Refleksi: Apakah penggalian kekayaan alam di daerah bukan pembangunan? Kalau 
pembangunan daerah gagal,lantas dimana saja ada pembangunan? 

http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=10694


009-09-28
Pembangunan Daerah Gagal


Jakarta Kebanjiran Pendatang 

[JAKARTA] Terus bertambahnya pendatang dari daerah menyerbu Jakarta dan wilayah 
sekitarnya, terutama setiap pasca-Lebaran, menunjukkan pemerintah gagal 
melaksanakan pembangunan daerah. Belum lahirnya adanya pusat-pusat pertumbuhan 
ekonomi baru di daerah, menjadikan magnet Jakarta begitu kuat, untuk menarik 
pendatang, dan di sisi lain pemerintah tak mampu mengatasi dan mengaturnya.

Demikian rangkuman pandangan pakar tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono 
Joga, ekonom Hendri Saparini dan Revrisond Baswir, Sekjen Asosiasi Pengusaha 
Indonesia (Apindo) Djimanto, serta pakar tata kota Yayat Supriyatna, secara 
terpisah, di Jakarta, Senin (28/9).

Nirwono berpendapat, akibat urbanisasi yang berlebihan ke Jakarta membuat arah 
pembangunan Ibukota semakin tidak jelas. Banyaknya pendatang baru telah 
menimbulkan berbagai persoalan baru, seperti munculnya permukiman kumuh yang 
membuat Jakarta tidak nyaman. "Masalah urbanisasi tidak pernah dibenahi 
sehingga membuat Jakarta dipenuhi jutaan manusia. Ini terjadi akibat 
pembangunan di daerah tidak merata," katanya.

Ketua Kelompok Studi Lansekap Indonesia itu menambahkan, masalah urbanisasi ke 
Jakarta tidak semata-mata kesalahan Pemprov DKI Jakarta, namun juga kesalahan 
pemerintah pusat. Pemerintah pusat, lanjut dia, tidak mampu melakukan 
pemerataan pembangunan di kota-kota lain di Indonesia sehingga semuanya 
bertumpu ke Jakarta.

"Lapangan kerja di kota-kota lainnya di Indonesia sangat minim dibanding 
Jakarta. Desentralisasi pendidikan juga membuat orang daerah datang ke Jakarta 
untuk menuntut ilmu," ungkap dia.

Yayat Supriyatna juga menganggap persoalan urbanisasi di Jakarta tidak mungkin 
diselesaikan sendiri oleh Pemprov DKI Jakarta. "Harus ada kebijakan terpadu 
dari pemerintah pusat," katanya.

Industrialisasi di Daerah

Terkait hal tersebut, Hendri Saparini menilainya sebagai akibat pembangunan 
ekonomi yang tidak terintegrasi. Pemerintah, perbankan, dan instansi terkait 
lainnya masih berjalan sendiri-sendiri. "Seharusnya ada koordinasi untuk 
membangun satelit-satelit ekonomi di daerah-daerah," katanya.

Hendri mencontohkan, Kalimantan yang kaya akan rotan, namun langsung diekspor 
ke luar negeri. Sebaiknya, pemerintah mendorong industri pengolahan rotan 
dibangun di Kalimantan agar bahan mentah rotan bisa diolah sehingga masyarakat 
bisa bekerja. "Kalau hal seperti itu dilakukan di sebagian besar daerah di 
Indonesia, maka urbanisasi lama-lama hilang," kata dia. 

Menurut Hendri, hal itu mencerminkan kuatnya liberalisasi ekonomi, di mana 
banyak bahan mentah yang diekspor langsung. "Kalau pembangunan ekonomi di 
daerah dan otonomi daerah ingin sukses, stop liberalisasi ekonomi," kata dia. 

Disinggung kucuran Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK), dia 
berpendapat, dalam praktiknya lebih banyak digunakan untuk gaji pegawai di 
daerah. "Dan yang saya tahu, daerah yang mendapatkan DAK karena adanya kekuatan 
lobi dengan pemerintah pusat, bukan karena ada prioritas dari pusat untuk 
membangun daerah yang harus yang bersangkutan," kata dia. 

Selain persoalan ekonomi, menurut Hendri, sektor pendidikan juga harus dibangun 
untuk mengerem urbanisasi. Sayangnya, hingga saat ini pendidikan masih terpusat 
di Jawa, karena lembaga pendidikan sudah menjadi lembaga kapitalisme. 

"Orang berduit membangun lembaga pendidikan bukan bagaimana supaya mendidik 
masyarakat, tetapi untuk mendapatkan keuntungan. Ini semua buah strategi 
pembangunan ekonomi yang tidak jelas," kata dia. 

Senada dengan itu, Djimanto juga melihat strategi pembangunan industri masih 
terfokus di wilayah sekitar Jabodetabek dan kota-kota besar. Selain itu, 
rendahnya harga jual hasil pertanian, mendorong orang enggan bertani. 
Akibatnya, sebanyak 70% pendatang baru ke kota setiap tahun, bekerja sebagai 
tenaga kerja informal, seperti pedagang kaki lima, tukang parkir, menjual mi 
ayam, bakso, dan lain-lain.

Sedangkan Revrisond Baswir menyoroti, membanjirnya pendatang dari daerah ke 
Jakarta, karena substansi otonomi daerah tidak dijalankan, terutama terkait 
dengan hak pungut. "Otonomi daerah yang dijalankan selama hampir 10 tahun 
semata-mata perpindahan kewajiban pemerintah pusat kepada pemerintah daerah 
untuk masyarakat. Namun, hak pungut, seperti pajak, tetap dipegang pemerintah 
pusat. Padahal, substansi penting dari otonomi daerah adalah hak pungut untuk 
membangun daerah," kata Revrisond Baswir.

Hal itu pula, menurutnya, yang mendorong tingginya peredaran uang di Jakarta. 
"Semua bersumber dari hak pungut yang masih dipegang pusat, sehingga tidak ada 
pembangunan di daerah," jelasnya.


Akses Pendanaan

Secara terpisah, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman Hadad 
menjelaskan, salah satu kunci pembangunan daerah adalah akses pendanaan. Namun, 
dia mengakui, hingga saat ini tidak lebih dari 20 persen masyarakat Indonesia 
yang menikmati akses pembiayaan perbankan. Penyebabnya, regulasi yang rumit dan 
profil calon debitor di daerah yang umumnya dianggap tidak bankable, serta 
masih adanya pendelegasian persetujuan kredit dari bank cabang di daerah ke 
kantor pusatnya di Jakarta.

"Sekarang ini aksesnya saja sulit, karena peraturan yang berbelit-belit dan 
orang tidak mempunyai standar minimal (tidak bankable) untuk bisa berhubungan 
dengan bank," terang dia.

Untuk itu, sambung Muliaman, BI terus mendorong kontribusi Bank Pembangunan 
Daerah (BPD) serta Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebagai ujung tombak pembuka 
akses finansial di daerah, sehingga mampu meredam lonjakan urbanisasi yang 
kerap terjadi tiap tahun. "Perbankan merupakan salah satu alat untuk 
meningkatkan akses keuangan masyarakat, sekaligus pendukung terbentuknya sentra 
ekonomi di daerah," ujarnya. [H-14/RRS/E-8]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke