Mana ada yg Mau Ngaku..lawong yg ngambil keputusan Nyata nyata Boediono sama 
Srimuliani, tanpa sepengetahuan Wapres JK dimana saat itu presiden lagi keluar 
Negeri semestinya Srimuliani Laporan ke JK..dari situ aja sudah ada yg tdk 
beres.


-----Original Message-----
From: "sunny" <[email protected]>
Date: Mon, 30 Nov 2009 02:03:19
To: <Undisclosed-Recipient:;><Invalid address>
Subject: [inti-net] Dana Kampanye SBY Siap Audit Ulang

Jawa Pos
[ Minggu, 29 November 2009 ]


Dana Kampanye SBY Siap Audit Ulang
Untuk Klirkan Tuduhan Aliran Bank Century

JAKARTA - Terus-menerus dituding dengan isu mengalirnya uang panas Bank Century 
ke kas kampanye SBY-Boediono saat pilpres membuat Partai Demokrat tersudut. 
Untuk membuktikan isu itu tidak benar, mereka siap bila dana kampanye tersebut 
kembali diaudit.

"Demokrat secara partai dan untuk kepentingan presiden, yakni pilpres, siap 
diperiksa kalau memang ada aliran dana yang dituduhkan kepada Demokrat, 
pendukung Partai Demokrat, juga tim sukses SBY-Boediono," tutur anggota Fraksi 
Partai Demokrat (FPD) Achsanul Qosasih dalam diskusi Misteri Bank Century di 
Warung Daun, Jakarta Selatan, kemarin (28/11).

Menurut dia, dukungan fraksinya terhadap usul hak angket Century juga bertujuan 
membuktikan bahwa semua tudingan itu tidak benar. Achsanul menyebut ada empat 
persoalan yang menjadi target untuk ditelusuri fraksinya.

Salah satu persoalan tersebut adalah pengambilan keputusan bailout Rp 6,7 
triliun. Selain itu, adakah pihak tertentu yang berkepentingan terhadap 
pengambilan keputusan tersebut, adakah PMS (penyertaan modal sementara) dari 
LPS (lembaga penjamin simpanan) ke Bank Century yang bocor, dan bagaimana 
tindak lanjut kasus hukum terhadap Bank Century.

Dalam mengambil keputusan mendukung angket, fraksinya memang sengaja menunggu 
hasil audit BPK. Setelah ada laporan, barulah FPD tak ragu-ragu untuk 
memberikan dukungan. "Jadi, kami bukan penumpang gelap. Kami menunggu bus. 
Begitu tujuan jelas, baru naik," ujar Achsanul.

Wakil ketua Komisi XI DPR itu menambahkan, fraksinya tidak akan menghalangi 
pemanggilan terhadap PPATK, Wapres Boediono, maupun Menkeu Sri Mulyani. Tapi, 
dia berharap desakan mundur terhadap Boediono dihentikan. "Jangan dulu dibangun 
opini kalau Boediono nggak mundur, terus angket terkendala," papar dia.

Diskusi tersebut juga dihadiri anggota FPDIP Effendi Simbolon, mantan anggota 
Komisi XI Dradjad Wibowo, dan pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa.

Effendi mengatakan, DPR mengusung hak angket karena tidak ada iktikad baik dari 
pemerintah untuk membuka skandal Bank Century. Karena itu, dia meminta, khusus 
terkait dengan angket Century tersebut, FPD sebagai pendukung utama pemerintah 
tidak masuk ke pansus angket. "SBY harus legawa dengan tidak menempatkan 
kadernya di pansus angket," ujar dia.

Kalaupun ada kadernya yang masuk, menurut dia, Demokrat tidak boleh mengambil 
posisi pimpinan pansus. Pendekatan proporsional seperti yang diatur UU No 27 
Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD tidak bisa digunakan. "Itu bukan 
masalah ketua komisi atau ketua DPR (yang dibagi berdasar asas 
proporsionalitas, Red). Bagaimanapun, subjektivitas dan moral hazard pasti 
ada," terang dia.

Dradjad mengatakan, PPATK harus berani mengungkap aliran dana Century. Sebab, 
ada sejumlah transfer sesudah LPS mengucurkan dana ke Bank Century. Menurut 
dia, PPATK bisa fokus pada transfer yang melibatkan "Dua Bravo dan Tiga Romeo". 
Sayang, dia tak bersedia menjelaskan istilah itu.

"Dari sana, nanti ada pintu kecil," tutur Dradjad yang menolak menjelaskan 
lebih lanjut soal "Dua Bravo dan Tiga Romeo" tersebut. "Dengan kode itu saja, 
yang merasa pasti deg-degan," ungkap dia.

Dradjad menambahkan, laporan audit BPK yang telah diserahkan ke DPR menemukan 
penyaluran PMS dari LPS sebesar Rp 2,89 triliun. Dana yang dikucurkan setelah 
18 Desember 2008 tidak punya dasar hukum. Sebab, Perppu No 4 Tahun 2008 yang 
menjadi dasar keputusan bailout Century sudah ditolak DPR pada 18 Desember 
2008. (pri/tof)




[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke