Yang aneh adalah saat bencana begini, kenapa aparat keamanan bisa menghilang ? Harusnya mereka siap mengamankan lokasi bencana sehingga penjarah tidak bisa memeras atau menjarah siapapun anggota masyarakat yang menjadi korban gempa. Lagi lagi orang Tionghoa yang jadi korban pemerasan. Atau karena mereka orang Tionghoa makanya dibiarkan jadi korban pemerasan pada saat terjadi bencana gempa di Padang ?
---------------------- Penjarah Teror Korban Gempa Beberapa warga keturunan Tionghoa korban gempa mengaku diperas. PADANG -- Tindak kejahatan meningkat sejak gempa hebat mengguncang Kota Padang dan Pariaman pada Rabu lalu. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sumatera Barat Ajun Komisaris Besar Kawedar mengatakan penjarahan terjadi di pusat grosir Sentral Pasar Raya, Padang, pada Jumat lalu dan di sebuah biro perjalanan di depan Matahari Department Store, Kamis. Semua peralatan biro perjalanan itu dijarah. Menurut Dasril, sopir angkutan kota yang mangkal di depan Sentral Pasar Raya, seorang pemuda ketahuan mengambil belasan telepon seluler dari gerai Nokia. "Namun, aksinya diketahui sejumlah warga dan langsung dihajar beramai-ramai. HP-nya dikembalikan," kata Dasril. Pencurian juga merebak di Pariaman. Yasman, 46 tahun, warga Kudu Gantiang, Pariaman, mengatakan pencuri biasanya beraksi pada malam hari. "Sejumlah rumah di Pariaman sering kemalingan," ujar Yasman kemarin. Selain menggasak barang berharga yang masih banyak tertimbun reruntuhan rumah, para pencoleng mencuri kendaraan bermotor yang diparkir di depan rumah. Polda Sumatera Barat kini meningkatkan penjagaan dengan menempatkan beberapa personel di setiap tempat evakuasi, pertokoan, dan mal. Kawedar mengatakan polisi telah menangkap lima pencuri dan penjarah di sejumlah tempat di Kota Padang. "Kami memperketat penjagaan dengan memasang police line, karena ada pencuri pura-pura menjadi petugas evakuasi, tapi kemudian mengambil AC," kata dia kemarin. Beberapa warga keturunan Tionghoa korban gempa di Kota Padang juga mengaku diperas orang yang mengaku petugas penyelamat. "Mereka minta bayaran kalau mau rumahnya ditolong," kata Mariana, mahasiswi keturunan Tionghoa asal Padang, di Jakarta kemarin. Mariana mendapat kabar itu dari kerabatnya yang menjadi korban pemerasan di Padang. Keluarganya yang masih tertimbun puing-puing rumah belum bisa dievakuasi karena minimnya bantuan. "Saya belum bisa kontak keluarga di Padang," ujar mahasiswi universitas swasta di Bandung ini. Menurut dia, pemerasan terhadap warga Tionghoa kerap terjadi, termasuk ketika gempa Nias. "Teman saya (warga keturunan Tionghoa) juga diminta bayaran kalau rumahnya mau dibongkar," ujarnya. Mariana mengaku tak bisa berbuat apa-apa. "Bingung, mau minta tolong siapa lagi?" kata dia, yang mengaku tak tahu satuan asal petugas penyelamatan itu. Jin, warga keturunan Tionghoa di Padang, mengatakan, untuk membongkar puing-puing rumahnya, orang yang mengaku petugas penyelamat dan mengoperasikan alat berat itu meminta bayaran Rp 300-500 ribu. "Kalau tidak mau, tidak diladeni. Kalau mau bayar, baru digali," ujar Jin melalui sambungan telepon kemarin. "Kami tidak bisa berbuat apa-apa," ujar warga kawasan Pondok, Padang, ini. Pls Join : INTI-NET (INDONESIA TIONGHOA NETWORKS) [email protected] http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join Visit Tionghoanet on the blog : http://tionghoanet.blogspot.com/
