Touring yang menyenangkan
keep share always
Salam mejuah-juah

On Thu Apr 29th, 2010 1:03 AM ICT tepu zewel wrote:

>sibayak diangkat oleh Belanda ???? baru dengar aku... tuhu kin e nake ?????
>
>
>
>
>________________________________
>From: Alexander Firdaust <[email protected]>
>To: [email protected]; [email protected]; 
>[email protected]
>Sent: Mon, April 19, 2010 5:38:28 PM
>Subject: [infokaro] Menari di Desa Karo
>
>  
>"Ini rupanya Berastagi, ramai sekali. Meriah," begitu pikirku saat melongokkan 
>kepala dari jendela bus kecil yang membawaku dari Medan. Hawa dingin 
>menyergap. Sementara Sinabung berwarna cerah itu melaju ugal-ugalan, teriakan 
>sopir dalam bahasa Batak di kananku memekakkan telinga. Dia heboh benar 
>mencari penumpang.
>
>Sinabung melaju, melalui areal pertanian yang subur. Kadang terhampar kebun 
>jeruk yang buahnya bergelantungan siap dipanen, kadang kebun kubis, asparagus, 
>bahkan juga kebun bunga. Sesekali kudapati para petani berjalan menuju 
>kebunnya. Yang perempuan mengenakan tudung, kain yang diletakkan di atas 
>kepala dengan bentuk kas. Yang lelaki memikul sabit dan keranjang dari bambu.
>
>Satu dua gereja dengan arsitektur tradisional bermunculan. "Elok nian tempat 
>ini," pujiku dalam hati. Sudah subur tanahnya asri pula pemandangannya. Nampak 
>kuat  penduduknya memegang tradisi. Tak lama kemudian kami memasuki Kota 
>Kabanjahe. Aku turun di depan Masjid Agung sambil menunggu saudara si naga 
>bonar, Edhie Surbakti, datang menjemput.
>
>Begitu tiba, sejenak Edhie menemaniku berkeliling, motret sana-sini, lalu 
>menerangkan seluk-beluk Budaya Karo di sebuah warnet yang dikelolanya. Soal 
>Budaya Karo ini akan kutulis lain hari saja. Tak berapa lama dia 
>memperkenalkan seorang lelaki tinggi besar dan hitam. Bangun Tarigan namanya. 
>Bersama Edhie, alumni etnomusikologi ini sedang melestarikan kembali budaya 
>Karo, baik musik maupun tari.
>
>Bertiga kami lalu menuju Desa Wisata Lingga naik angkot. Ada latihan menari 
>sore itu. “Besok kami mau pentas di sebuah hotel. Hari ini latihan terakhir,” 
>tutur Bangun bersemangat. Tak dihiraukannya mendung menggantung di langit. 
>Gerimis turun tipis tipis.
>
>Lingga terletak di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut, masuk dalam 
>Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Karo. Lingga merupakan satu dari 
>sedikit desa di Karo yang menyisakan rumah adat Karo. Desa lainnya adalah 
>Dokan, Peceren, Serdang, Barus Jahe, Juhar, Gurusinga dan Cingkes.
>
>Banyak rumah adat yang dirusak dan dibakar orang karo sendiri pada Revolusi 
>Sosial tahun 1946. Ketakutan akan datangnya Belanda kembali, dan kebencian 
>pada Sibayak, menjadi penyebabnya. “Sibayak adalah raja kecil yang diangkat 
>Belanda. Mereka dianggap kaki tangan penjajah, makanya rumahnya dibakar,” 
>jelas Edhie.
>
>Tak berapa lama angkot berhenti di depan bangunan semacam pendopo, Djambur 
>Lingga namanya. Jambur merupakan tempat berkumpulnya para tetua adat dan 
>lelaki. Sore itu jambur yang luas itu nampak sunyi, hanya diisi dua tiga 
>penjaja baju dan dagangannya.
>
>Kami lalu berjalan menuju rumah tempat latihan menari, melewati beberapa waluh 
>jabu atau rumah adat yang berfungsi sebagai tempat tinggal. Biasanya dihuni 
>lebih dari dua keluarga. Dinding waluh jabu terbuat dari kayu, sementara 
>atapnya dari rumbia. Banyak atap rumbia itu berlumut tebal, menunjukkan betapa 
>tua umurnya. Di bagian atas rumah terdapat anyaman bambu berbentuk segitiga 
>yang disebut ayo.
>
>Biasanya sebuah waluh jabu di Lingga memiliki dua atau empat ayo, menghadap ke 
>arah yang berlawanan. Di atas ayo baru diletakkan kepala kerbau yang berfungsi 
>untuk menolak bala. Sayang banyak rumah adat yang rusak atau kurang perawatan. 
>Umurnya pun sudah tua, puluhan hingga ratusan tahun. Rumah adat paling tua 
>berumur 250 tahun.
>
>Tiba-tiba perjalanan kami dihadang oleh ribuan lebah. Rupanya pasukan 
>penghasil madu ini sedang berpindah tempat dari atap sebuah waluh jabu menuju 
>ke rumah baru. Kami pun berjalan memutar, hingga masuk ke halaman sebuah rumah.
>
>Tiga pasang muda-mudi menunggu. Irama musik karo mengalun dari sebuah DVD 
>player. Irama yang lahir dari sarune, gendang singanaki, gendang singindungi, 
>gendang penganak, dan gung, alat musik tradisional Suku Karo. Sepintas 
>suaranya mirip gamelan Sunda. Setelah berbincang sejenak, tiga pasang 
>muda-mudi pun mulai menari. Kedua tangannya berayun menggerakkan uis gara, 
>selendang Karo, sedang pinggang mereka dililit abit, semacam kain atau sarung.
>
>Gerakan tari mereka amat perlahan. Tidak sedinamis Tari Kecak di Bali, 
>misalnya, atau segemulai Tari Gambyong di Jawa. Namun gerakan lambat itu tentu 
>membutuhkan keseimbangan tubuh yang mumpuni. Pantas begitu mengakhiri sebuah 
>tarian, seorang penari mengaku kelelahan. “Istirahat dulu Bang, capek,” 
>katanya.
>
>Lepas melihat latihan menari, kami berjalan keliling Lingga. Ada beberapa 
>jenis rumah adat di sini. Ada jambur, waluh jabu, geriten, lesung, dan sapo 
>page. Geriten adalah tempat menyimpan tulang belulang, biasanya bentuknya 
>tertutup. Sedang lesung merupakan tempat menyimpan lesung yang akan digunakan 
>untuk menumbuk padi. Padi disimpan di lumbung yang disebut sapo page.
>
>Seorang lelaki asyik menganyam bambu, membuat keranjang. Pengrajin sagak dia 
>rupanya. Tekun dia duduk di depan waluh jabu miliknya. Seorang bocah perempuan 
>muncul dari ujung tangga. Tersenyum dia memanggil abangnya yang masih di 
>dalam. Tak jauh dari situ dua nenek asyik mengobrol sambil duduk di tanah 
>memandang ayam-ayam. Tak dihiraukannya dua cucunya yang datang. Senja terlalu 
>indah untuk dilewatkan begitu saja.
>
>Di tempat lain seorang lelaki juga menganyam bambu. Keranjang bambu tinggi 
>berjajar di dekatnya. Selain berkebun, menjadi pengrajin sagak menjadi sumber 
>penghidupan penduduk Lingga. Kami  lalu berjalan melewati satu dua toko 
>kelontong yang menjual aneka kebutuhan hidup mulai mie instan, roti, hingga 
>isi pulsa. Parabola menyembul di antara waluh jabu, menandakan bahwa tak semua 
>saluran teve nasional bisa ditangkap di sini.
>
>Puas berkeliling, Edhie mengajakku mengunjungi Museum Karo Lingga. Museum 
>mungil berbentuk rumah adat Karo itu dijaga oleh anak kelas 5 SD. Rupanya dia 
>menggantikan ibunya yang sedang ke ladang. Tak banyak koleksi museum. Hanya 
>pakaian adat Karo, alat musik tradisional, perangkat rumah tangga, dan aneka 
>topeng yang digunakan dalam perayaan tradisional.
>
>Hari mulai gelap ketika kami meninggalkan museum. Berjalan melalui Gereja St 
>Petrus, lumbung padi Ginting, dan kompleks kuburan Sibayak lama. Akhirnya kami 
>keluar dari gapura bertuliskan "Terimakasih Anda Telah Mengunjungi Desa Wisata 
>Lingga", lalu naik angkot  menuju Kabanjahe. Sebelum berpisah, sempat kami 
>menikmati kopi susu di sebuah warung kopi sambil memandang hujan turun.
>
>Sumber:http://travel. kompas.com/ read/2010/ 04/17/1650197/ Menari.di. 
>Desa.Karo
>
>Salam Mejuah Juah
>
>Karo Cyber Community
> 
>
> 
>
>
>      



Kirim email ke