http://www.gatra.com/artikel.php?id=135751


Lingkungan
Ketika Kelimutu Berubah Warna



Masyarakat Kecamatan Moni, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, kini resah. 
Mereka meyakini bakal terjadi bencana besar yang melanda negeri ini. Percaya 
atau tidak, keresahan itu terkait dengan perubahan warna tiga danau Kelimutu 
yang terjadi saat ini. Dahulu, tiga danau kebanggaan warga Ende itu 
masing-masing memancarkan warna berbeda, yakni merah-hijau-biru. Namun saat 
ini, ketiganya menjadi satu warna: hijau muda.

Perubahan warna itulah yang menjadi sumber keresahan warga Ende dan sekitarnya. 
Bagi mereka, perubahan warna Danau Kelimutu menandakan bakal terjadi bencana 
besar. "Bakal ada bencana yang menelan korban cukup banyak," kata Yulianus 
Mbate, warga Desa Woloara, Kecamatan Kelimutu, yang berumur 56 tahun. Dia 
mengisahkan, pada akhir 1964 juga terjadi perubahan warna seperti saat ini. 
Setahun kemudian, malapetaka besar menimpa bangsa Indonesia dengan adanya 
kemelut Partai Komunis Indonesia. "Setelah peristiwa PKI, warna air Danau 
Kelimutu kembali normal," ujar Mbate.

Peristiwa serupa terjadi pada 1992 silam. Seiring dengan perubahan warna danau 
tersebut, gempa bumi dahsyat mengguncang Pulau Flores yang menelan banyak 
korban jiwa. "Gempa dan tsunami itu memorakporandakan warga Flores. Tercatat 
2.000 jiwa warga jadi korban," kata Mbate.

Paulus Ligo, warga Moni berumur 56 tahun, menambahkan bahwa perubahan warna 
yang terjadi saat ini mengingatkan warga Indonesia untuk waspada. Menurutnya, 
dari pengalaman, perubahan warna Danau Kelimutu mengundang bencana besar. Ayah 
lima anak dan enam cucu itu menuturkan, sesungguhnya para penghuni kawah Tiwu 
Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Koo Fai (dua dari tiga danau di Kelimutu) marah. 
Penyebabnya, warga adat pemilik Kelimutu sudah lama tidak melakukan ritual adat 
Pati K'a Konde. "Sekarang saatnya menggelar upacara adat untuk meminta maaf 
agar bencana yang datang tidak lebih ganas dibanding sebelumnya," ungkap Ligo.

Namun, kepercayaan warga Ende itu dimentahkan Wakil Bupati Ende, Achmad 
Mochdar. Ia berharap agar masyarakat yang tinggal di Kabupaten Ende, Nusa 
Tenggara Timur, tidak mengaitkan perubahan warna air Danau Kelimutu dengan 
hal-hal yang bernuansa klenik. Sebab, ia khawatir jumlah wisatawan bakal anjlok.

***

Danau Kelimutu masuk wilayah administrasi Desa Koanara, Kecamatan Kelimutu. 
Uniknya, tiga danau di satu puncak gunung itu memancarkan warna berbeda. Air 
Danau Tiwu Ata Polo seluas 81.700 meter persegi berwarna merah, Tiwu Nua Muri 
Kooh Fai seluas sekitar 91.700 meter persegi berwarna hijau, dan Tiwu Ata Mbupu 
dengan luas sekitar 60.400 meter persegi memancarkan warna biru.

Volume air ketiga danau itu mencapai 1.292 juta meter kubik. Batas antar-danau 
adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding terjal tersebut memiliki 
sudut kemiringan 70 derajat, dengan ketinggian antara 50 sampai 150 meter. Di 
bagian timur Tiwu Ata Polo, menjulang sebuah bukit berbentuk kerucut dengan 
puncak bundar, dikenal masyarakat dengan "Buu Ria", merupakan titik tertinggi 
dari kompleks gunung Kelimutu. Lantaran berada pada ketinggian 1.690 meter di 
atas permukaan laut, Kelimutu menebarkan aroma kesejukan yang disukai turis 
lokal ataupun mancanegara.

Eko Soebowo, seorang peneliti dari Pusat Penelitian (Puslit) Geoteknologi LIPI 
mengisahkan, mengaku pernah meneliti Danau Kelimutu pada Oktober 2006. 
Penelitian selama dua pekan itu dilakukan bersama Sunaryo Wibowo (geologi 
teknik/Puslit Geoteknologi LIPI), Igan S. Sutawidjaja (geologi/Pusat 
Vulkanologi dan Mitigas ESDM), Hendra Bakti (hidrogeologi/ Puslit Geoteknologi 
LIPI), dan Dadan Suherman (kimia air/Puslit Geoteknologi LIPI).

Menurut Eko, pelestarian dan pengembangan kawasan Danau Kelimutu dapat 
dipengaruhi secara langsung oleh hilangnya sebagian kawasan akibat letusan 
gunung api dan gempa bumi. "Namun, ada juga faktor secara tidak langsung, 
seperti pemisahan kawasan dengan infrastruktur, seperti jalan, bangunan, erosi, 
kelongsoran, pencemaran udara, perubahan tata air tanah, atau kepunahan jenis 
flora dan fauna tertentu," ujarnya kepada Lufti Avianto dari Gatra.

Sebagai gunung api yang masih aktif, perubahan air kawah merupakan salah satu 
parameter yang digunakan dalam menentukan status kesiapsiagaan bencana gunung 
api. Menurut para peneliti LIPI itu, perubahan warna di ketiga danau 
menunjukkan adanya aktivitas vulkanik. Untuk melihat fenomena berubahnya warna 
Danau Kelimutu menjadi satu warna, peneliti membidangi hidrogeologi, Hendra 
Bakti, menyarankan agar pengamatan dapat ditunjang dengan data-data lain, 
"Salah satunya data seismograf," ujarnya.

Menurut Eko, tim peneliti yang dipimpinnya merekomendasikan agar pihak Balai 
Kelimutu, pemda, dan Pusat Vulkanologi itu bekerja sama untuk memantau kondisi 
danau secara kontinu sebagai peringatan dini terhadap bencana gempa bumi dan 
letusan gunung api. Selain itu, tim juga merekomendasikan untuk melakukan 
rekayasa teknis pada lereng yang rentan longsor dan penanaman pohon endemik 
pada lahan lereng yang kritis.

Dengan demikian, Hendra mengimbau agar masyarakat tidak perlu cemas dengan 
fenomena tersebut. "Itu gejala alami," ia menandaskan. Untuk menyatakan bahaya 
atau tidak, ada pihak yang berwenang, ditunjang dengan alat seismograf, untuk 
mendeteksi aktivitas vulkanologi di kawasan Danau Kelimutu.

***

Tim peneliti LIPI menyimpulkan bahwa perubahan warna ketiga danau Kelimutu 
merupakan pengaruh dari mekanisme vulkanis di kawasan tersebut. "Kalau ada 
gempa, terjadi aktivitas vulkanis yang mendesak gas-gas di dalam bumi hingga 
keluar ke permukaan. Gas itu bereaksi dan bercampur di danau. Itulah yang 
menyebabkan perubahan warna air danau," ungkapnya.

Warna air merupakan hasil refleksi kembali dari berbagai panjang gelombang 
cahaya sejumlah material yang berada dalam air yang tertangkap oleh mata. 
"Material dalam air dapat berupa jumlah zat padat terlarut (TSS) atau jumlah 
zat tersuspensi (TDS)," Eko menerangkan. Saat penelitian, tim yang melakukan 
pengamatan warna air kawah Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Koo Fai hanya bisa 
dilakukan dari bibir kawah yang berjarak sekitar 100 meter. ''Mengingat 
topografi bibir kawah sangat terjal dan muka air cukup jauh di bawah," ujarnya. 
Sedangkan untuk Kawah Tiwu Ata Mbupu, pengamatan warna bisa dilakukan di 
permukaan air.

Warna air pada kawah, terutama Kawah Tiwu Nua Muri Koo Fai, dipakai sebagai 
parameter penting dalam penentuan status aktivitas bencana. "Perubahan warna 
dari hijau menjadi putih menandakan meningkatnya aktivitas Gunung Kelimutu. 
Perubahan warna ini tidak mempunyai pola yang jelas, tergantung aktivitas 
magmanya," lelaki kelahiran Mojokerto, Jawa Timur, itu menambahkan.

Warna air di ketiga kawah berbeda-beda. Menurut Eko, air di Kawah Tiwu Nua Muri 
Koo Fai berwarna hijau muda disebabkan ion Fe2+ bereaksi dengan sulfat (SO4 
2-), membentuk endapan ferosulfat (FeSO4). Kawah Tiwu Atapolo berwarna cokelat 
kemerahan disebabkan Fe3+ membentuk senyawa ferihidroksida (Fe(OH)3) berupa 
koloid di dalam air kawah (bukan di permukaan air kawah) dan residu di dasar 
kawah.

Sedangkan Kawah Tiwu Ata Mbupu yang berwarna hijau tua kehitaman diduga 
merupakan refleksi warna tumbuh-tumbuhan/cemara gunung yang banyak ditemukan di 
sekitar bibir kawah. "Di saat tertentu, warna akan berubah menjadi cokelat 
kemerahan, sebagaimana warna daun kering cemara gunung yang mengapung di 
permukaan kawah," ujarnya.

Proses perubahan warna, menurut tim peneliti, terjadi karena pengaruh gas yang 
ada di dalam bumi. Di daerah vulkanik, ada jalur-jalur crack/korok sebagai 
saluran gas ke atas. "Bisa jadi, perubahan yang sekarang menjadi satu warna, 
kemungkinan gas dari bawah tanah yang masuk ke tiga kawah tersebut berasal dari 
satu sumber," ungkap Hendra.

Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu, Gatot Soebiantoro, membenarkan perubahan 
warna air di Danau Kelimutu, terutama kawah Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Koo 
Fai sejak Oktober 2009. Menurut Gatot, perubahan warna di ketiga kawah jelas 
sudah diteliti oleh tim dari LIPI dan terbukti merupakan dampak dari aktivitas 
vulkanologi. "Karena itu, para pengunjung Kelimutu jangan terpengaruh dengan 
yang isu bakal ada musibah," katanya.

Heru Pamuji dan Anthonius Un Taolin
[Lingkungan, Gatra Nomor 17 Beredar Kamis, 4 Maret 2010] 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke