Jawa Pos
[ Minggu, 27 September 2009 ] Sigi Lamo, Masjid Besar Kesultanan Ternate, Maluku Utara Tak Izinkan Orang Salat Bersarung Bagi yang suka berwisata religi, tidak ada salahnya mengunjungi Sigi Lamo di Maluku Utara. Objek wisata yang tidak lain Masjid Besar Ternate itu adalah jejak sejarah perkembangan Islam di Maluku dan Nusantara. PURWANTO NGATMO, Ternate --- DALAM bahasa Ternate, Sigi berarti masjid dan Lamo bermakna besar. Sesuai dengan namanya itu, Sigi Lamo adalah masjid terbesar di Ternate dan sekaligus tertua. Lokasinya tidak jauh dari Keraton Kesultanan Ternate. Masjid itu dulu memang dibangun Kesultanan Ternate dan menjadi bagian dari kompleks Kesultanan Ternate. Selain mengandung nilai sejarah, masjid tersebut memiliki beberapa keunikan dan kekhasan. Mulai sejarah berdiri, arsitektur, silsilah, hingga tata cara beribadah di dalamnya. Kekhasan dalam tata cara beribadah di masjid dirasakan saat penulis berniat mengikuti salat Jumat berjamaah di sana pada pertengahan September lalu. Begitu gendang (beduk) di masjid tersebut ditabuh, sejumlah warga mulai berdatangan. Yang unik, di antara rombongan jamaah yang berniat salat jamaah di masjid itu, tidak ada seorang pun yang mengenakan sarung. Padahal, di masjid-masjid lain lazimnya jamaah lelaki bersarung. Seluruh jamaah laki-laki di Sigi Lamo mengenakan celana panjang dan berpeci. Kalaupun ada jamaah yang mengenakan sarung, pengurus masjid akan mendatangi dan memintanya mengganti sarung dengan celana dan jubah. Pengurus masjid tersebut memang menyediakan jubah dan celana panjang dalam berbagai ukuran. ''Ada peci di dalam lemari, Pak. Silakan diambil dan dipakai," pinta Ibrahim Hi Ahmad, seorang bobato akherat. Bobato akherat adalah istilah masyarakat Ternate untuk menyebut imam masjid. Ibrahim menjelaskan, aturan salat bercelana panjang di masjid berlaku sejak masjid tersebut berdiri pada abad XII. ''Sejak masuknya Islam ke Tanah Maluku Kie Raha (Maluku Utara),'' tambah Ibrahim yang juga menjabat sebagai pelaksana harian menteri agama Keraton Kesultanan Ternate setelah memimpin salat Jumat. Tidak ada penjelasan pasti terkait tata tertib salat dengan batasan pakaian seperti itu. Masyarakat Ternate hanya meneruskan kebiasaan para petinggi dan tokoh Kesultanan Ternate. Sejatinya, Sigi Lamo adalah masjid keluarga kesultanan. Namun, masyarakat umum dipersilakan menjalankan ibadah salat di dalamnya. ''Yang penting ikut aturan di sini," kata Ibrahim. Versi lain menyebutkan, tata cara itu terkait dengan budaya tekstil masyarakat Ternate. Sebelum Islam masuk ke Ternate, masyarakat Ternate mengenal pembuatan kain. Namun, mereka tidak biasa menggunakan kain itu untuk membuat sarung. Kain produk Ternate digunakan untuk membuat celana. Celana itu juga yang akhirnya dipakai saat beribadah salat di Sigi Lamo, sebagai pengganti sarung. Keharusan peci, menurut Ibrahim, berkaitan dengan kebiasaan Nabi Muhammad SAW yang selalu mengenakan tutup kepala saat salat. ''Kami di sini mengikuti kebiasaan Rasulullah. Kalau tidak ada peci, bisa dengan sapu tangan,'' tambahnya. Yang juga unik di masjid tersebut adalah imam yang memimpin salat bergiliran berdasar empat suku yang tinggal di Maluku Utara. Yaitu, Imam Jiko, Imam Jawa, Imam Sangadji, dan Imam Moti. Imam Jiko mewakili etnis Arab, Imam Jawa untuk etnis Jawa, Imam Sangaji untuk etnis Ternate, dan Imam Moti untuk etnis Moti. Empat imam yang mewakili empat etnis itu akan bergiliran memimpin salat, terutama saat salat Jumat dan Tarawih. (*/jpnn/ruk ++++ Jawa Pos [ Minggu, 27 September 2009 ] Empat Tiang Utama Melambangkan Empat Gunung di Maluku Utara KEUNIKAN lain Sigi Lamo adalah makna yang terkandung di setiap sudut bangunan masjid. Mulai anak tangga, atap, dinding, hingga tiang-tiang yang terdapat dalam masjid tidak dibangun asal-asalan. Ada simbol dan makna yang terkandung di dalamnya. Desain atap, misalnya, mengandung makna ganda. Kalau dilihat dari depan, atap tersebut terlihat tujuh susunan. Itu melambangkan tingkat langit, yang menurut ajaran Islam ada tujuh lapis. Uniknya, kalau dilihat dari samping, atap tersebut terkesan hanya ada lima lapis. Makna yang terkandung di dalamnya adalah salat wajib lima waktu sehari semalam, yang merupakan salah satu rukun Islam. Secara keseluruhan, bangunan masjid tersebut disangga 16 tiang. Di antara belasan tiang tersebut, ada empat tiang di dalam masjid yang menjadi tiang utama. Empat tiang utama itu melambangkan empat gunung di Maluku Utara yang biasa disebut kie raha. Kie dalam bahasa Ternate berarti gunung dan raha berarti empat. Empat gunung itu juga menjadi lokasi pusat empat kerajaan besar di Maluku Utara. Yaitu, Kesultanan Bacan, Tidore, Jailolo, dan Ternate. Yang tidak kalah unik adalah konstruksi masjid. Dindingnya tidak dibuat dari semen dan pasir. Namun, dibuat dari campuran kapur dan serabut. Walau usianya sudah ratusan tahun, masjid yang oleh Pemerintah Kota Ternate dan Provinsi Maluku Utara ditetapkan sebagai salah satu objek sejarah di Malut itu masih terlihat kukuh. Meski, masjid itu beberapa kali diguncang gempa berkekuatan besar yang pernah melanda Ternate. (*/jpnn/ruk) [Non-text portions of this message have been removed]
