http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=10769
2009-09-30 Tujuh Juta Orang Indonesia Mengidap Hepatitis C [JAKARTA] Jumlah orang mengidap hepatitis C di dunia sekitar 170 juta, dari jumlah itu, sekitar 7 juta ada di Indonesia. Hepatitis C merupakan penyakit menular yang tidak kalah serius dibanding dengan HIV/AIDS, namun hanya sebagian kecil yang mendapatkan pengobatan karena lebih dari 90 persen tidak bergejala, sehingga belum terdiagnosis. Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Hepatitis C Departemen Kesehatan Profesor Ali Sulaiman mengutarakan hal itu saat serah terima pendataan hepatitis C nasional oleh Presiden Direktur PT Roche Indonesia dr Ait Allah Mejri ke Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Profesor Tjandra Yoga Aditama, Selasa (29/9) di Jakarta. Pendataan dilakukan tahun 2007-2008 di 21 provinsi dengan 137 lokasi yang terdiri dari 29 unit transfusi darah (UTD), 55 rumah sakit (RS), dan 43 laboratorium kesehatan. Hasilnya, menurut Direktur Surveilans Epidemiologi dan Kesehatan Matra Departemen Kesehatan dr Andi Muhaidir MPH, sejak 1 Oktober 2007 hingga 31 Agustus 2009, ditemukan kasus hepatitis C sebanyak 15.736. Menurut dia, dari data yang berhasil dikumpulkan, hepatitis C merupakan penyakit menular yang tak kalah serius dibanding HIV/AIDS, dan berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB) karena mudah menular antarmanusia. Menurut Tjandra, dengan telah dibentuknya sistem pendataan, surveilans hepatitis C dengan pendekatan laboratorium (bukan pendekatan klinis) dilakukan di 21 provinsi oleh Departemen Kesehatan. Namun, kata Tjandra, kebijakan Departemen Kesehatan untuk hepatitis C adalah pencegahan, pengobatan belum menjadi prioritas saat ini. Ali menjelaskan, kasus hepatitis C merupakan fenomena gunung es karena umumnya penyakit ini tak bergejala. Biasanya terdeteksi saat seseorang mendonorkan darahnya atau pemeriksaan kesehatan. "Infeksi dapat menurunkan kualitas hidup yang berdampak pada penurunan produktivitas. Komplikasi jangka panjang adalah pengerasan hati atau sirosis hati, kanker hati, hingga kematian," katanya. Pencegahan Secara global, pengidap hepatitis C diperkirakan 170 juta orang. Jumlah ini lebih banyak dari orang yang terinfeksi HIV sebanyak 40 juta orang, sementara, hepatitis B 350 juta orang. Dari pemeriksaan sampel donor darah, ditemukan darah yang tercemar virus hepatitis C (VHC) berkisar 1 hingga 3,4 persen. Perjalanan penyakit hepatitis C hingga menjadi kanker hati, kata Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr Unggul Budihusodo SpPD KGEH, memakan waktu 20 hingga 30 tahun. Sebab, sekitar 80 hingga 90 persen kasus hepatitis C bergejala dan tanda yang minimal, kecuali jika sudah terjadi komplikasi pada tahap lanjut, maka pada kelompok berisiko tinggi perlu dilakukan pemeriksaan darah awal (penapisan) anti-VHC, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan VHC RNA kuantitatif dan genotipe VHC bila hasil pemeriksaan darah awal anti-VHC positif. "Pada pasien hepatitis C kronis, sekitar lima hingga 20 persen akan menjadi sirosis dalam 20 hingga 25 tahun. Pada pasien yang sudah sirosis, risiko menjadi kanker mencapai tiga persen per tahun. Kesadaran untuk terapi dan akses terapi sangat penting. Dengan terapi yang tepat hepatitis C dapat disembuhkan," jelas Unggul. Ali melanjutkan, jika tidak diterapi hepatitis C akan menjadi beban sosial ekonomi. Karena itu, sangat diperlukan perluasan akses terapi agar semakin banyak jumlah pengidap hepatitis C yang bisa mendapat terapi. Pasalnya, terapi hepatitis C yang tidak murah membuat hanya sebagian kecil yang bisa mendapatkan pengobatan. Dia menjelaskan beban biaya tahunan yang dikeluarkan pengidap hepatitis C kronik jika tidak diterapi, terdiri dari hepatitis C kronik Rp 305 juta- Rp 5 juta/orang/tahun, sirosis Rp 15-20 juta/orang/tahun, kanker hati Rp 28 juta-100 juta/orang/tahun, kanker hati stadium lanjut Rp 300 juta/orang/tahun, dan transplantasi hati Rp 1,5 -3 miliar/orang. [N-4] [Non-text portions of this message have been removed]
