http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/belum-satu-hati-sikapi-terorisme/

Selasa, 18 Agustus 2009 14:00 
Belum Satu Hati Sikapi Terorisme



     
Redaksi Yth,
Ketika jenazah Air Setia­wan dan Eko Joko Sarjono, pelaku aksi teror yang tewas 
di Jatiasih, Bekasi tiba di Solo pada 13 Agustus 2009, media massa memberitakan 
bahwa puluhan pemuda menyambutnya dengan pekikan takbir bergema dan bersahutan. 
Pada siang harinya, rumah duka tempat disemayamkannya ke­dua korban tersebut di 
Bre­ngosan, Solo disambangi Ustaz Abu Bakar Baasyir. Komentar pimpinan Pondok 
Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo itu pada saat itu antara lain bahwa Eko Joko 
Sarjono dan Air Setiawan sebagai mujahid.


Kita menghargai simpati warga Solo yang menghadiri acara pemakaman Air dan Eko. 
Mereka telah menunjukkan sisi kemanusiaan yang dimiliki bangsa ini, kendati 
sempat terdengar bahwa sebagian warga Brengosan, Solo menolak kedua jenazah itu 
dimakamkan di lingkungan mereka. Di sisi lain, kita patut menyesalkan sikap 
para pe­muda pendukung Eko dan Air yang membuat keonaran di areal pemakaman. 
Lebih kita sesalkan lagi pernyataan Abu Bakar Baasyir bahwa Eko dan Air adalah 
mujahid.


Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa sebagai bangsa, kita belum satu hati 
menyikapi masalah terorisme di Tanah Air. Masih ada pihak-pihak yang mendukung 
pelaku aksi teror dengan memberikan mereka predikat sebagai mu­jahid. Kita 
belum memiliki pe­mahaman yang benar me­nge­nai perbedaan antara jihad, iman, 
dan Islam. Itulah salah satu sebab mengapa negeri ini sudah tujuh tahun 
dibombardir aksi teror, dan kita be­lum sepenuhnya tuntas mem­basminya.


Kalau dalam satu rumah, anggota-anggotanya terbelah dua, yang satu mendukung 
dan yang lain menolak terorisme, maka rumah itu akan te­tap rawan terhadap aksi 
teror. Maka marilah kita sama-sama "membersihkan" rumah kita dari pemahaman 
yang salah tentang jihad, iman, dan Islam. 
Kendati hal ini sulit, namun tidak ada salahnya kalau kita terus berupaya 
de­ngan penuh kesabaran.


Gerry Setiawan
Jl Kober Gang H Ismail Condet
Jakarta Timur
[email protected].



Merdeka dari Kemiskinan dan Korupsi



Redaksi Yth,
Ada peristiwa yang unik dalam perayaan HUT ke-64 Prok­lamasi RI tahun ini. Di 
an­taranya, ada sekitar 2.000 pe­nyelam melakukan pengi­baran bendera Merah 
Putih di dasar laut Malalayang, Ma­nado. Se­men­tara itu, delapan anggota 
Ma­pala Politeknik Negeri Ujung­pandang mengibarkan ben­dera Merah Putih di 
tebing Enrekang, Sulsel. Satu lagi yang cukup spekta­kuler adalah pe­ngibaran 
bendera Merah Pu­tih di puncak gunung tertinggi di Eropa yaitu di barat Gunung 
Elbrus, Rusia oleh Indonesian Inde­pendence Day Team.


Selain semangat nasiona­lisme yang ingin ditunjukkan ke­­pada anak negeri ini, 
ba­rang­kali makna lain yang ter­sirat da­lam aktivitas mereka, lebih-lebih 
pada kegiatan di da­sar laut Malalayang, Ma­na­do dan di tebing Enrekang, 
Sulsel, yak­ni rasa cinta mereka terhadap ke­­kayaan alam yang terkandung di 
laut dan di balik din­ding bukit.


Kalau semangatnya hanya ber­henti sampai di situ, ba­rangkali dampaknya akan 
ku­rang signifikan bagi kemajuan bangsa ini. Semangat itu mesti berujung pada 
keinginan yang kuat untuk memanfaat­kan se­cara bertanggung jawab potensi 
kekayaan yang terkandung di Bumi Pertiwi ini guna memer­dekakan bangsa ini dari 
kemis­kinan. Hal itu baru bisa terwujud kalau laut dan gu­nung kita d­ijauhkan 
dari campur tangan orang asing. Dari aksi pencurian bangsa lain, dari aksi 
mani-pu­lasi utang-pi­utang.  Orang-orang asing jangan lagi menjadi tuan di 
Tanah Air kita. Para pen­diri bangsa sudah berpesan agar seluruh kekayaan 
negara di­­manfaat­kan sebesar-besar­nya untuk kesejahteraan rak­yat.


Memerdekakan bangsa ini dari kemiskinan juga me­ng­andaikan terbebasnya negeri 
ini dari budaya korupsi. Koor­dinator Indonesia Corruption Watch (ICW), Danang 
Wido-yoko, menilai Indonesia belum merdeka dari jajahan korupsi. Buktinya, 
Indonesia masih dianggap sebagai negara yang ko­rup di dunia, terutama da­lam 
hal pelayanan publik. Ti­dak mudah bagi KPK ber­juang memberantas korupsi di 
Indonesia. Singkatnya, kita belum merdeka dari korupsi. Indeks persepsi korupsi 
kita bah­kan lebih tinggi dari ne­gara Timor Leste yang usia ne­gerinya baru 
seumur jagung.


Ir Sarjito
Volunteer NGO, tinggal di Lhok Seumawe-NAD
[email protected].


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke