Orang Indonesia Memang Tak Bisa Berhitung
Selasa, 12 Mei 2009 - 11:50 wib

Bisanya matematika! Itu juga yang bisa. Pasalnya
anak-anak Indonesia sejak tahun 1970-an memang tidak
diajari berhitung lagi di SD, tetapi diajari
matematika. Matematika tidak sama dengan berhitung.

Berhitung itu keterampilan teknis, yaitu menghitung,
menambah, mengurang, mengali, dan membagi. Matematika
itu logika. Kita memang bisa menghitung dengan logika,
tetapi menghitung bisa saja tanpa logika. Sebagai
contoh, kita bisa menjumlahkan 15+20=35 dengan teknik
berhitung biasa.

Cepat, mudah. Tetapi kita bisa juga melakukannya
dengan metode matematika, puluhan digabungkan dengan
puluhan (10 dan 20) dan dipisahkan dari satuan yang
juga digabungkan dengan satuan (5 dan 0), hasilnya
sama, yaitu 35, tetapi untuk bisa melakukan
matematika, orang harus punya kemampuan kognisi
(logika, daya abstraksi) yang canggih dulu
yang-menurut Piaget, pakar psikologi perkembangan-
baru akan tercapai oleh anak pada umur di atas 11
tahun.

Karena orang Indonesia sudah dipaksa untuk
bermatematika sejak kemampuan kognisinya belum siap,
jadinya tidak bisa berhitung (karena tidak diajari),
padahal bermatematika juga tidak bisa (karena
diajarkan ketika kognisinya belum siap). ***

Di sebuah universitas terkemuka di Indonesia,yang
sudah masuk jajaran world class, direktur SDM tidak
tahu persis berapa sebetulnya jumlah karyawan, dosen,
serta mahasiswa di sana. Dia hanya tahu kira-kira ada
40.000 mahasiswa dan 4 ribuan dosen. Tetapi persisnya
berapa dia tidak tahu. Pasalnya, hampir setiap bulan
ada saja ketua program atau kepala perpustakaan, atau
siapa saja yang mengangkat karyawan honorer yang
dibayarnya sendiri, tetapi nantinya menyatakan diri
sebagai karyawan atau staf edukatif universitas.

Sementara profesor-profesor sepuh yang sudah wafat
masih tercantum namanya di daftar gaji.Wajarlah kalau
sesekali terjadi salah bayar gaji atau kurang bayar
gaji yang menjengkelkan. Nah, kalau sebuah universitas
kelas dunia dengan guru-guru besar yang sudah puluhan
tahun mengajar tidak mampu menghitung dengan tepat
jumlah staf pengajarnya yang hanya empat ribuan itu,
bagaimana KPU yang baru seumur jagung itu bisa
menghitung dengan akurat DPT yang mencakup 150 jutaan
manusia yang tersebar di seluruh republik kita ini?

Apalagi boro-boro kelas dunia, untuk ukuran kelas
kecamatan saja KPUD sudah diprotes orang melulu.
Bahkan seandainya Samson atau Superman bisa
didatangkan, mereka pun tak akan mampu menghitung
jumlah pemilih yang banyaknya hampir 150 juta.
Bagaimana mungkin, di RT saya saja pembantu datang dan
pergi. Sebagian besar tinggal di dalam.

Ada yang melapor ke RT, tetapi lebih banyak yang
tidak. Sebagian lagi, hanya waktu datang saja melapor,
tetapi ketika pergi lupa lapor. Belum lagi kalau ada
bayi baru lahir atau ada yang meninggal dunia,
menikah, pindah kuliah ke luar kota, tidak buru-buru
didaftarkan dalam kartu keluarga, jelas data
kependudukan sangat sulit dihitung. Karena itulah
sensus penduduk yang dilakukan oleh Biro Pusat
Statistik (BPS) setiap lima tahun sekali memerlukan
waktu dua tahun, mulai dari persiapan sampai tuntas.

Padahal seluruh masa kerja KPU sejak dilantik sampai
pemilu hanya kurang dari dua tahun (2007-2009). Tidak
mengherankan kalau daftar pemilih tetap (DPT) pemilu
tidak pernah pas. Orang mati dan bayi saja bisa masuk
DPT, apalagi tentara dan polisi. Sebaliknya, orang
yang benar-benar punya hak pilih malah terpaksa jadi
golput karena tidak masuk DPT. ***

Sulitnya, Undang-Undang Pemilu sudah telanjur
mengharuskan orang masuk DPT dulu baru bisa memilih.
Usulan KPU sendiri untuk mengizinkan warga memilih
dengan bermodal KTP saja terganjal undang-undang itu
(yang dulu dibuat DPR berdasarkan prasangka terhadap
KTP yang bisa disalahgunakan).

Maka hasilnya bisa kita duga dan sudah kita saksikan
bersama: amburadul! Tetapi keamburadulan yang awalnya
karena memang bangsa kita tidak bisa dan tidak
berdisiplin dalam berhitung, tambah diacak-acak lagi
oleh elite-elite politik yang kalah, atau sudah dapat
suara banyak namun ingin suara lebih banyak lagi.

Bahkan ingin jadi presiden. Maka mulailah orang
bermain logika. Pakar-pakar media sampai pakar jalanan
menyampaikan argumentasi masing-masing bahwa pemilu
tahun ini tidak masuk akal, tidak logis. Muncullah
protesprotes tidak percaya, seakan-akan
ketidakakuratan penghitungan suara disengaja atau ada
grand design untuk mencurangi pemilu.

Timbul penyimpangan dari hukum logika, karena kita
juga sebetulnya tidak mahir berlogika, sehingga
terjadilah apa yang dinamakan dalam ilmu logika "sesat
pikir". Maka pemilu yang pada hari H berjalan damai
itu, walau ada golput terpaksa, justru ricuh setelah
hari H. Mula-mula yang ribut hanya saksi-saksi parpol
di TPS, lama-lama parpol-parpol itu membawa massa ke
KPUD, bahkan menyerang kantor polisi.

Melihat situasi yang sudah kacau, beberapa oknum
terdorong untuk benar-benar menggelembungkan suara.
Ketahuan waktu perhitungan di tingkat pusat, tambah
kacau lagi. Bahkan ada yang minta seluruh pemilu
diulang dari awal. Alangkah sia-sianya dana triliunan
rupiah yang sudah diinvestasikan bangsa (yang tidak
kaya) ini untuk penegakan demokrasinya.

Di sisi lain, perhitungan quick count oleh beberapa
pihak independen (bukan hanya satu) justru menunjukkan
hasil yang konsisten. Sejak hari H+1 sampai hari
perhitungan terakhir urutan pencapaian adalah Partai
Demokrat di puncak, diikuti oleh PDIP dan Golkar (atau
Golkar terus PDIP yang "berpacu dalam melodi"), baru
diikuti lagi oleh partai-partai yang termasuk sepuluh
besar, termasuk Gerindra dan Hanura, dan akhirnya
partai-partai kecil yang perolehan suaranya tidak
signifikan.

Keakuratan quick count sudah terbukti sejak Pemilu
1999. Bukan hanya di tingkat pemilu parlemen dan
pilpres, tetapi juga di tingkat provinsi dan
kabupaten. Error-nya hanya 2%, dan itu bisa karena
penyelenggara quick count hanya menghitung, dibantu
dengan kalkulator supercanggih yang namanya komputer
dan internet. Karena hanya menghitung dengan teknik
yang benar, maka hasilnya pun benar. ***

Tetapi dasar orang Indonesia tidak bisa berhitung,
maka mereka juga tidak suka pada teknik berhitung.
Apalagi memakai komputer yang tidak mereka kenal.
Siapa tahu kita dibohongi dengan komputer. Itulah
sebabnya ketika pemilihan Gus Dur dan Megawati sebagai
presiden para anggota MPR lebih suka melakukannya
dengan voting tertutup dan dihitung manual, yang makan
waktu berjam-jam dan diselingi kesalahan baca atau
nyontreng di papan skor, ketimbang memakai alat voting
otomatis (dengan komputer) yang ada di meja
masing-masing.

Tetapi semua ini adalah bagian dari proses bangsa
Indonesia berdemokrasi. Mudah-mudahan di tahun 2014
bangsa Indonesia sudah menyadari bahwa dalam urusan
pemilu kita lebih baik mengandalkan teknik berhitung
yang gampang dan cepat (namanya juga quick count,
hitung cepat), ketimbang berlogika yang sudah
tercampur aduk dengan berbagai kepentingan dan
emosi.(*)

Sarlito Wirawan Sarwono
Dekan Fakultas Psikologi UPI/YAI  

M/S. Bima Bhakti Group Indonesia
www.geocities.com/bimagroup
Agriculture, Spices, Natural Resins & Gums, Gambier Manufacturer, Processor & 
Exporter 
*Damar Batu, Gum Damar, Gum Copal, Damar Resins, Gum Resins, Gum Turpentine, 
Gambier, Cardamons, Dry Cassava, Cloves, Cloves Stems, Long Pepper, 
Cassiavera,Cassava Powder, Tapioca Powder, Cassiavera, etc 
Chemicals : Sodium Sulphate, Caustic Soda, Sulphur, etc
Minerals  : Iron Ore, Coal, Manganese Ore, Nickel, Steam Coal, etc
Ph : +62-81513234190, +62-818692956 email : [email protected]
Yahoo! ID : bimagroup
SKYPE ID : kingdamar

Pls CC or  reply to : [email protected]  

Pls Join : INTI-NET (INDONESIA TIONGHOA NETWORKS)
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join
 
LowonganNET - Informasi Lowongan Pekerjaan terbaru, Gratis via email
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/LowonganNet

Iklan Parahiyangan - [email protected]
http://groups.yahoo.com/group/iklan-parahiyangan

Batavia-news - Milis Berita dan Features.
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news

Milis Republik-Mimpi - Ikutan diskusi seputar negeri impian
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/republik-mimpi

Milis Rakyat-Peduli - Anda peduli dgn masalah bangsa ini ?
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/rakyat-peduli

Great Business Opportunities.
Visit  http://www.balipetroleum.myffi.biz/

Visit Tionghoanet on the blog :
http://tionghoanet.blogspot.com/


      

Kirim email ke