Betul sekali..pantesan Malaysia suka godain kita..pemimpin kita banci sih..ayo 
kita pilih yg berani mengangkat Martabat Bangsa ini..seperti Pak.JK-WIR


-----Original Message-----
From: bambang purwanto <[email protected]>

Date: Mon, 8 Jun 2009 02:42:40
To: <[email protected]>
Subject: Re: [inti-net] Ekonomi SBY-Boed Banci


Jika demikian halya, Banci tidak boleh dijadikan imam.




________________________________
From: Al Faqir Ilmi <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Monday, June 8, 2009 10:48:11
Subject: [inti-net] Ekonomi SBY-Boed Banci





Ekonomi SBY-Boed Banci

INILAH.COM, Surabaya - Program ekonomi jalan tengah yang ditawarkan pasangan 
Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dinilai tidak lebih dari program ekonomi 
banci. Program ekonomi jalan tengah yang menekankan pertumbuhan ekonomi dan 
keadilan juga dinilai tidak lebih dari daur ulang program Orde Baru.

"Program ekonomi jalan tengah yang ditawarkan SBY-Boediono program ekonomi 
banci, AC/DC. Kanan kiri oke. Kalau mau benar mestinya program yang ditawarkan 
bukan ekonomi jalan tengah tetapi ekonomi konstitusi," kata pendiri blok 
perubahan Rizal Ramli di Surabaya Town Square, Minggu (7/6).

Dijelaskannya, pada pendiri Republik Indonesia yang mengecap pendidikan di 
Eropa sejak awal menyadari bahaya dari kebijakan politik yang ugal-ugalan. 
Karena itu, konstitusi Indonesia dibuat secara cermat dan hati-hati untuk 
menghindari dampak negatif dari ekonomi pasar bebas.

"Ekonomi Indonesia sudah diatur secara benar dalam konstitusi. Karena itu, 
program yang benar mestinya adalah ekonomi konstitusi," tegas Rizal Ramli.

Sesuai semangat konstitusi, ekonomi Indonesia tidak menutup diri dari dunia 
luar. Namun, ekonomi konstitusi ini sejak awal mencegah perekonomian Indonesia 
menjadi obyek eksploitasi dari negara lain. Ekonomi ini diatur lebih mandiri 
dalam arti tidak mengandalkan utang LN dan strategi� menjual aset pada pihak 
asing.

"Dalam konteks ini, pemerintah tidak boleh lagi melanjutkan strategi gaya lama 
yang terbukti gagal. Strategi yang mengandalkan utang luat negeri. Bayangkan, 
dalam empat tahun ini, utang luar negeri bertambah Rp 400 triliun. Padahal, 
utang luar negeri ini kompensasinya adalah UU yang menjadi jalan bagi 
neoliberalisme, " katanya.

Rizal melihat utang luar negeri sifatnya seperti narkoba. "Pejabat yang tidak 
kreatif biasanya akan mengandalkan utang. Mereka ini tidak punya partai, tetapi 
siapapun presidennya mereka bisa duduk di kekuasaan. Ini bisa terjadi karena 
pejabat itu ditopang oleh kreditor," jelas menteri zaman pemerintahan Gus Dur 
ini.

Untuk membangun ekonomi nasional yang lebih mandiri, imbuh Rizal Ramli, 
pemerintah harus kreatif, tidak boleh lagi menandalkan utang. Cara lainnya, 
pemerintah tidak perlu membeli barang lagi. Belanja pembangunan sekitar Rp 400 
triliun bisa dialihkan melalui program leasing.

"Dengan model leasing, anggaran bisa dihemat sekitar Rp 360 triliun. Anggaran 
itulah yang kemudian dipergunakan untuk membangun infrastruktur, misalnya jalan 
kereta api di Sumatera, Kalimantan, dan Papua serta daerah lainnya," ungkapnya.

Dengan model pembangunan yang lebih mandiri, tidak mengandalkan utang, Rizal 
yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih baik. "Saat ini pertumbuhan 
ekonomi hanya antara 5-6 %. Lihat China tumbuh di atas 10 %, India tumbuh 9 %. 
Kalau prestasinya hanya pas-pasan, apanya yang mau dilanjutkan? " sindirnya.

Ditambahkannya, model pembangunan ekonomi yang ditawarkan SBY Boediono tidak 
lebih dari daur ulang kebijakan Orde Baru yang sebenarnya juga tidak luar biasa 
dan terbukti gagal. "Negara yang menganut faham neolioberal di Asia contohnya 
ya Philipina dan Indonesia. Karena itu tidak heran kinerja negara ini 
biasa-biasa saja. Yang lebih parah lagi, kesejahteraan rakyatnya merosot," 
katanya.

Ditanya tentang konsep ekonomi yang ditawarkan dua capres lainnya, Jk-Win atau 
Mega Prabowo, Rizal hanya berharap siapapun presiden terpilih harus lebih 
berpihak pada kepentingan rakyat. "Kalau pemerintah hanya mengandalkan utang 
luar negeri dan stretegi menjual aset, pastilah malu dan diawasi oleh yang 
lainnya," pungkasnya.

Indonesia Bangkrut?
 
 
SAAT membuka sidang pleno Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Presiden 
SBY mengeluarkan pernyataan mengejutkan. ‘’Government is broke’’, begitu 
katanya. Tak lama kemudian Menteri Keuangan Sri Mulyani meralat. Dengan 
cadangan devisa Rp 1.500 triliun, mustahil Indonesia bangkrut.
 
Tak jelas motif dan dalam konteks apa SBY mengeluarkan pernyataan seperti itu. 
Memang betul telah terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di mana-mana yang 
menyebabkan jumlah pengangguran meningkat.

Dari sisi penerimaan, terjadi penurunan di berbagai sektor, seperti diakui 
Direktorat Pajak Departemen Keuangan. Penerimaan pajak non migas pada Januari 
2009 memang naik Rp 1,6 triliun dibanding periode sama tahun lalu menjadi Rp 
34,3 triliun. Tapi jumlah ini masih jauh dari kisaran umum yakni 18-20 persen.
 
Pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM) 
hanya naik 2,29 menjadi Rp 14,4 triliun. Biaya perolehan hak atas tanah dan 
bangunan (BPHTB) turun 8,39 persen menjadi Rp 204,6 miliar. Sedangkan 
penerimaan pajak lainnya Rp  21,38 miliar atau turun 6,57 persen. Adapun 
restitusi (pengembalian pajak) Rp 2,296 triliun. Setoran dari badan usaha milik 
negara (BUMN) setali tiga uang. Kementerian Negara BUMN membeberkan sejumlah 
kerugian yang ditanggung perusahaan pelat merah. Jumlahnya mencapai Rp 12 
triliun! Perusahaan yang merugi di antaranya PT Pupuk Sriwijaya, PT Gas Negara 
Tbk dan PT Pupuk Kujang. PT Pupuk Sriwijaya merugi Rp 2 triliun sedangkan PT 
Pupuk Kujang rugi Rp 1 triliun.
 
Kementerian Negara BUMN memprediksi laba bersih BUMN tahun ini hanya Rp 70 
triliun. Padahal tahun lalu masih bisa meraup Rp 78 triliun. Okelah negara 
mengalami kesulitan keuangan karena pemasukan turun tapi ucapan SBY yang 
menyatakan Indonesia bangkrut, oleh pengamat dianggap sebagai bentuk pesimisme 
atau ketidakpercayaan pemerintah dalam menghadapi krisis.
 
Dikhawatirkan, pernyataan SBY akan membuat Indonesia semakin tak menarik di 
mata investor. Padahal, pada saat bersamaan gairah untuk menarik minat 
penanaman modal masih menggebu-gebu. Bukan hanya itu, harga saham-saham 
unggulan BUMN di lantai bursa bisa ambruk.
 
Ada juga yang beranggapan pernyataan Presiden merupakan sinyal ketidakmampuan 
Indonesia membayar utang. Bank Indonesia (BI) menyebutkan utang luar negeri 
swasta yang jatuh tempo tahun ini mencapai 17,4 miliar dollar AS. Dengan 
melemahnya nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang negara-negara lain, 
beban kewajiban yang harus dibayar tentu makin berat.
 
Berharap mendapatkan haircut (pemotongan utang) tentu bukan hal mudah. Kreditor 
akan melihat dari berbagai aspek sebelum memutuskan untuk ‘memutihkan’ utang 
luar negeri sebuah negara. Lagipula, di sisi lain penghapusan utang juga akan 
berdampak buruk  terhadap iklim investasi. Dus, kredibilitas pemerintah dalam 
mengelola keuangan negara bisa hancur di mata kreditor.
 
Pemerintah juga tak bisa selalu mengambinghitamkan krisis global sebagai 
penyebab gejolak ekonomi dalam negeri. Kalau saja dari dulu serius menggenjot 
sektor usaha kecil menengah (UKM) atau ekonomi padat karya sebagai tulang 
punggung negara, pemerintah tidak sepanik seperti sekarang. Tipisnya penerimaan 
pajak juga tak bisa dijadikan parameter satu-satunya dalam menentukan kondisi 
negara. Patut disayangkan Presiden melontarkan pernyataan bombastis, justru di 
hadapan para pengusaha-pengusaha muda. Sebagai tulang punggung penggerak 
perekonomian ke depan, SBY harusnya menciptakan iklim kondusif, membangun 
semangat dan untuk berjuang bersama-sama melewati badai krisis.
 
Pernyataan ‘’Government is broke” hanya menunjukkan ketidakmampuan serta 
ketidakberdayaan pemerintah dalam mengelola ekonomi negara. Jika di akhir 
pemerintahannya SBY merasa tidak percaya diri, bagaimana mungkin dapat memimpin 
Indonesia untuk lima tahun ke depan? ■




      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke