http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/penjara.wanita/page03.php
Penjara Wanita (3) Dari hasil penelusuran Tempo, yang membuat kita makin miris, di dalam tahanan yang sumpek dan bersanitasi buruk itu terdapat beberapa tahanan yang tengah menyusui bayinya. Setidaknya, ada tiga ibu menyusui yang ditemui Tempo di Blok E Rutan Pondok Bambu pada Kamis lalu. Salah satunya Nurhayati, 35 tahun, bukan nama sebenarnya. Karena tak ada keluarga yang mau merawat, narapidana kasus narkoba itu terpaksa merawat sendiri buah hatinya, Bunga, 11 bulan, di dalam penjara. Bunga tidur beralas kasur tipis, berjejal dengan 15 narapidana wanita yang merupakan teman sekamar sang ibu. Nasib Bunga sungguh berbeda dengan anak adopsi Artalyta "Ayin" Suryani: tidur di boks bayi yang mewah di kamar berpenyejuk udara dan selalu dijaga seorang baby-sitter yang siap melayani. Ya, bocah-bocah yang boleh dibilang tak berdosa itu berbaur menjadi satu dengan ratusan tahan wanita, dengan fasilitas tak memadai: sanitasi buruk dan asupan gizi yang sangat terbatas. Menu makanan bagi ibu-ibu hamil, menyusui, dan anak-anaknya tak jauh berbeda dengan tahanan lainnya. Tak ada tambahan. Bahkan kualitas makanan, menurut beberapa tahanan, jauh dari kualitas bagus. Terutama nasi. "Banyak batu. Kalau tidak hati-hati, malah ada ulatnya," cerita salah satu tahanan, yang diiyakan lima tahanan lainnya. Kisah miris tentang tahanan wanita hamil dan menyusui yang bercampuhttp://tempointeraktif.com/khusus/selusur/penjara.wanita/page03.phpr dengan penghuni lainnya tak hanya terjadi di Pondok Bambu. Di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kota Malang, Jawa Timur, juga hampir serupa. "Tahanan wanita hamil masih dicampur dengan penghuni lain," kata Kepala Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kota Malang Enny Purwaningsih. Meski begitu, tutur Enny, tak selamanya tahanan hamil berbaur dengan penghuni lainnya. Wanita hamil yang usia kandungannya sudah masuk sembilan bulan akan dipindahkan ke poliklinik. Jika tak ada masalah dengan kandungan atau kesehatan ibu, proses persalinan ditangani oleh dokter lembaga pemasyarakatan di poliklinik. Sebaliknya, jika ada masalah, pasien akan dirujuk ke Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang. Persalinan di poliklinik ini gratis. Sedangkan di Rumah Sakit Syaiful Anwar, biaya ditanggung oleh pasien sendiri bagi yang berada. Adapun untuk yang miskin, akan dicarikan surat keterangan tak mampu. Setelah melahirkan, lembaga pemasyarakatan akan merundingkan soal bayi dengan ibu dan keluarganya. Jika ibu menghendaki bayi bersamanya, lembaga pemasyarakatan akan mengizinkannya hingga usia bayi dua tahun atau masa menyusui eksklusif. "Jika ibu tak mau, bayi akan diserahkan ke keluarganya," ujar Enny. "Ibu yang membawa bayi ditempatkan di blok khusus, yakni di Blok A." Hal yang sama dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Bulu, Semarang, Jawa Tengah. Jika ada narapidana yang melahirkan, proses persalinan dilakukan di ruang kesehatan, dibantu tenaga medis yang tiap hari juga bertugas di lembaga pemasyarakatan tersebut. "Jika membutuhkan tindakan khusus, baru kami bawa ke rumah sakit," kata Kepala Lembaga Pemasyarakatan Wanita Bulu Endang Haryanti. Endang menyatakan, Lembaga Pemasyarakatan Bulu tak memberikan perlakuan khusus kepada narapidana yang tengah hamil. [Non-text portions of this message have been removed]
