http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010012801403168

      Kamis, 28 Januari 2010 
     
      OPINI 
     
     
     
100 Hari SBY Memerintah 

      Fitra Fatahillah

      Mahasiswa FISIP Unila; Staf Kebijakan Publik BEM

      SERATUS hari merupakan sebuah indikator pencapaian-pencapaian yang 
dilakukan oleh pemerintah, gebrakan-gebrakan yang dinanti-nantikan oleh rakyat, 
mereka semua menunggu realisasi dari janji-janji manis yang diberikan oleh 
penguasa semasa kampanye beberapa waktu yang lalu.

      Rakyat sudah jenuh menunggu apa yang mereka harapkan dari penguasa, 
rakyat hari ini merasa muak dengan sandiwara politik yang mereka saksikan di 
media yang seolah-olah melupakan kesengsaraan rakyat yang berada di bawah 
mereka terkesan lebih mementingkan kepentingan kelompok masing-masing dengan 
mengatasnamakan "rakyat". Namun, belumlah jelas di sini rakyat yang mana yang 
mereka maksudkan? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin berada dalam benak 
sebagian besar rakyat yang sebenarnya.

      Rakyat sudah tidak membutuhkan janji-janji yang seakan membawa angin 
segar, dan pada momentum 100 hari inilah rakyat menagih janji-janji manis yang 
dulu dijanjikan oleh SBY dengan jargon yang sangat familiar pada saat kampanye, 
yakni "Lanjutkan", dan mungkin jargon tersebut memiliki kekuatan magis yang 
mampu menghipnosis lebih dari setengah jumlah pemilih pada pilpres yang lalu.

      Peningkatan Mutu

      Dalam 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II bukan tanpa 
capaian-capaian yang sudah dilakukan diperoleh oleh kabinet ini, akan tetapi 
kita di sini bukan lebih ingin menceritakan tentang hal tersebut, yang nanti 
ditakutkan para penguasa terlena dengan pujian-pujian yang meninabobokan mereka 
karena apa yang dirasakan oleh rakyat dalam artian yang sesungguhnya hari ini 
masih banyak yang menjerit dalam kesengsaraan dan ketidakpastian menjalankan 
kehidupan sebagai warga negara di negeri tercinta ini.

      Jika kita mengingat kembali dalam kampanye SBY dulu, SBY datang 
seolah-olah sebagai utusan dari langit yang diutus untuk meningkatkan mutu 
hidup dari bangsa ini terutama mereka yang dikatakan sebagai "rakyat kecil" dan 
kesopansantunan SBY yang dikemas sedemikian rupa oleh tim pemenangannya mampu 
menggetarkan hati. Lebih dari setengah dari jumlah pemilih pun rela 
menggantungkan asanya lima tahun ke depan (jika sesuai rencana) kepada sang 
jenderal yang dikenal santun ini.

      Seharusnya SBY merasa memiliki beban yang sangat berat karena dia 
"menjual dirinya" kepada rakyat dan rakyat sekarang yang memilikinya, sudah 
seharusnya jika rakyat yang dalam hal ini sebagai pembeli harus mendapatkan 
pelayanan yang terabaik dari "si penjual". Layaknya seperti pembeli pada 
Umumnya pada sebuah pasar, di mana banyak pedagang yang menjual barang yang 
sama, maka pembeli yang satu ini ingin taraf hidupnya meningkat, SBY pun 
bertanggung jawab untuk melayaninya jika tidak ingin "si pembeli" pindah 
meninggalkan "si penjual".

      Jika kita menganalogikan rakyat (dalam arti sesungguhnya) sebagai pembeli 
dan SBY sebagai "si penjual", seyogianyalah SBY memakai prinsip "pembeli adalah 
raja". Maka, jika rakyat menginginkan peningkatan taraf hidupnya, SBY harus 
melakukannya karena rakyat yang sudah membayar pajak dan menginginkan pelayanan 
yang terbaik.

      Popularitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menurun dari 90% menjadi 75%. 
Itu berdasarkan hasil survei Indo Barometer yang dilakukan pertengahan Januari 
2010 yang dibandingkan dengan Agustus 2009. Ini menunjukan rakyat merasa tidak 
dilayani secara optimal, dan bukan tidak mungkin jika rakyat sudah tidak tahan 
menunggu ia akan melakukan hal-hal yang tidak diharapkan oleh SBY.

      Evaluasi 100 Hari

      Jika kita mengingat kembali bagaimana janji kampanye SBY akan "Lanjutkan" 
pemberantasan korupsi akan tetapi dalam realita perkembangannya dalam 100 hari, 
"rapor merah" memang pantas untuk diberikan. Hal ini dapat dilihat indikator 
kegagalannya seperti kriminalisasi dan pelemahan KPK, kemudian banyaknya kasus 
korupsi yang mengemuka antara lain kasus Bank Century, pengadaan IT KPU, dan 
penggunaan kasus-kasus korupsi untuk memobiliasi dukungan keuangan parpol yang 
merupakan bentuk inkonsistensi dari jargon "Lanjutkan" pemberantasan korupsi.

      belum lagi terjadinya kelumpuhan negara hukum dan demokrasi hal ini 
ditandai dengan kewibawaan hukum yang hancur, berkembangnya konflik internal di 
kepolisian, dan jaksa yang terjerat berbagai kasus. Jika tadi dilihat dari 
kegagalan dalam pemberantasan korupsi dan penegakkan hukum masih ada cerita 
dalam sektor ekonomi, SBY gagal memenuhi kedaulatan ekonomi nasional. 
Indikasinya, terjadi dominasi modal asing dalam penguasaan sumber daya nasional 
sampai dibukanya perdagangan bebas dengan China (ACFTA) per 1 Januari 2010 hal 
ini akan ini berisiko "membunuh industri nasional".

      Masih sejuta catatan di sana-sini "si penjual" yang dinilai tak mampu 
melindungi buruh migran di luar negeri, petani, dan nelayan. SBY juga gagal 
mencerdaskan dan menyehatkan bangsa. "Komersialiasi pendidikan difasilitasi UU 
BHP dan hadirnya institusi pendidikan asing. Sementara itu, pendidikan gratis 
tidak merata serta pelayanan kesehatan semakin elitis.

      Hari ini rakyat lelah, rakyat menuntut, rakyat menagih janji-janji manis 
saat kampanye. Rakyat adalah pembeli karena SBY sudah "menjual" dirinya melalui 
iklan politiknya kepada konstituennya, 100 hari adalah momentum pembuktian 
pelayanan terbaik kepada rakyat dan tampaknya masih terlau banyak catatan yang 
harus dibenahi.
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke