Refleksi:  Bagus kalau terjadi perang, sebab banyak keuntungannya.  Untuk 
keperluan peprangan harus beli perlengkapan perang dari luarnegeri dan  
pembelian adalah kesempatan besar  untuk memperkaya diri. Harga pembelian 
dinaikan (mark-up) seperti  yang biasa dilakukan atau  kalau malu-malu kucing 
cukup dengan kick-back secara diam-diam pun boleh. Nomploklah  berkat rejeki. 
Ayo segera peranglah, jangan cuma omongkosong bikin takut  tikus.  Ayo maju 
gemetar.


http://www.ambonekspres.com/index.php?act=news&newsid=26513

      Kamis, 04 Jun 2009, | 16 


      Perang Jalan Terakhir
      DPR Siap Setujui Perang di Ambalat  
     
      Jakarta, AE.- DPR meminta pemerintah bersikap lebih tegas untuk 
menyelesaikan persoalan sengketa di Ambalat yang diwarnai provokasi-provokasi 
oleh kapal perang Malaysia dengan cara melanggar batas wilayah perairan 
Indonesia.

      "Jika pemerintah tidak tegas dan Malaysia terus-menerus melakukan 
provokasi di Ambalat, lanjutnya maka tidak menutup kemungkinan DPR akan 
menyetujui konfrontasi terhadap kapal-kapal perang Malaysia yang memasuki 
perairan Indonesia," tegas Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar, di Gedung DPR, 
Jakarta, Rabu (3/6).

      Menurut Muhaimin, DPR sudah sangat keras meminta ketegasan pemerintah 
dalam menyikapi persoalan Ambalat antara lain dengan mengajukan nota protes 
diplomatik dan juga meminta agar Dubes Indonesia untuk Malaysia bersikap 
proaktif.

      Malah DPR juga sudah meminta bantuan pertahanan khususnya untuk Angkatan 
Laut Indonesia kepada pemerintah Belanda guna menghadapi provokasi 
negara-negara lain. "Saat ini, Indonesia membutuhkan dukungan Belanda terkait 
pertahanan dalam konflik Ambalat," kata Muhaimin ketika bertemu Ketua Eerste 
Kamer (Senate) Belanda, Yvone Ema Timmerman Buck.

      Dia mengungkapkan, bantuan yang diharapkan adalah kerjasama berupa 
peningkatan kualitas kapal-kapal perang yang menjadi pertahanan laut Indonesia. 
Namun, dalam hal ini DPR hanya membuka pintu kerja sama saja dengan Belanda 
karena pemerintah yang akan menentukan tindak lanjut keinginan kerja sama 
tersebut.

      "DPR hanya membuka pintu agar dalam krisis Ambalat ini, Belanda bisa 
mempertimbangkan untuk membantu Indonesia dalam meningkatkan kualitas atau mutu 
kapal perang Indonesia," terang Muhaimin.

      Sementara itu, Ketua MPR Hidayat Nurwahid merasa kecewa dengan pemerintah 
yang hanya berwacana dalam menyikapi sengketa Ambalat. Menurutnya, jika memang 
serius mengurusi negeri ini, maka sudah semestinya Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla segera menjadwalkan pertemuan 
dengan Perdana Menteri Malaysia Dato' Sri Mohd Najib bin Haji Tun Abdul Razak 
guna membahas penyelesaian sengketa Ambalat.

      "Ini permasalahan serius. Malaysia itu selalu mancing di air keruh. 
Apalagi ini di masa-masa Pilpres. Mereka harus tahu Ambalat itu wilayah 
kedaulatan Indonesia. Jadi, presiden dan wapres tidak hanya cukup bersikap 
tegas, tapi perlu ada langkah konkret," ujarnya.
      Ditegaskan, presiden merupakan panglima tertinggi TNI dan Polri. Jadi, 
dalam kapasitas itu presiden perlu mengambil tindakan nyata, sehingga harga 
diri bangsa Indonesia tidak diinjak-injak.

      Jalan Terakhir
      Sementara itu, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Nunukan Zainuddin HZ meminta 
kepada warga Nunukan agar tidak resah dengan memanasnya Blok Ambalat saat ini. 
Ia mengharapkan masyarakat tetap menjaga kondusifnya situasi Nunukan saat ini.

      Persoalan tersebut, kata Zainuddin, merupakan masalah diplomatis antara 
Indonesia dengan Malaysia dan hal tersebut sudah ditangani oleh pemerintah dan 
pihak keamanan di pusat. "Masyarakat jangan mengambil reaksi cepat dalam 
menanggapi hal ini. Karena akhirnya nanti akan menyebabkan hubungan diplomatis 
dua negara tersebut menjadi renggang," jelasnya.

      Beberapa warga yang ditemui koran ini, ada yang meminta pemerintah terus 
memperjuangkan jalan damai, tapi tetap memberi peringatan kepada Malaysia. 
Namun ada pula yang menginginkan Indonesia dan Malaysia berperang saja, karena 
berdasarkan pengalaman hingga saat ini, perlakuan Malaysia kepada warga 
Indonesia tidak terlalu baik.
      "Perang itu jalan terakhir. Memang, kalau dilihat jarak kita disini 
dekat. Tapi jangan semudah itu mengambil kesimpulan, nanti bisa menyulut 
konflik berkepanjangan, karena ini menyangkut hidup orang banyak," tegasnya, 
menanggapi pendapat warga Nunukan.
      Keputusan perang pun, tambahnya, tidak semudah itu dilakukan. Makanya, 
pemerintah selama ini selalu menggunakan jalur-jalur diplomatis. Harus disadari 
pula, bangsa ini perlu menjalin hubungan kerjasama yang baik. "Kita juga tidak 
bisa menutup mata, banyak TKI kita di Malaysia," katanya.

      Indonesia merupakan negara hukum yang mengharuskan warganya bertindak 
sesuai hukum, serta menjadi bangsa yang pandai menghargai orang lain, maupun 
negara lain. Tidak brutal dan selalu mencari jalan damai terlebih dahulu.

      Bagaimana dengan perlakuan-perlakuan tidak baik pihak Malaysia terhadap 
TKI" "Harus ditanyakan dulu perlakuan apa yang terjadi. Tidak selamanya 
kesalahan negara tetangga. Kemungkinan TKI kita yang malah masuk secara 
ilegal," imbuhnya.

      Sejumlah warga, ada yang pendapat Malaysia hanya 'main-main' saja. Karena 
hanya bangsa Indonesia saja yang heboh dengan isu memanasnya situasi kedua 
negara tersebut. "Orang-orang di Tawau Malaysia sana, malah tidak pernah 
membicarakan hal ini. Padahal Indonesia telah mengirimkan 7 KRI, sedangkan 
Malaysia hanya menurunkan satu unit kapal patroli saja secara bergantian," 
sebut warga yang enggan disebut namanya ini.

      Menanggapi pernyataan tersebut, Zainuddin mengaku, seharusnya pemerintah 
melihat terlebih dahulu konsistensi untuk menjaga harga diri bangsa didepan 
negara tetangga. "Kita mau negara lain mematuhi aturan kita, seharusnya kita 
juga seperti itu," katanya.

      Pemerintah pusat diharapkan dapat mengatasi hal ini dan introspeksi diri 
mencari penyebab mengapa Malaysia seakan-akan meremehkan Indonesia. "Karena 
memang posisi kita agak lemah. Seharusnya ada perlakuan khusus bagi daerah 
perbatasan, khususnya di bidang teritorial dari pemerintah pusat," terangnya. 
(dew/fas/jpnn)  


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke