Wah anda perlu banyak belajar lagi bung di Lapangan jangan hanya sebagai 
pengamat Akademisi yg hanya tau Teori,Bangsa kita sudah menuju perubahan yg 
lebih baik dan semua itu ada tahap dan proses dan saat ini kita sudah ada di 
jalur yg benar.Ok banyak belajar lagi dan terjun di Lapangan untuk mempraktekan 
Teori anda.
Salam


-----Original Message-----
From: "sunny" <[email protected]>

Date: Sun, 24 May 2009 01:33:20
To: <Undisclosed-Recipient:;><Invalid address>
Subject: [inti-net] Kebijakan Ekonomi Tiga Capres Tak Berkualitas


http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/kebijakan-ekonomi-tiga-capres-tak-berkualitas/index.html

Sabtu, 23 Mei 2009 23:24
Kebijakan Ekonomi Tiga Capres Tak Berkualitas
OLEH: NOVAN DWI PUTRANTO



Jakarta - Kebijakan ekonomi yang telah disampaikan tiga calon presiden (capres) 
di depan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) semuanya tidak berkualitas dan tidak 
akan membuat masyarakat sejahtera.





Tiga calon presiden hanya menekankan semata-mata pertumbuhan ekonomi sehingga 
tidak akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat bawah. "Apa yang 
disampaikan tiga capres tentang bagaimana membangun perekonomian nasional tidak 
ada yang menjanjikan," kata ekonom Pusat Studi Ekonomi Pancasila (Pustep) UGM 
Fahmy Radhi  saat dihubungi SH, Sabtu (23/5).

Tiga calon presiden hanya menekankan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh 
investasi asing sehingga dipastikan hanya menguntungkan masyarakat menengah ke 
atas.  "Berdasarkan track record ketiganya, sulit diharapkan kebijakan ekonomi 
yang dilakukan mampu menurunkan angka kemiskinan," tandasnya.


Ia menyatakan kebijakan ekonomi harusnya tidak mendasarkan pada pertumbuhan 
ekonomi yang mengandalkan investasi asing, tetapi lebih mengedepankan 
pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan sosial (sustainable growth and social 
justice) atau pertumbuhan berkualitas sehingga kesenjangan sosial dapat 
ditekan.  "Pedagang pasar, pedagang kaki lima, kuli, buruh, nelayan, petani  
tidak akan menikmati pertumbuhan ekonomi yang selama ini dibangga-banggakan dan 
diklaim sebagai keberhasilan triple track strategy," katanya.


Menurutnya, saat ini terjadi penyesatan dan pembodohan di masyarakat mengenai 
pengertian ekonomi kerakyatan.  "Masak BLT Rp 100.000 per bulan diklaim sebagai 
pelaksanaan ekonomi kerakyatan. Menurut saya, itu program yang justru 
menjadikan rakyat Indonesia bermental pengemis," paparnya.
Ia juga mengkritik berbagai kebijakan ekonomi seperti Program Nasional 
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta kenaikan 
gaji PNS. "Dana PNPM Mandiri sebagian justru digunakan repo (gadai saham) Grup 
Bakrie di pasar saham, KUR dan gaji ke-14 diberikan menjelang pemilu. Inikah 
yang diklaim sebagai kebijakan pro rakyat," tegasnya.

Fahmy mengingatkan, jika kebijakan ekonomi seperti ini terus dilanjutkan maka 
dipastikan anak cucu yang menanggung dampaknya. Jumlah nominal utang akan terus 
meningkat, liberalisasi ekonomi akan berjalan masif dan Indonesia, seperti 
ramalan Soekarno, pelan-pelan akan menjadi bangsa kuli.  Dampak lain yakni 
kemiskinan akan meningkat, kesejahteraan masyarakat bawah akan merosot dan 
kesenjangan sosial masyarakat Indonesia semakin menganga.


Sementara itu, pengamat ekonomi Yanuar Rizky yang dihubungi SH, Sabtu, 
menanggapi hasil dialog calon presiden yang diselenggarakan Kadin sejak awal 
pekan lalu mengatakan, paparan kebijakan ekonomi tiga calon presiden masih 
sebatas retorika dan belum ada terobosan baru. "Masing-masing memiliki 
kelebihan dan kekurangan, tapi sayangnya tidak ada terobosan baru dalam 
kebijakan ekonomi yang mereka sampaikan," katanya.


Secara khusus, Yanuar memberikan catatan pada masing-masing calon presiden yang 
lebih cenderung " menjual" angka pertumbuhan ekonomi. Pertarungan visi dan misi 
ekonomi tersebut juga masih memperdebatkan aliran ekonomi yang digunakan 
masing-masing capres. "SBY tidak perlu malu mengakui kalau memang paham ekonomi 
pasar bisa membawa kesejahteraan bagi masyarakat," jelasnya.


Sebagai capres incumbent, lanjut Yanuar, Yudhoyono belum dapat membuktikan 
kontrol negara dalam pasar bebas di Indonesia saat ini. Hal tersebut terbukti 
dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas di mana masih banyak 
masyarakat miskin dan tingginya jumlah pengangguran.
Dalam dialog dengan Kadin, Yudhoyono menegaskan dirinya bukan sepenuhnya 
penganut neoliberal karena peran negara masih diperlukan. Pada kesempatan itu, 
Yudhoyono juga menjanjikan pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen di akhir 
pemerintahannya jika terpilih nanti.


Sementara itu, apa yang ditawarkan pasangan Megawati-Prabowo masih memerlukan 
cetak biru   bagaimana mereka akan redistribusi industri ke masyarakat. "Mereka 
harus jelaskan road map-nya seperti apa dan bagaimana mendistribusikan itu ke 
masyarakat, jangan hanya di awang-awang," tuturnya.
Sedangkan kebijakan ekonomi Jusuf Kalla dipandang cukup pragmatis. Namun, JK 
masih lemah di sektor pengelolaan finansial terutama perbankan. Sebenarnya, 
lanjut Yanuar, kebijakan ketiga pasang capres bisa saling melengkapi. "Kontrol 
negara diperlukan dalam mekanisme pasar, lalu bagaimana mendistribusikan ke 
masyarakat kita ambil dari kebijakan Mega. Kita juga perlu punya sikap 
pragmatis seperti JK. Ditambah bagaimana sekuritisasi modal," jelasnya.
Sebelumnya, tiga pasang capres yang berdialog dengan Kadin menyampaikan target 
pertumbuhan ekonominya. Jusuf Kalla menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 
persen pada akhir pemerintahannya jika terpilih nanti. Capres Partai Demokrat 
Susilo Bambang Yudhoyono mematok angka 7 persen. Ia mengakui angka itu 
merupakan target konservatif di tengah krisis global saat ini. Sedangkan 
pasangan Megawati-Prabowo menjanjikan pertumbuhan ekonomi hingga dua digit atau 
minimal 10 persen.
(sigit wibowo)


[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke