Moga-moga negara ini selamat dari segala bencana yang sedang dan masih menimpa 
nya.




________________________________
From: Al Faqir Ilmi <[email protected]>
Sent: Monday, September 28, 2009 10:24:08
Subject: [inti-net] MUNAS GOLKAR UNTUK BANGSA

  
MUNAS GOLKAR UNTUK BANGSA
Oleh: HUTOMO MANDALA PUTRA[i]
 
 
Perjalanan bangsa telah sepakat memilih sebagai negara demokrasi, namun dalam 
prakteknya, demokrasi menjadi ajang menyengsarakan rakyat. Demokrasi baru 
slogan semata. Sementara itu, bangsa menghadapi permasalahan serius, 
diantaranya: Kesemrawutan Sistem Ketatanegaraan. Praktek politik kepartaian 
dalam sistem kenegaraan yang semrawut telah menyebabkan Partai-partai dilanda 
krisis kepercayaan rakyat. Hal itu disebabkan karena partai-partai gagal/ tidak 
mampu menampung aspirasi rakyat, gagal merespon keadaan yang mendesak, serta 
tidak mampu menawarkan solusi buat masa depan, yang terjadi malah praktek 
dagang sapi, sehingga berkembang budaya transaksional dan partai bukan lagi 
sebagai kendaraan transformasi (perubahan) nasib rakyat ke arah yang lebih 
baik. Contoh adalah pemilu yang lalu terbukti amburadul. 
  
Pemilu Tanpa Logika Kedaulatan Rakyat 
Di dunia ini, negara demokrasi memiliki dua (2) model yaitu sistem parlementer 
dan sistem presidensial. Ada juga yang campuran seperti Perancis, namun 
penggabungannya tetap mentaati azas logika kedaulatan rakyat yang tidak boleh 
didistorsi. Sementara Indonesia mencampur-adukkan keduanya, sampai alur logika 
pertanggung- jawab kedaulatab rakyat tidak jelas.  
Dalam sistem parlementer, program yang ”dijual” dalam kampanye Pemilu adalah 
program partai. Program partai pemenang Pemilu otomatis dijadikan program kerja 
pemerintah. Karena dalam Pemilu yang dipilih rakyat adalah partai, maka partai 
pemenang Pemilu yang membentuk Kabinet (kecuali tidak menang mutlak yaitu 
50%+1, maka kabinet yang dibentuk koalisi, agar dukungan suara di DPR menjadi 
mayoritas). Maka dalam sistem parlementer Ketua Partai otomatis menjadi calon 
Perdana Menteri. Karena mandat kedaulatan rakyat diserahkan kepada partai, maka 
pengurus partai berhak mencopot anggota DPR ditengah jalan bila menyimpang dari 
kebijakan partai. 
Sebaliknya dalam sistem presidensial, program yang ditawarkan dalam kampanye 
adalah program sang Calon Presiden (bukan Program Partai). Program Calon 
Presiden terpilih otomatis dijadikan program pemerintah. Dalam Pemilu sistem 
presidensial rakyat langsung memilih Calon Presiden, maka yang membentuk 
kabinet adalah Presiden Terpilih. Karena datangnya legitimasi langsung dari 
rakyat, maka calon independen pun dalam sistem presidensial juga 
diakomodasikan.  Dalam sistem presidensial kabinet yang dibentuk adalah Kabinet 
Ahli (Zaken), bukan kabinet partai apalagi gabungan partai warna-warni. Wajar 
pula  dalam sistem presidensial dimanapun tidak dijumpai Ketua Partai 
dicalonkan menjadi Calon Presiden (Kecuali di Indonesia). 
            Juga dalam sistem perwakilan, pada sistem parlementer dalam Pemilu 
rakyat memilihnya tanda gambar partai, maka status anggota DPR adalah wakil 
partai. Sebaliknya pada sistem presidensial, dalam Pemilu rakyat memilihnya 
tanda gambar Calon Anggota DPR, bukan gambar partai. Maka anggota DPR dalam 
sistem presidensial adalah wakil Rakyat, bukan wakil partai.   
Sedang  dari urut-urutan siklus kepemimpinan nasional, dalam  sistem 
parlementer Anggota DPR dipilih lebih dulu, baru membentuk pemerintahan. Dan 
sebaliknya dalam sistem presidensial, pemilihan Presiden dulu, baru Pemilu 
anggota DPR. Jadi, masing-masing model punya sejarahnya sendiri, serta punya 
alasan dan logika sendiri yang tidak bisa dicampuradukkan tanpa logika. 
  
PARTAI CALO POLITIK SAH BERDASAR UU 
            Bagaimana dengan di Indonesia? Demokrasi kita semrawut, tak 
terkecuali soal Pemilu. Lihat saja Pemilu Legislatif yang lalu. Apa dasar bagi 
rakyat untuk menjatuhkan pilihan? Bila alasannya memilih program partai, sudah 
tentu itu bohong, karena dalam sistem presidensial yang dijadikan program kerja 
pemerintah adalah program sang Calon presiden pemenang Pemilu, bukan program 
partai. Dalam kampanye Pemilu yang lalu, partai-partai telah mengobral janji. 
Bukankah itu adalah pembodohan dan  pembohongan publik namun sah secara 
konstitusi? 
Bila alasan Pemilu Legislatif untuk memenuhi amanat UUD,  karena  diamanatkan 
Calon Presiden harus diajukan oleh Partai atau gabungan Partai, mari kita 
cermati apa yang telah terjadi pada Pileg yang lalu: Siapa sosok yang  
dicalonkan oleh masing-masing Partai? Disini terjadi kebingungan. Beberapa 
partai lama mencantumkan sejumlah wajah capres yang diusungnya, karena tidak 
mau ketinggalan bag-bagi kekuasaan. Model arisan kekuasaan ini membuat rakyat 
jadi tambah bingung.  Ada partai yang berani menyebut nama satu orang capres, 
namun apakah dijamin bahwa partainya bisa melewati batas  minimal perolehan 
suara 20% kursi di DPR atau 25% suara sah di Pemilu? Kalau tidak mencapai 20% 
berarti suara rakyat yang memilih partai tersebut karena alasan capresnya 
menjadi hilang. 
Kesimpulannya, Pemilu yang kita laksanakan tak ubahnya menempatkan 
Partai-partai sebagai CALO. Karena dasar rakyat memilih tidak ada. Program 
bukan. Capres bukan. Artinya rakyat menyerahkan suaranya, tanpa dasar, kepada 
partai, sebagai CALO POLITIK, untuk ”dagang sapi” dalam mencari Capres. Maka, 
wajar dan sah secara hukum kalau partai-partai terlibat dalam ”politik uang” 
untuk mendapatkan harga tawar yang tertinggi dari para Calon Presiden. Jadi 
semacam Capres dagangan saja. 
   
  
Munas GOLKAR jadikan momentum perubahan 
Munas Partai Golkar harus menjadi momentum untuk melaksanakan perubahan yang 
mendasar dan komprehensif. Salah satunya adalah memformat ulang sistem 
kenegaraan secara keseluruhan termasuk persoalan Pemilu. Perubahan tersebut 
tidaklah mungkin akan datang dari tatanan yang ada saat ini.  Untuk itu 
diperlukan tampilnya Kandidat Ketum Golkar yang memenuhi  5 persyaratan, yaitu: 
Pertama, punya Solusi untuk menghentikan keterpurukan. Kedua, punya ”Platform” 
atau Paradigma  Baru untuk mengubah sistem kenegaraan dari otoriter menjadi 
demokrasi. Sistem yang menjamin kedaulatan rakyat tidak menjadi mainan dan 
dagang sapi. Ketiga, punya keberanian lebih, termasuk berani berbuat salah 
sekalipun untuk menghadirkan kebenaran karena selama ini terbelenggu sistem 
hukum yang ada. Keempat, punya integritas pribadi yang tinggi yang telah 
dibuktikan melalui proses hukum nasional maupun internasional yang berlaku. Dan 
Kelima, Sosok yang tidak bermasalah atau bagian
masalah yang sedang dihadapi bangsa, sehingga Partai Golkar tidak terbawa dalam 
keruwetan masalah pribadi yang akan menghancurkan partai. Mari kita mulai dari 
Partai Golkar. Insya Allah akan saya wujudkan apabila saya diberi amanah dalam 
Munas Oktober mendatang. 

[i] Hutomo Mandala Putra calon Ketum Golkar pada Munas Oktober 2009, dan 
sepakat membangun NEGERI MERAK (MEngutamakan RAKyat)
 
 
BERSAMA GOLKAR, HUTOMO MENGUTAMAKAN RAKYAT

HMPG ONE CENTRE
Gedung Granadi Lantai 9
Rasuna Said Kav. XI No. 8-9 Jakarta Selatan
021 52964960 Ext 908, Fax. 021 52964944 Ext 905
Email : hutomoforgolkar@ yahoo.com
Website : www.hutomoforgolkar .org

[Non-text portions of this message have been removed]


   


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke