Refleksi : Kenaikan harga tidak perlu terjadi!  Tetapi,  selama 64 NKRI 
merdeka, situasi harga tetap menjulang naik ke angkasa biru, hal ini menjadi 
beban besar dan berat bagi kehidupan umat beragama berpendapatan rendah atau 
yang berpendapatan senin kemis pada umumnya. 

Kebiasaan kenaikan harga berlangsung terus menerus  tanpa pardon, sekalipun 
makin banyak rumah ibadah di bangun di kota-tota dan desa-desa. Terlebih-lebih 
pada hari-hari raya agama harga meroket ke langit nan biru. Rupanya dibalik  
hirup pikuk  popularisasi agama terselubung hakekat untuk mengeruk keuntungan 
sebesar-besarnya dan oleh karena harga bahan-bahan kebutuhan sengaja dinaikan 
dengan apa yang dikenal dengan mekanisme hukum pasar berdasrakan permintaan dan 
penawaran.  

Berbeda dengan di negeri-negeri yang sering dijulukan kafir seperti  misalnya 
negeri-negeri di Europa, pada hari-hari raya agama apa pun tidak terasa adanya 
perubahan kenaikan harga. Persedian pasar tetap terjamin dan harga-harga pun 
relatif tetap stabil.

Mungkin saja agama di NKRI telah alat utama untuk mengeruk laba rejeki duniawi 
dari pada makna surgawi yang seharusnya.



http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/08/22/12572235/kenaikan.harga.saat.ramadhan.tidak.perlu.terjadi


Kenaikan Harga Saat Ramadhan Tidak Perlu Terjadi
Sabtu, 22 Agustus 2009 | 12:57 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebesar 5-10 persen 
yang biasa terjadi saat Ramadhan seharusnya tidak perlu terjadi. Sebab, 
fenomena tahunan ini akibat ulah para pedagang sendiri, masalah distribusi, dan 
terjadi peningkatan permintaan masyarakat. 

"Kenaikan 5 sampai 10 persen yang biasa terjadi tidak bisa diterima," ucap 
Direktur Indef M Ikhsan Modjo saat diskusi bertema "Kemarau Stok Pangan" yang 
diadakan Trijaya di Warung Daun Jakarta, Sabtu (22/8).

Ikhsan menjelaskan, kenaikan biasanya diawali oleh ulah beberapa pedagang yang 
mencoba menaikkan harga sehingga kemudian menjadi kenaikan secara umum di 
pasaran.

Selain itu, kata dia, adanya permintaan masyarakat yang meningkat lantaran 
budaya konsumtif selama Ramadhan serta adanya psikologis masyarakat yang 
menimbun barang. "Bukan hidup bersahaja selama Ramadhan, tapi malah hidup 
pesta-pesta. Masyarakat juga ketakutan (barang) habis, jadi mereka langsung 
borong," ucapnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, lanjut Ikhsan, masyarakat harus kritis 
terhadap ulah para pedagang dengan melakukan pengecekan harga di beberapa 
pedagang. Selain itu, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap stok barang 
karena akan memicu kenaikan harga. "Kalau masyarakat panik dan memborong 
barang, maka akan terjadi peningkatan harga," ujarnya.

Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia Ngadiran membantah kenaikan harga yang 
biasa terjadi selama Ramadhan akibat ulah para pedagang. "Enggak mungkin 
pedagang menaikkan harga seenaknya, bisa ditinggal konsumen," ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga sebenarnya sudah terjadi pada tingkat grosir atau 
agen, dan para pedagang tetap menginginkan harga stabil.

Artikel Terkait: 
  a.. Harga Kebutuhan di Bandung Terus Meningkat
  b.. BPS: Harga Barang Grosir Naik


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke