keindahan alam Tanah Karo, tetapi karena
kondisi jalan yang teramat buruk. Jalan
raya dari kota Kabanjahe ke arah Tongging atau Pematang Siantar, boleh
juga menuju Prapat bahkan merupakan akses utama menuju Kabupaten
Sidikalang terus ke Kabupaten Aceh Selatan, tidak lebih baik dari
kubangan kerbau, dalam pula. Kenyamanan mulai terganggu, pengendara
kendaraan baik roda dua maupun roda empat atau lebih harus ekstra
hati-hati mengendalikan kendaraan mereka, kerusakan kendaraan menjadi
sangat rentan. Dari kota Kabanjahe menuju
Kecamatan Tigabinanga pun lebih parah. Padahal jalan raya ini merupakan
satu-satunya akses menuju Kabupaten Aceh Tenggara. Tak ayal lagi,
ketika penulis mencobanya, waktu tempuh yang seharusnya setengah jam
malah menjadi kurang lebih dua jam. Perlu Perhatian Serius Kondisi
jalan tersebut, menurut masyarakat sekitar yang sering melintasinya,
telah berlangsung cukup lama dan tidak ada upaya perbaikan samasekali.
Dulu masyarakat masih melihat upaya-upaya tersebut. Bila ada badan
jalan yang telah berlubang, maka pihak Pemkab Karo melalui rekanannya
langsung melakukan penempelan. Apa yang
terjadi saat ini, masyarakat di sana kurang mengerti meski kesal.
Mereka hanya menduga-duga. Ada yang mengatakan mungkin karena jalan ini
adalah jalan provinsi maka Pemprovsu yang harus turun tangan. Ada juga
yang bilang kepemimpinan orang nomor satu di kabupaten ini akan
berakhir, jadi untuk apa repot-repot mengurusi perbaikan jalan lagi,
dan lain-lain. Begitu banyak tanggapan
masyarakat Tanah Karo mengenai kondisi sarana jalan di kabupaten ini
jika kita bertanya kepada mereka. Namun apapun bunyi tanggapan itu,
masyarakat tidak layak mendapatkan pelayanan buruk demikian. Apapun
ceritanya pemerintah daerah harus ambil pusing dan memperhatikan dengan
serius. Lebih jauh daripada itu, masyarakat
hanya bisa berbicara di tempat mereka masing-masing sementara
wakil-wakil mereka di DPR setempat terkesan berdiam diri melihat
kondisi di depan mata. Bagi Kabupaten Karo
yang mayoritas masyarakatnya mengandalkan penghasilan mereka dari
hasil-hasil pertanian, sarana dan prasarana jalan yang baik adalah
kebutuhan mutlak. Coba bayangkan susahnya mereka menjual hasil
pertanian tersebut sementara harga pun belum tentu bagus di pasaran.
Belum lagi jika kita bicara ongkos produksi sebelum panen yang selalu
mahal. Suasana pusat kota, tepatnya di
sekitar pasar Kabanjahe juga setali tiga uang dengan kondisi jalannya.
Sejak pasar Kabanjahe terbakar pada akhir tahun 2008, Pemerintah Daerah
kemudian membangun kios-kios pengganti. Bukan pembangunan kios-kios ini
yang salah, tetapi letaknya yang justru berada di tengah-tengah jalan
yang dulunya merupakan jalan keluar-masuk kendaraan menuju pasar. Niat
ingin mencari buah tangan berupa sayuran segar dan buah-buahan segar
terpaksa diurungkan. Bagaimana tidak, parkir kendaraan saja sulit,
suasana dalam pasar (yang disulap itu – pen) tidak lagi sedap dipandang
mata, boro-boro ingin tawar-menawar harga. Yang Berwenang Bagi
yang berwenang silakan berkunjung. Melihat sendiri kenyataan yang ada
dan rasakan apa yang dirasakan masyarakat Tanah Karo yang terkenal
dengan adat-istiadat yang tetap dipegang teguh hingga kini. Dengan
demikian semoga aparat berwenang dimaksud tergerak hati untuk mengatasi
persoalan tersebut. Yang diinginkan masyarakat sebenarnya sederhana
saja, yaitu minimal upaya-upaya apa yang paling mungkin dilakukan oleh
pemangku kebijakan di daerah untuk sementara waktu sebelum perbaikan
total dilakukan. Dari sisi adat-istiadat,
lihatlah mereka sebagai turang dan senina (saudara laki-laki/ perempuan
semarga ), impal (pariban), nini-bulang (nenek-kakek), mama dan mami
(om dan tante), dan sebagainya dalam sebutan adat. Mereka ini yang
lebih merasakan kesulitan daripada para pelancong dan pemudik yang
hanya berkunjung sesekali saja. ***
Sumber:
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=41009:wisata-yang-bergelombang--oleh-oleh-dari-kabupaten-karo&catid=78:umum&Itemid=139
Salam Mejuah Juah
Karo Cyber Community