Refleksi: Mungkin sekali terkandung pada saudara-saudara yang sangat berkekurangan ini terkandung pendapat dengan semboyan: "Pengemis seluruh negeri, bersatulah menuju Jakarta! Jakarta bukan saja ibukota singasana kekuasaan negoro serta persemayaan para petinggi berkuasa dan konco-konco mereka nan kaya raya. Jakarta juga menjadi tempat terutaman penimbuman kekayaan hasil exploatasi dari berbagai penjuru negeri. Pepatah Melayu kuno mengatakan: "dimana ada gula disitu berkerumun semut", jadi kedatangan para pengemis adalah hal yang logis seperti halnya dengan sumber-sumber kekayaan alam dan BUMNnya menjadi sapi perahan rebutan para penguasa kleptokratik.
http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/kedatangan-pengemis-sudah-sulit-ditangkal/ Selasa, 18 Agustus 2009 14:01 Kedatangan Pengemis Sudah Sulit Ditangkal Jakarta dalam beberapa hari mendatang bakal kedatangan ribuan pengemis. Mereka datang dari berbagai daerah dengan satu tujuan, mencari rezeki dari penduduk Ibu Kota yang dianggapnya lebih makmur. Kedatangan mereka konon diatur sindikat. Sindikat ini yang menyediakan pengangkutan dari tempat asal ke penampungan di Jakarta dan kemudian membawanya ke tempat-tempat tertentu. Sebagai imbalannya, sindikat ini yang memperoleh bagian terbesar dari perolehan para pengemis. Jadi, kalau Pemda DKI berniat menghambat kedatangan pengemis maka sindikat tersebut yang harus diberantas. Merekalah yang merupakan salah satu penyebab kedatangan pengemis ke Ibu Kota. Keterlibatan sindikat seharusnya tidak menutupi pemahaman kita akan persoalan yang mendasari kedatangan para pengemis. Mereka tengah didesak keharusan memenuhi kebutuhan dasar, sementara kondisi lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut karena belum saatnya panen dan lain-lain. Dengan demikian, kedatangan pengemis sebetulnya memiliki dimensi lain. Ia menunjukkan ketimpangan pembangunan antara Jakarta dengan berbagai kota lainnya. Ketimpangan yang menyebabkan penduduk berpendapatan rendah mengadu nasib di Jakarta, meskipun terkadang bersifat temporer. Kedatangan pengemis atau arus urbanisasi dari provinsi lain ke Jakarta merupakan dampak penerapan strategi pembangunan yang salah. Pemerintah pada awal 1970-an menerapkan strategi pembangunan yang berorientasi kepada pertumbuhan. Berbagai kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan dijadikan kutub-kutub pertumbuhan ekonomi, di mana investasi, produksi dan penjualan barang serta jasa terkonsentrasi. Strategi ini menyebabkan penduduk datang ke kota-kota tersebut. Banyak di antara mereka tidak memiliki bekal kecakapan, pendidikan dan koneksi yang memadai hingga malah menjadi beban. Jumlah dari tahun ke tahun terus bertambah. Arus urbanisasi yang deras itu menyebabkan Pemprov DKI misalnya, kewalahan menyediakan perumahan, sarana dan prasarana pendidikan, kesehatan, bahkan kuburan. Pemprov kewalahan membuat tata kota yang tepat, sementara tingkat kriminalitas melonjak dan kadar polusi terus memburuk. Pemerintah provinsi lain atau pemerintah kabupaten/kota seharusnya turut membantu mengurangi laju urbanisasi atau kedatangan pengemis ke Ibu Kota. Mereka harus merasa bertanggung jawab karena tidak mampu menyediakan fasilitas hingga penduduknya tidak mencari nafkah ke provinsi lain. Kita pesimistis pemerintah daerah akan berusaha keras memperbaiki keadaan. Buktinya arus urbanisasi terus berlanjut dan pengemis berdatangan. Indikasi ini juga dapat terlihat dari arus mudik penduduk Ibu Kota ke berbagai daerah menjelang Idul Fitri. Pemprov, pemerintah kabupaten/kota, tampaknya sampai sekarang tak berhasil mewujudkan upaya strategis mengatasi urbanisasi. Mereka kerap menjalankan kebijaksanaan yang jauh dari harapan, seperti kurang memedulikan potensi desa dan seterusnya. Malahan banyak pemerintah daerah yang menyimpan anggaran belanja pembangunan dalam bentuk surat berharga hingga pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kebijaksanaan ini juga berbalik menekan pemerintah yang terpaksa menyediakan dana untuk suku bunga surat berharga. Yang menarik, para perantau itu malah disambut sebagai pahlawan karena kesuksesan mereka di rantau dapat menggerakkan sektor konsumsi di pedesaan. Kecenderungan ini membangkitkan efek demonstratif. Kehadiran pengemis di Ibu Kota merupakan suatu kenyataan pahit, baik jika ditinjau dari aspek ekonomis maupun perasaan senasib sepenanggungan. Pemprov DKI tak punya pilihan selain menertibkan. Itu pun harus memperhitungkan rambu-rambu yang beraneka ragam. [Non-text portions of this message have been removed]
